Cross Sectional
Studi epidemiologi yang mempelajari
prevalensi, distribusi, maupun hubungan penyakit dan paparan dengan mengamati
status paparan, penyakit atau outcome lain secara serentak pada individu-
individu dari suatu populasi pada
suatu saat. Dengan demikian studi cross sectional tidak mengenal adanya dimensi
waktu, sehingga mempunyai kelemahan dalam menjamin bahwa paparan mendahului
efek (disease) atau sebaliknya. Namun studi ini mudah dilakukan dan
murah, serta tidak memerlukan waktu follow up. Umumnya studi cross sectional
dimanfaatkan untuk merumuskan hipotesis
hubungan kausal yang akan diuji dalam studi analitiknya (kohort atau kasus
control)
Case Control / Kasus Kontrol
Kasus Kontrol/case control adalah
studi analitik yang menganalisis hubungan kausal dengan menggunakan logika
terbalik, yaitu menentukan penyakit (outcome) terlebih dahulu kemudian
mengidentifikasi penyebab (faktor risiko). Riwayat paparan dalam penelitian ini
dapat diketahui dari register medis atau berdasarkan wawancara dari responden
penelitian. Kelemahan dari studi ini adalah ketika responden penelitian sulit
mengingat kembali riwayat paparan yang dialami terutama jika paparan sudah
dilewati selama bertahun-tahun, sehingga dalam penelitian kasus control sangat
rawan recall bias, disamping bias seleksi. Namu kelebihan dari studi ini yaitu
waktu penelitian relative singkat, murah dan cocok untuk meneliti penyakit
langka dan memiliki periode laten yang panjang.
Cohort / Kohor
Studi kohor adalah studi
observasional yang mempelajari hubungan antara paparan dan penyakit dengan
memilih dua atau lebih kelompok studi berdasarkan status paparan kemudian
diikuti (di- follow up) hingga periode tertentu sehingga dapat diidentifikasi
dan dihitung besarnya kejadian penyakit. Apabila periode induksi yaitu kejadian
penyakit dapat diamati dalam waktu yang panjang maka studi kohor rawan terhadap
bias penarikan responden ( banyak drop out dari observasi), perlu dana yang
besar dan waktu yang panjang. Studi kohor mempunyai kekuatan dalam membuktikan
inferensi kausa dibanding studi observasional lainnya, didapatkan angka kejadian
penyakit (incidence rate) secara langsung, serta cocok untuk meneliti paparan
yang langka.
CONTOH KASUS
Suatu penelitian ingin mengetahui beberapa
faktor yang mempengaruhi terjadinya penyakit thypoid pada Anak-anak. Beberapa
faktor yang diduga sebagai faktor risiko terjadinya penyakit Thypoid adalah
Kebiasaan jajan di sekolah dan kebiasaan cuci tangan sebelum makan. Jelaskan
bagaimana penelitian tersebut akan dilakukan dengan desain penelitian yang
berbeda;
1. Case Control
2. Cohor
3. Cross sectional
Untuk memudahkan kita mengunakan symbol E( exposure) dan D (disease)
Dimana :
D+ : Thypoid
D- : Tidak Thypoid
E+ : Tidak cuci tangan dan jajan
E- : Cuci tangan dan jajan
1. Case Control
2. Cohor
3. Cross sectional
Untuk memudahkan kita mengunakan symbol E( exposure) dan D (disease)
Dimana :
D+ : Thypoid
D- : Tidak Thypoid
E+ : Tidak cuci tangan dan jajan
E- : Cuci tangan dan jajan
1. Case Control
Desain studinya dapat digambarkan
sebagai berikut:
Pada desain studi case control kita menentukan disease /
penyakitnya lebih dulu baru menganalisis penyebab atau paparannya (exposure).
Dalam hal ini kita menentukan adanya penyakit Thypoid atau tidak kemudian
menganalisis penyebab terjadinya penyakit Thypoid, apakah karena dipengaruhi
jajan dan tidak cuci tangan atau jajan dan cuci tangan.
2. Cohor
Desain studinya dapat digambarkan
sebagai berikut :
Pada disain cohor berdasarkan status paparan ( Exposure)
kemudian diikuti (di- follow up) hingga periode tertentu sehingga dapat
diidentifikasi dan dihitung besarnya kejadian penyakit (Disease). Dalam hal ini
berdasarkan status paparan ( jajan dan cuci tangan atau jajan dan tidak cuci
tangan) baru kemudian diamati dari paparan-paparan tersebut mana yang
menyebabkan penyakit Thypoid dan mana yang tidak menyebabkan penyakit Thypoid
3. Cross sectional
Desain studinya dapat digambarkan
sebagai berikut :
Pada disain Cross Sectional mempelajari hubungan penyakit
dan paparan dengan mengamati status paparan, penyakit atau outcome lain, jadi
pada disain ini juga mencoba mengamati hubungan paparan dan penyakit yang ditimbulkan
dengan menggunaakan beberapa kombinasi paparan. Beberapa options, yang dapat
diambil dari tabel silang diatas yaitu:
- 1E+D+ = tidak cuci tangan dan jajan + Thypoid
- 2E+D- = cuci tangan dan jajan + tidak Thypoid
- 3E- D+ =cuci tangan dan jajan + Thypoid
- 4E- D- = cuci tangan dan jajan + tidak Thypoid
EPIDEMIOLOGI PEMBERANTAS
PENYAKIT MENULAR dan NON
MENULAR
KASUS :
Suatu penelitian ingin mengetahui
beberapa faktor yang mempengaruhi terjadinya penyakit thypoid pada anak-anak.
Beberapa faktor yang diduga sebagai faktor risiko terjadinya penyakit thypoid
adalah kebiasaan cuci tangan sebelum makan dan kebiasaan jajan di sekolah.
Jelaskan bagaimana penelitian tersebut akan dilakukan dengan desain penelitian
yang berbeda. (Case Control, Cohort, dan Cross Sectional).
ANALISIS KASUS :
Case control
Case control dalam desain studi epidemiologi adalah studi analitik yang
menganalisis hubungan kausal dengan menggunakan logika terbalik, yaitu
menentukan penyakit (outcome) terlebih dahulu dan kemudian
mengidentifikasi penyebab (faktor risiko). Studi case control biasanya
dilakukan dengan memakai kelompok kontrol sehingga disebut sebagai studi kasus
kontrol atau case control study dan bersifat retrospektif. Di dalam
studi kasus kontrol ini dimulai dengan kasus atau sampel yang telah ada atau
dengan kata lain sudah terjadi dan sudah tersedia) dimana digunakan sampel
kelompok kontrol sebagai pembanding. Kelompok kontrol tersebut terdiri dari
sekumpulan orang yang bukan kasus (bukan penderita penyakit yang bersangkutan)
yang ciri-cirinya (dalam hal umur, jenis kelamin, ras, tingkat sosial, dll).
Pada case control, dimulai dari pemaparan pada masa lampau untuk melacak
riwayat pengalamannya.
Pada case control, penelitian
dimulai dengan menentukan populasi. Populasi penelitian diambil dari sumber
yang sama sehingga memiliki karakteristik yang sebanding kecuali status
penyakitnya. Membagi sasaran penelitian menjadi 2 populasi yaitu populasi kasus
dan populasi control (penyakit thypoid). Peneliti mengukur paparan (penyakit
thypoid) yang dialami subjek pada waktu yang lalu (retrospektif) dengan cara
wawancara, memeriksa catatan medic, dll. Untuk Kasus thypoid sebagai
disease(D) yang terjadi pada anak-anak maka populasi dengan kasus atau penyakit
Thypoid memiliki paparan(E) kebiasaan jajan di sekolah dan tidak mencuci
tangan, tidak jajan disekolah dan mencuci tangan. Sedangkan pada kelompok
kontrol memiliki kebiasaan tidak jajan di sekolah dan sering cuci tangan untuk
yang tidak terkena resiko penyakit thypoid.
Penelitian retrospektif sering
disebut juga penilitian kasus control, ekspos factor dan untuk memudahkan
agar tidak terjadi kesalahan maka disarankan untuk menggunakan istilah trohok
atau trohoc (Alvan Feinstein) yaitu cohort yang dibaca dari
belkang sesui dengan proses perjalanna penyakit yang diikuti, sedangkan pada
penelitian kohort proses diikuti kedepan artinya dari factor resiko mencari
insidensi, sedangkan penelitian retrospektif mengikuti proses ke belakang dari
penderita pada keadaan awal untuk mencari factor resiko.
Studi case control adalah rancangan
penelitian epidemiologi yang mempelajari hubungan antara paparan (faktor
penelitian) dan penyakit, dengan cara membandingkan kelompok kasus dan kelompok
kontrol berdasarkan status paparannya. Ciri-ciri studi case control adalah
pemilihan subyek berdasarkan status penyakit, untuk kemudian dilakukan
pengamatan apakah subyek mempunyai riwayat terpapar faktor penelitian atau
tidak. Karakteristik case control antara lain :
- Merupakan penelitian observasional yang bersifat retrospektif
- Penelitian diawali dengan kelompok kasus dan kelompok kontrol
- Kelompok kontrol digunakan untuk memperkuat ada tidaknya hubungan sebab-akibat
- Terdapat hipotesis spesifik yang akan diuji secara statistik
- Kelompok kontrol mempunyai risiko terpajan yang sama dengan kelompok kasus
- Pada penelitian kasus-kontrol, yang dibandingkan ialah pengalaman terpajan oleh faktor risiko antara kelompok kasus dengan kelompok kontrol
- Penghitungan besarnya risiko relatif hanya melalui perkiraan melalui perhitungan odds ratio
Studi case control bersifat
retrospektif, yang maksudnya adalah jika peneliti
menentukan status penyakit dulu, lalu
mengusut riwayat paparan ke belakang. Arah pengusutan
seperti itu bisa dikatakan “anti-logis”, sebab peneliti mengamati
akibatnya dulu lalu meneliti penyebabnya,
sementara yang terjadi sesungguhnya penyebab
selalu mendahului akibat.
Pada studi kasus
kontrol, peneliti menggunakan kasus-kasus yang
sudah ada dan memilih kontrol (non-kasus)
yang sebanding. Lalu peneliti mencari informasi status
(riwayat) paparan masing-masing subjek kasus dan kontrol. Jadi pada studi
kasus kontrol peneliti tidak bisa menghitung risiko dan
risiko relatif (RR). Sebagai ganti risiko,
pada studi kasus kontrol peneliti menggunakan odd. What
is odd? Odd adalah probabilitas dua peristiwa yang berkebalikan, misalnya sakit
verus sehat, mati versus hidup, terpapar versus tak terpapar.
Pada studi kasus kontrol, odd pada
kasus adalah rasio antara jumlah kasus yang terpapar dibagi
tidak terpapar. Odd pada kontrol adalah rasio antara jumlah kontrol terpapar
dibagi tidak terpapar. Jika odd pada kasus dibagi dengan odd pada kontrol,
diperoleh Odds ratio (OR). OR digunakan pada studi kasus
kontrol sebagai pengganti RR.
Jadi penelitian retrospektif dapat
diartikan sebagai suatu penelitian dengan pendekatan longitudinal yang bersifat
observasional mengikuti perjalanan penyakit ke arah belakang (retrospektif)
untuk menguji hipotesis spesifik tentang adanya hubungan pemaparan
terhadap factor resiko dimasa lalu dengan timbulnya penyakit. Dengan kata
lain, mengikuti perjalanan penyakit dari akibat ke sebab dengan
membandingkan besarnya pemaparan factor resiko di masa lalu antara kelompok
kasus dengan kelompok control sebagai pembanding. Hal ini menunjukkan bahwa
pada awalnya penelitian terdiri dari kelompok penderita (kasus) dan kelompok
bukan penderita yang akan diteliti sebagai control.
Uraian diatas secata skematis dapat
digambarkan sebagai berikut:
YANG LALU
SAAT INI
Mencari pemaparan factor resiko
retrospektif
kelompok kasus dan control
SEBAB
AKIBAT
Kelompok kasus atau kelompok
penderita ialah kelompok individu yang menderita penyakit yang akan diteliti
dan ikut dalam proses penelitian sebagai subjek studi. Hal ini penting
dijelaskan karena tidak semua orang yang memenuhi criteria penyakit yang akan
diteliti bersedia mengikuti penelitian dan tidak semua penderita memenuhi
criteria yang telah ditentukan.
Kelompok control ialah kelompok individu
yang sehat atau tidak menderita penyakit yang akan diteliti tetapi memiliki
peluang yang sama dengan kelompok kasus untuk terpajan oleh factor rresiko yang
diduga sebagai penyebab timbulnya penyakit dan bersedia menjadi subjek studi
1.
Ciri- Ciri Penelitian Kasus Kontrol/Retrospektif
Penelitian retrospektif memiliki
ciri- ciri sebagai berikut:
a.
Penelitian ini merupakan penelitian yang bersifat observasional
b.
Diawali dengan kelompok penderita dan bukan penderita
c.
Terdapat kelompok control
d.
Kelompok control harus memliki resiko terpajan oleh factor resiko yang sama
dengan kelompok kasus
e.
Membandingkan besarnya pengalaman terpajan oleh factor resiko antara kelompok
kasus dan kelompok control
f.
Tidak mengukur insidensi
2.
Keuntungan Dan Kerugian Penelitian Kasus Kontrol
Penelitian case control memiliki
beberapa keuntungan sebagai berikut:
a.
Sangat sesuai untuk penelitian penyakit yang jarang tterjadi atau penyakit
dengan fase laten yang panjang atau penyakit yang sebelumnya tidak pernah ada
b.
Pelaksanaannya relative lebih cepat jika dibandingkan dengan cohort
karena pada penelitian case control diawali dengan penderita yang berarti
penyakit yang diteliti telah timbul, sedangkan pada penelitian cohort,
insidensi penyakit yang akan diteliti harus menunggu cukup lama.
c.
Sampel yang dibutuhkan untuk penelitian case control lebih kecil dari pada
penelitian cohort walaupun digunakan beberapa control untuk satu kasus.
d.
Biaya penelitiannya relative lebih kecil dibandingkan dengan penelitian cohort
karena sampel yang lebih sedikit dan waktu yang lebih singkat
e.
Tidak dipengaruhi oleh factor etis seperti penelitian aksperimen
f.
Data yang ada mungkin dapat dimanfaatkan terutama bila penelitian dilakukan di
rumah sakit
g.
Kemungkinan untuk mengadakan penelitian terhadap beberapa factor yang diduga
sebagai factor penyebab
Disamping beberapa keuntungan
tersebt, terdapat pula beberapa kerugian sebagai berikut:
a.
Kesalahan pemilihan kasus yang disebabkan kesalahan dalam diagnose
b.
Kesalahan dalam pemilihan control
c.
Berpotensi timbulnya bias informasi
d.
Validitas adat yang diperoleh tidak dapat dilakukan
e.
Pengendalian terhadap factor perancu (confounding factor)sulit dilakukan
dengan lengkap
f.
Perhitungan resiko relative hanya berupa erkiraan
g.
Tidak didapat dilakukan untuk penelitian evaluasi hasil penelitian
3.
Pengukuran Odd Rasio (=psi)
Pengukuran resiko relatif pada
penelitian case control tidak dapat dilakukan secara langsung tetapi hanya
berupa perkiraan karena pada penelitian case control tidak mengukur insidensi
tetapi hanya mengukur besarnya paparan. Secara skematis dapat disajikan dalam
bentuk tabel berikut
|
Penyakit
|
||||
|
Pemaparan
|
Positif
|
Negative
|
Jumlah
|
Odds penyakit
|
|
Positif
|
A
|
B
|
m1
|
a/b
|
|
Negative
|
C
|
D
|
m2
|
c/d
|
|
Jumlah
|
n1
|
n2
|
N
|
|
Odds pemaparan a/c b/d
Odds ratio () (a/b)/(c/d) atau ad/bc
Contoh:
Suatu penelitian tentang hubungan
karsinoma paru- paru dengan rokok yang dilakukan secara retrospektif dengan
mengambil 100 orang penderita Ca paru- paru sebagai kasus dan 100 orang dengan
penyakit lain yang tidak ada hubungannya dengan Ca paru- paru sebagai kelompok
control. Kedua kelompok disamakan berdasarkan umur, jenis kelamin, dan social
ekonomi
Hasilnya yang diperoleh adalah pada
kelompok kasus dengan 90 orang yang merokok, sedangkan pada kelompok control
terdapat 40 orang yang merokok. Hal ini dapat digambarkan secara skematis dalam
bentuk tabel berikut:
|
Pajanan
|
Kasus
|
Control
|
|
Perokok
|
90
|
40
|
|
Bukan perokok
|
10
|
60
|
|
Jumlah
|
100
|
100
|
Rate pemaparan pada kelompok kasus=
90/100= 90%
Rate pemaparan pada kelompok control
= 40/100= 40%
Odds ratio= (90×60)/(40x 10)=
5400/500= 10,8
Ini berarti bahwa diperkirakan
resiko bagi perokok terkena karsinoma paru- paru adalah 10,8 kali lebih besar
dibandingkan dengan bukan perokok.
(b) Cohort
Studi kohort adalah studi
observasional yang mempelajari hubungan antara paparan dan penyakit dengan
memilih dua atau lebih kelompok studi berdasarkan status paparan kemudian
diikuti (di follow up) hingga periode waktu tertentu sehingga dapat
diidentifikasi dan dihitung besarnya kejadian penyakit. Apabila periode induksi
yaitu kejadian penyakit dapat diamati dalam waktu yang panjang maka studi
kohort rawan terhadap bias penarikan responden (banyak yang drop out
dari observasi), perlu dana yang besar dan waktu yang panjang. Namun studi
kohort mempunyai kekuatan dalam membuktikan inferensi kausa dibanding studi
observasional lainnya, didapatkan angka incidence rate secara langsung, serta
cocok untuk memeliti paparan yang langka.
Pada desain studi cohort, penelitian
memiliki hubungan antara paparan (jajan di sekolah dan kebiasaan cuci tangan)
dan penyakit (thypoid), dengan memilih 2 (atau lebih) kelompok-kelompok studi
berdasarkan perbedaan status paparan, kemudian mengikuti sepanjang suatu
periode waktu untuk melihat berapa banyak subjek dalam masing-masing kelompok
mengalami penyakit.
c)
Cross sectional
Cross sectional adalah studi epidemiologi yang mempelajari prevalensi,
distribusi, dan hubungan penyakit dan paparan dengan mengamati status paparan,
penyakit atau outcome lain secara serentak pada individu-individu dari suatu
populasi pada satu saat. Studi cross sectional tidak mengenal adanya
dimensi waktu sehingga mempunyai kelemahan dalam menjamin bahwa paparan
mendahului efek (disease). Dalam studi ini memiliki kekuatan dalam
teknisnya, yaitu mudah dilakukan, dan murah, tidak memerlukan waktu follow up.
Studi ini dimanfaatkan untuk merumuskan hipotesis hubungan kausal yang akan
diuji dalam studi analitik lainnya. Studi ini mengamati paparan dan penyakit
pada waktu kurang lebih bersamaan (non-directional). Di dalam penelitian
dengan desain studi Cross sectional untuk mengetahui faktor yang diduga
sebagai faktor risiko terjadinya penyakit Thypoid pada anak-anak dapat
dilakukan dengan menentukan sampel yang dilakukan dengan pencuplikan random
(random sampling) agar deskripsi dalam sampel mewakili (representatif) populasi
sasaran.
Pada populasi dilakukan pencuplikan
(random), lalu dikelompokkan: kelompok terpapar dan berpenyakit Thypoid
(E+ D+), terpapar dan tidak berpenyakit Thypoid (E+ D-), tak
terpapar dan berpenyakit Thypoid (E- D+), tak terpapar dan tak
berpenyakit Thypoid (E- D-).
Studi cross sectional adalah suatu
penelitian yang menggunakan rancangan atau desain observasi dengan ciri-ciri
sebagai berikut :
1.
Semua pengukuran variabel (dependen dan indpenden) yang diteliti dilakukan pada
waktu yang sama
2.
Tidak ada periode follow-up
3.
Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan prevalensi penyakit tertentu
4.
Pada penelitian ini tidak terdapat kelompok pembanding
5.
Hubungan sebab- akibat hanya merupakan perkiraan saja
6.
Penelitian ini dapat menghasilkan hipotesis
7.
Merupakan penelitian pendahuluan dari penelitian analitis
Cross sectional dapat dilakukan
dimana saja sesuai dengan tujuan penelitian dan subjeknya baik komunitas,
institusi, klinik, dll. Cross sectional berguna untuk mendeskripsikan
penyakit dan paparan pada populasi pada satu titik waktu tertentu. Data
yang dihasilkan dari studi potong-lintang adalah data prevalensi.
Tetapi studi potong-lintang dapat juga digunakan
untuk meneliti hubungan paparan-penyakit, meskipun
bukti yang dihasilkan tidak kuat untuk
menarik kesimpulan kausal antara paparan
dan penyakit, karena tidak dengan desain studi ini
tidak dapat dipastikan bahwa paparan mendahului penyakit.
Studi potong lintang
(cross sectional) bersifat non-directional sebab
hubungan antara paparan dan penyakit pada
populasi diteliti pada satu waktu yang sama.
Cara studi potong lintang meneliti hubungan
antara paparan dan penyakit:
1.
Membandingkan prevalensi penyakit pada berbagai subpopulasi yang berbeda status
paparannya;
2.
Membandingkan status paparan pada berbagai
subpopulasi yang berbeda status penyakitnya.
Frekuensi penyakit dan paparan pada
populasi diukur pada saat yang sama, maka data
yang diperoleh merupakan prevalensi (kasus
baru dan lama), bukan insidensi (kasus baru
saja), sehingga studi potong lintang disebut juga studi
prevalensi, atau survei. Pada studi potong lintang, karena bersifat
“non-directional”, peneliti tidak bisa menghitung insidensi
(kasus baru), yang menunjukkan risiko terjadinya
penyakit dalam suatu periode waktu. Jadi
pada studi potong lintang, peneliti tidak bisa
menghitung risiko dan risiko relatif (RR).
Data yang diperoleh studi potong lintang
adalah prevalensi, terdiri atas kasus baru
dan lama. Prevalensi adalah jumlah kasus yang ada di suatu saat
dibagi dengan jumlah populasi studi. Jika prevalensi penyakit
pada kelompok terpapar dibagi dengan prevalensi
penyakit pada kelompok tak terpapar, maka
diperoleh Prevalence Ratio (PR). Demikian pula
jika odd penyakit pada kelompok terpapar
dibagi dengan odd penyakit pada kelompok tak terpapar, diperoleh
Prevalence Odds Ratio (POR).
1.
Tujuan Studi Cross Sectional
Secara garis besar, tujuan
penelitian cross sectional adalah sebagai berikut
a.
Penelitian cross sectional digunakan untuk mengetahui masalah kesehatan
masyarakat di suatu wilayah, misalnya suatu sampling survey kesehatan untuk
memperoleh data dasar untuk menetukan strategi pelayanan kesehatan atau
digunakan untuk membandingkan keadaan kesehatan masyarakat disuatu saat
b.
Penelitian dengan pendekatan cross sectional digunakan untuk mengetahuiprevalensi
penyakit tertentu di suatu daerah tetapi dalam hal- hal tertentu
prevalensi penyakit yang ditemukan dapat digunakan untuk mengadakan estimasi
insidensi penyakit tersebut. misalnya penyakit yang menimbulkan bekas
sepertivariola karena dari bekas yang ditinggalkan dapat diperkirakan insidensi
penyakittersebut dimasa lalu tetapi akan sulit memperkirakan insidensi
berdasarkan bekas yang ditinggalkan bila bekas tersebut tidak permanen.
c.
Penelitian cross sectional dapat digunakan untuk memperkirakan adanya
hubungan sebab akibat bila penyakit itu mengalami perubahan yang jelas dan
tetap, misalnyapenelitian hubungan antara golongan darah dengan karsinoma
endometrium
Bila perubahan yang terjadi tidak
jelas dan tidak tetap seperti penyakit yang menimbulkan perubahan
biokimia atau perubahan fisiologi dilakukan penelitian cross sectional
karena pada penelitian ini sebab dan akibat ditentukan pada waktu yang sama dan
antara sebab akibat dapat saling mempengaruhi misalnya hubungan antara
hipertensi dengan tingginya kadar kolesterol darah.
d.
Penelitian cross sectional dimaksudkan untuk memperoleh hipotesis
spesifik yang akan diuji melalui penelitian analitis, misalnya dalam suatu
penelitian cross sectional di suatu daerah ditemukan bahwa sebagian
besar penderita diare menggunakan air kolam sebagai sumber air minum. Dari
hasil ini belum dapat dikatakan bahwa air kolam tersebut factor resiko
timbulnya diare, tetapi penemuan tersebut hanya merupakan suatu perkiraan atau
hipotesis yang harus diuji melalui penelitian analitis.
Ukuran-ukuran epidemiologi
a) Rasio
Rasio adalah ukuran yang
membandingkan kuantitas peristiwa (A) sebagai numerator dan kuantitas peristiwa
lainnya (B) sebagai denominator. Rasio menyatakan perbandingan antara kedua hal
yang saling terpisah (antara numerator dan denominator tidak ada hubungannya).
Rasio dinyatakan dengan persamaan :
b) Proporsi
Proporsi adalah ukuran yang
membandingkan kuantitas peristiwa (A) sebagai numerator dan kuantitas lainnya
sebagai denominator yang mengandung kuantitas numerator (A + B). Dalam studi
epidemiologi proporsi digunakan untuk membandingkan suatu peristiwa (event)
dengan jumlah penduduk yang mungkin terkena peristiwa tersebut (population at
risk). Nilai proporsi tidak dibatasi oleh periode atau waktu (sekedar
membandingkan). Nilai proporsi biasanya dinyatakan dalam persen (%) atau permil
(o/oo). Proporsi dinyatakan dengan persamaan :
K = konstanta (faktor pengali)
c) Rate
Rate adalah ukuran proporsi yang
memasukkan unsur periode waktu pengamatan dalam denominatornya. Sehingga
persamaam rate dapat ditulis dengan persamaan :
Keterangan :
ΣA = jumlah nominator, peristiwa A
ΣB = Jumlah denominator, peristiwa B
Rate disebut juga laju, yaitu
merupakan ukuran yang menunjukkan kecepatan suatu kejadian.
Cara pengukuran kejadian suatu
penyakit dalam masyarakat
a) Insidensi
Insidensi digunakan sebagai alat
ukur rate dari kasus baru penyakit, gangguan, atau cedera yang terjadi dalam
satu populasi. Istilah insidensi terkadang digunakan secara bergantian dengan
istilah angka insidensi. Insidensi adalah jumlah kasus baru suatu penyakit yang
muncul dalam suatu periode waktu dibandingkan dengan unit populasi tertentu
dalam periode waktu tertentu.
Prinsip-prinsip penggunaan angka
insidensi
- Angka insidensi dapat digunakan untuk mengestimasi probabilitas atau risiko terkena suatu penyakit selama periode waktu tertentu.
- Jika angka insidensi meningkat, kemungkinan atau probabilitas risiko terkena penyakit juga meningkat.
- Waktu- jika angka insidensi secara konsisten lenih tinggi selama kurun waktu tertentu dalam satu tahun (seperti saat musim dingin), risiko terkena penyakit pada saat itu meningkat; misalnya, angka influenza paling tinggi terjadi saat musim dingin
- Orang- Jika angka insidensi secara konsisten lebih tinggi di antara mereka yang memiliki faktor-faktor gaya hidup tertentu, risiko terkena penyakit akan meningkat di kalangan kelompok itu. Misalnya kasus kanker paru meningkat dikalangan perokok.
b) Risiko
Risiko adalah probabilitas
terjadinya suatu penyakit, cedera, kondisi, kematian atau kejadian terkait
lainnya yang mungkin menimbulkan hasil yang merugikan dan yang dapat
mempengaruhi status kesehatan suatu populasi yang memiliki kebiasaan negatif.
(1) Risk ratio
Risk ratio adalah rasio dari dua
risiko yang terpisah. Risk ratio juga disebut sebagai rasio insidensi kumulatif
dan berkaitan erat dengan rate ratio. Risk ratio berasal dari perbandingan
probabilitas pengembangan suatu penyakit. Risk ratio juga digunakan jika
periode waktu penyakit memiliki durasi yang sudah pasti.
(2) Relative risk
Relative riks adalah ukuran
tradisional yang digunakan untuk mengkaji asosiasi di antara karakteristik
kelompok penyakit tertentu. Relative risk adalah rasio dari angka insidensi
penyakit diantara mereka yang terpajan suatu penyakit dibandingkan dengan angka
mereka yang tidak terpajan penyakit itu. Rasio probabilitas terkena penyakit
atau kematian yang terjadi di antara mereka yang terpajan suatu penyakit
dibandingkan dengan risiko mereka yang tidak terpajan penyakit tersebut adalah
hal yang berkaitan dengan relative risk.
Dalam relative risk ada dua asumsi
yang digunakan. Asumsi 1 adalah frekuensi penyakit atau kejadian dalam suatu
populasi harus kecil. Asumsi 2 adalah kasus-kasus penyakit atau kejadian harus
mewakili kasus yang ada didalam populasi dan kontrol studi merupakan perwakilan
dari mereka yang bukan kasus.
(3) Attributable risk
Attributable risk adalah angka
penyakit pada orang yang terpajan yang dapat secara langsung dihubungkan dengan
pajanan dari penyakit tersebut. Attributable risk dihitung dengan cara
mengurangi angka insidensi penyakit pada individu yang tidak terpajan dari
individu yang terpajan. Attributable risk adalah risiko perorangan atau
selisih/perbedaan risiko.
ρ= Proporsi populasi total yang
memperlihatkan karakteristik penyakit.
r= Relative risk
c) Prevalensi
Prevalensi adalah jumlah kasus
penyakit, prang yang terinfeksi, atau kondisi, yang ada pada satu waktu
tertentu, dihubungkan dengan besar populasi darimana kasus itu berasal,
misalnya, jumlah kasus campak dalam sebuah populasi pada awal Juli. Insidensi
dimasikkan jumlah kasus baru sementara prevalensi tidak. Prevalensi setara
dengan insidensi dikalikan dengan rata-rata durasi kasus.
Ada beberapa faktor yang
mempengaruhi prevalensi di dalam suatu populasi:
- Penyakit baru muncul di populasi sehingga menyebabkan angka insidensi meningkat. Jika insidensi meningkat, prevalensi juga meningkat.
- Durasi penyakit mempengaruhi prevalensi. Jika penyakit memiliki durasi yang panjang, prevalensi juga akan lebih lama berada pada posisi yang tinggi.
- Intervensi dan perlakuan mempunyai efek pada prevalensi. Semakin banyak populasi yang sehat dan tidak berpenyakit akan menurunkan prevalensi penyakit akut dan karena orang yang sehat menjadi semakin tangguh, durasi kehidupan akan meningkat demikian pula dengan harapan hidup populasi.
Prevalensi berarti semua. Dalam
angka prevalensi, dikaji jumlah semua orang di dalam kelompok populasi yang mengalami
penyakit pada satu waktu tertentu. Angka prevalensi sebanding dnegan angka
insidensi dikalikan dengan rata-rata durasi penyakit. Prevalensi dipengaruhi
oleh dua elemen yaitu jumlah individu yang terkena penyakit di masa lalu dan
lama atau durasi penyakit.
Prevalensi periode mencakup total
individu yang pernah mengalami penyakit yang menjadi sorotan pada satu titik
dalam periode waktu tertentu. Prevalensi periode dimulai pada satu titik waktu
dan berhenti pada satu titik waktu. Semua orang dengan penyakit yang telah
diderita pada periode waktu sebelumnya atau menjadi sakit pada akhir periode
waktu dimasukkan dalam perhitungan. Perhitungan juha memasukkan kasus baru yang
terjadi selama periode waktu studi, begitu pula dengan kekambuhan.
A. KRITERIA KAUSALITAS MENURUT BRADFORD HILLBradford Hill (1897-1991) membuat kriteria dari suatu faktor sehingga faktor tersebut dapat dikatakan sebagai faktor yang mempunyai hubungan kausal. Kriteria tersebut adalah :
1. Kekuatan asosiasi
Semakin kuat asosiasi, maka emain sedikit hal tersebut dapat merefleksikan pengaruh dari faktor-faktor etiologis lainnya. Kriteria ini membutuhkan juga presisi statistik (pengaruh minimal dari kesempatan) dan kekakuan metodologis dari kajian kajian yang ada terhadap bias (seleksi, informasi, dan kekacauan).
2. Konsistensi
Replikasi dari temuan oleh investigator yang berbeda, saat yang berbeda, dalam tempat yang berbeda, dengan memakai metode berbeda dan kemampuan untuk menjelaskan dengan meyakinkan jika hasilnya berbeda.
3. Spesifisitas dari asosiasi
Ada hubungan yang melekat antara spesifisitas dan kekuatan yang mana semakin akurat dalam mendefinisikan penyakit dan penularannya, semakin juat hubungan yang diamati tersebut. Tetapi, fakta bahwa satu agen berkontribusi terhadap penyakit-penyakit beragam bukan merupakan bukti yang melawan peran dari setiap penyakit.
4. Temporalitas
Kemampuan untuk mendirikan kausa dugaan bahka pada saat efek sementara diperkirakan.
5. Tahapan biologis
Perubahan yang meningkat dalam konjungsi dengan perubahan kecocokan dalam penularan verifikasi terhadap hubungan dosis-respon konsisten dengan model konseptual yang dihipotesakan.
6. Masuk akal
Lebih siap untuk menerima kasus dengan hubungan yang konsisten dengan pengetahuan dan keyakinan kami secara umum. Telah jelas bahwa kecenderungan ini memiliki lubang-lugang kosong, tetapi akal sehat selalu saja membimbing kita.
7. Koherensi
Bagaimana semua observasi dapat cocok dengan model yang dihipotesakan untuk membentuk gambaran yang koheren?
8. Eksperimen
Demonstrasi yang berada dalam kondisi yang terkontrol merubah kausa bukaan untuk hasil yang merupakan nilai yang besar, beberapa orang mungkin, mengatakannya sangat diperlukan, untuk menyimpulkan kausalitas.
9. Analogi
Lebih siap lagi untuk menerima argumentasi-argumentasi yang menyerupai dengan yang kami dapatkan.
B. UKURAN-UKURAN EPIDEMIOLOGI
Cara mengukur frekwensi masalah kesehatan yang dapat dipergunakan dalam Epidemiologi sangat beraneka ragam, karena tergantung dari macam masalah kesehatan yang ingin diukur atau diteliti. Secara Umum Ukuran – ukuran dalam Epidemiologi dapat dibedakan atas :
1. Untuk Mengukur Masalah Penyakit ( Angka Kesakitan / Morbiditas )
Setiap gangguan di dalam fungsi maupun struktur tubuh seseorang dianggap sebagai penyakit. Penyakit, sakit, cedera, gangguan dan sakit, semuanya dikategorikan di dalam istilah tunggal MORBIDITAS.
Morbiditas merupakan derajat sakit, cedera atau gangguan pada suatu populasi. Morbiditas juga merupakan suatu penyimpangan dari status sehat dan sejahtera atau keberadaan suatu kondisi sakit. Morbiditas juga mengacu pada angka kesakitan, yaitu jumlah orang yang sakit dibandingkan dengan populasi tertentu yang sering kali merupakan kelompok yang sehat atau kelompok yang beresiko.
Di dalam Epidemiologi, ukuran utama morbiditas adalah angka insidensi & prevalensi dan berbagai ukuran turunan dari kedua indikator tersebut. Setiap kejadian penyakit, kondisi gangguan atau kesakitan dapat diukur dengan angka insidensi dan angka prevalensi.
a. INSIDENSI
Adalah gambaran tentang frekwensi penderita baru suatu penyakit yang ditemukan pada suatu waktu tertentu di satu kelompok masyarakat. Untuk dapat menghitung angka insidensi suatu penyakit, sebelumnya harus diketahui terlebih dahulu tentang:
Data tentang jumlah penderita baru.
Jumlah penduduk yang mungkin terkena penyakit baru (Population at Risk ).
Secara umum angka insiden ini dapat dibedakan menjadi 3 macam, yaitu :
1). Incidence Rate
Yaitu jumlah penderita baru suatu penyakit yang ditemukan pada suatu jangka waktu tertentu (umumnya 1 tahun) dibandingkan dengan jumlah penduduk yang mungkin terkena penyakit baru tersebut pada pertengahan jangka waktu yang bersangkutan.
Yang dimaksud kasus baru adalah perubahan status dari sehat menjadi sakit. Periode waktu adalah jumlah waktu yang diamati selama sehat hingga menjadi sakit.
Rumus incidence rate=jumlah penderita baru : jumlah penduduk yg mungkin terkena penyakit x K
K = Konstanta ( 100%, 1000 ‰)
Manfaat Incidence Rate adalah :
Mengetahui masalah kesehatan yang dihadapi
Mengetahui resiko untuk terkena masalah kesehatan yang dihadapi
Mengetahui beban tugas yang harus diselenggarakan oleh suatu fasilitas pelayanan kesehatan.
2). Insidens kumulatif (Incidence Risk)
Probabilitas individu berisiko berkembang menjadi penyakit dalam periode waktu tertentu.
Berarti rata-rata risiko seorang individu terkena penyakit
Denominator haruslah terbebas dari penyakit pada permulaan periode (observasi atau tindak lanjut)
Subyek bebas dari penyakit pada awal studi
Subyek potensial untuk sakit
Sedikit atau tidak ada kasus yang lolos dari pengamatan karena kematian, tidak lama berisiko, hilang dari pengamatan.
Tidak berdimensi, dinilai dari nol sampai satu
Merujuk pada individu
Mempunyai periode rujukan waktu yang ditentukan dengan baik
Incidence risk=jml kasus insidens selama periode waktu tertentu : jml orang yg berisiko pada permulaan waktu
3). Attack Rate
Yaitu jumlah penderita baru suatu penyakit yang ditemukan pada suatu saat dibandingkan dengan jumlah penduduk yang mungkin terkena penyakit tersebut pada saat yang sama.
Manfaat Attack Rate adalah :
Memperkirakan derajat serangan atau penularan suatu penyakit. Makin tinggi nilai AR, maka makin tinggi pula kemampuan Penularan Penyakit tersebut.
Rumus :
Attack Rate=jml penderita baru dlm satu saat : jml penduduk yg mungkin terkena penyakittersebut pada saat yg samax XK
4). Secondary Attack Rate
Adalah jumlah penderita baru suatu penyakit yang terjangkit pada serangan kedua dibandingkan dengan jumlah penduduk dikurangi orang/penduduk yang pernah terkena penyakit pada serangan pertama.
Digunakan menghitung suatu panyakit menular dan dalam suatu populasi yang kecil ( misalnya dalam Satu Keluarga ).
Rumus :
SAR=jml penderita baru pd serangan kedua : jml penduduk- penduduk yg terkena serangan pertama x XK
b. PREVALENSI
Adalah gambaran tentang frekwensi penderita lama dan baru yang ditemukan pada suatu jangka waktu tertentu di sekelompok masyarakat tertentu. Pada perhitungan angka prevalensi digunakan jumlah seluruh penduduk tanpa memperhitungkan orang / penduduk yang kebal atau penduduk dengan resiko (Population at Risk). Sehingga dapat dikatakan bahwa angka prevalensi sebenarnya bukan suatu rate yang murni, karena penduduk yang tidak mungkin terkena penyakit juga dimasukkan dalam perhitungan.
Prevalens tergantung pada 2 faktor :
Berapa banyak orang jumlah orang yang telah sakit
Durasi/lamanya penyakit
Secara umum nilai prevalen dibedakan menjadi 2, yaitu :
1). Period Prevalen Rate
Yaitu jumlah penderita lama dan baru suatu penyakit yang ditemukan pada suatu jangka waktu tertentu dibagi dengan jumlah penduduk pada pertengahan jangka waktu yang bersangkutan. Nilai Periode Prevalen Rate hanya digunakan untuk penyakit yang sulit diketahui saat munculnya, misalnya pada penyakit Kanker dan Kelainan Jiwa.
Rumus :
Periode Prevalen Rate=jml penderita lama & baru : jml penduduk pertengahan x XK
2). Point Prevalen Rate
Adalah jumlah penderita lama dan baru suatu penyakit pada suatu saat dibagi dengan jumlah penduduk pada saat itu. Dapat dimanfaatkan untuk mengetahui Mutu pelayanan kesehatan yang diselenggarakan.
Rumus :
Point Prevalen Rate=jml penderita lama & baru saat itu : jml penduduk saat itu x XK
Hand Out IKM : Prodi D III Kebidanan STIKES Duta Gama Klaten SMT IV Tahun
c. HUBUNGAN ANTARA INSIDENSI DAN PREVALENSI
Angka Prevalensi dipengaruhi oleh tingginya insidensi dan lamanya sakit/durasi penyakit. lamanya sakit/durasi penyakit adalah periode mulai didiagnosanya penyakit sampai berakhirnya penyakit tersebut yaitu : sembuh, mati ataupun kronis.
Hubungan ketiga hal tersebut dabat dinyatakan dengan rumus: P = I x D
P = Prevalensi
I = Insidensi
L = Lamanya Sakit
Rumus hubungan insidensi dan prevalensi tersebut hanya berlaku jika dipenuhi 2 syarat, yaitu :
1. Nilai insidensi dalam waktu yang cukup lama bersifat konstan, tidak menunjukkan perubahan yang mencolok.
2. Lama berlangsungnya suatu penyakit bersifat stabil : Tidak menunjukkan perubahan yang terlalu mencolok.
2. Untuk Mengukur Masalah Kematian ( Angka Kematian / Mortalitas )
Dewasa ini di seluruh dunia mulai muncul kepedulian terhadap ukuran kesehatan masyarakat yang mencakup penggunaan bidang epidemiologi dalam menelusuri penyakit dan mengkaji data populasi. Penelusuran terhadap berbagai faktor yang mempengaruhi status kesehatan penduduk paling baik dilakukan dengan menggunakan ukuran dan statistik yang distandardisasi, yang hasilnya kemudian juga disajikan dalam tampilan yang distandardisasi.
Mortalitas merupakan istilah epidemiologi dan data statistik vital untuk Kematian. Dikalangan masyarakat kita, ada 3 hal umum yang menyebabkan kematian, yaitu :
a) Degenerasi organ vital & kondisi terkait.
b) Status penyakit.
c) Kematian akibat lingkungan atau masyarakat ( bunuh diri, kecelakaan, pembunuhan, bencana alam, dsb.)
Macam – macam / jenis angka kematian (Mortality Rate/Mortality Ratio) dalam Epidemiologi antara lain :
a) Angka Kematian Kasar ( Crude Death Rate )
Adalah jumlah semua kematian yang ditemukan pada satu jangka waktu ( umumnya 1 tahun ) dibandingkan dengan jumlah penduduk pada pertengahan waktu yang bersangkutan.
Istilah crude digunakan karena setiap aspek kematian tidak memperhitungkan usia, jenis kelamin, atau variabel lain.
Rumus :
CDR/AKK=jml seluruh kematian : jml penduduk pertengahan x XK
b) Perinatal Mortality Rate (PMR) / Angka Kematian Perinatal (AKP)
PMR adalah jumlah kematian janin yang dilahirkan pada usia kehamilan 28 minggu atau lebih ditambah dengan jumlah kematian bayi yang berumur kurang dari 7 hari yang dicatat selama 1 tahun per 1000 kelahiran hidup pada tahun yang sama. ( WHO, 1981 ).
Manfaat PMR adalah untuk menggambarkan keadaan kesehatan masyarakat terutama kesehatan ibu hamil dan bayi.
Faktor yang mempengaruhi tinggi rendahnya PMR adalah :
1). Banyaknya Bayi BBLR
2). Status gizi ibu dan bayi
3). Keadaan social ekonomi
4). Penyakit infeksi, terutama ISPA
5). Pertolongan persalinan
Rumus :
PMR/AKP=jml kematian janin yg dilahirkan pd usia kehamilan 28 minggu+dg jml kematian bayi yg berumur kurang dr 7 hari yg di catat selama 1tahun : jml bayi lahir hidup pd tahun yg sama x XK
c) Neonatal Mortality Rate ( NMR ) = Angka Kematian Neonatal (AKN)
Adalah jumlah kematian bayi berumur kurang dari 28 hari yang dicatat selama 1 tahun per 1000 kelahiran hidup pada tahun yang sama.
Manfaat NMR adalah untuk mengetahui :
1). Tinggi rendahnya usaha perawatan postnatal.
2). Program imunisasi.
3). Pertolongan persalinan.
4). Penyakit infeksi, terutama saluran napas bagian atas.
Rumus :
NMRAKN=jml kematian bayi umur kurang dr 28 hari : jml lahir hidup pd tahun yg sama x XK
d) Infant Mortality Rate (IMR) / Angka Kematian Bayi ( AKB)
Adalah jumlah seluruh kematian bayi berumur kurang dari 1 tahun yang dicatat selama 1 tahun per 1000 kelahiran hidup pada tahun yang sama.
Manfaat IMR adalah sebagai indikator yg sensitive terhadap derajat kesehatan masyarakat.
Rumus :
IMR/AKB=jml kematian bayi umur 0-1 th : jml kelahiran hidup pd th yg sama x XK
e) Under Five Mortality Rate ( Ufmr ) / Angka Kematian Balita
Adalah jumlah kematian balita yang dicatat selama 1 tahun per 1000 penduduk balita pada tahun yang sama.
Manfaat UFMR adalah untuk mengukur status kesehatan bayi.
Rumus :
UFMR=jml kematian balita yg cacat dlm 1 thn : jml penduduk balita pd thn yg sama x XK
f) Angka Kematian Pasca-Neonatal (Postneonatal Mortality Rate)
Angka kematian pascaneonatal diperlukan untuk menelusuri kematian di Negara belum berkembang , terutama pada wilayah tempat bayi meninggal pada tahun pertama kehidupannya akibat malnutrisi, defisiensi nutrisi, dan penyakit infeksi.
Postneonatal Mortality Rate adalah kematian yang terjadi pada bayi usia 28 hari sampai 1 tahun per 1000 kelahiran hidup dalam satu tahun.
Rumus :
pasca-neonatal mortality rate=jml kematian bayi usia 28 hari-1 thn : jml kelahiran hidup pd thn yg sama x XK
g) Angka Kematian Janin / Angka Lahir Mati (Fetal Death Rate)
Istilah kematian janin penggunaannya sama dengan istilah lahir mati. Kematian janin adalah kematian yang terjadi akibat keluar atau dikeluarkannya janin dari rahim, terlepas dari durasi kehamilannya. Jika bayi tidak bernafas atau tidak menunjukkan tanda – tanda kehidupan saat lahir, bayi dinyatakan meninggal. Tanda –tanda kehidupan biasanya ditentukan dari Pernapasan, Detak Jantung, Detak Tali Pusat atau Gerakan Otot Volunter.
Angka Kematian Janin adalah proporsi jumlah kematian janin yang dikaitkan dengan jumlah kelahiran pada periode waktu tertentu, biasanya 1 tahun.
Rumus :
Angka kematian janin=jml kematian janin dlm periode tertentu : total kematian janin+janin lahir hidup periode yg samax XK
h) Maternal Mortality Rate ( Mmr ) / Angka Kematian
Adalah jumlah kematian ibu sebagai akibat dari komplikasi kehamilan, persalinan dan masa nifas dalam 1 tahun per 1000 kelahiran hidup pada tahun yang sama.
Tinggi rendahnya MMR berkaitan dengan :
1). Sosial ekonomi
2). Kesehatan ibu sebelum hamil, bersalin dan nifas
3). Pelayanan kesehatan terhadap ibu hamil
4). Pertolongan persalinan dan perawatan masa nifas
Rumus :
MMR=jml kematian ibu hamil, persalinan&dan nifas dlm 1 thn : jml lahir hidup pd thn yg samax XK
i) Age Spesific Mortality Rate ( ASMR / ASDR )
Manfaat ASMR/ASDR adalah :
1). Untuk mengetahui dan menggambarkan derajat kesehatan masyarakat dengan melihat kematian tertinggi pada golongan umur.
2). Untuk membandingkan taraf kesehatan masyarakat di berbagai wilayah.
3). Untuk menghitung rata – rata harapan hidup.
j) Cause Spesific Mortality Rate ( CSMR )
Yaitu jumlah seluruh kematian karena satu sebab penyakit dalam satu jangka waktu tertentu ( 1 tahun ) dibagi dengan jumlah penduduk yang mungkin terkena penyakit tersebut.
Rumus :
CSMR=jml seluruh kematian karena sebab penyakit tertentu : jml penduduk yg mungkin terkenapenyakit pd pertengahan tahunx XK
k) Case Fatality Rate ( CFR )
Adalah perbandingan antara jumlah seluruh kematian karena satu penyebab penyakit tertentu dalam 1 tahun dengan jumlah penderita penyakit tersebut pada tahun yang sama. Digunakan untuk mengetahui penyakit –penyakit dengan tingkat kematian yang tinggi.
Rumus :
CFR=jml kematian karena penyakit tertentu : jml seluruh penderita penyakit tersebutx XK
Metode deskriptif adalah suatu
metode dalam meneliti setatus sekelompok manusia, suatu obyek, suatu set
kondisi, suatu sistempeikiran, ataupun suatu kelas peristiwa pada masa
sekarang. Tujuan dari penelitian deskriptif ini adalah untuk membuat deskipsi, gambaran
atau lukisan secara sistematis, factual dan akurat mengenai fakta-fakta,
sifat-sifat serta hubungan antar fenomena yang diselidiki.
Definisi
Menurut Whintney (1960), metode
deskriptif adalah pencarian fakta dengan interpretasi yang tepat. Penelitian
deskriptif mempelajarai masalah-masalah dalam masyarakat serta tatacara yang
berlaku dalam masyarakat serta situasi-situasi tertentu, termasuk tentang
hubungan, kegiatan-kegiatan, sikap-sikap, pandangan-pandangan, serta
proses-proses yang sedang berlangsung dan pengaruh-pengaruh dari suatu
fenomena. Dalam metode deskriptif, peneliti bisa saja membandingkan
fenomena-fenomena tertentu sehingga merupakan suatu setudi komparatif .
adakalanya peneliti mengadakan klasifikasi, seerta penelitian terhadap fenomena-fenomena
dengan menetapkan suatu setandar atau suatu norma tertentu sehingga banyak ahli
menamakan metode deskriptif ini dengan nama survei normatif (normative survey).
Dengan metode deskriptif ini juga diselidiki kedudukan (status) fenomena atau
factor dan melihat hubungan antara satu factor dengan factor yang lain.
Karenanya, metode deskriptif juga dinamakan studi status (satus study).
Metode deskriptif juga ingin
mempelajari norma-norma atau setandar-setandar, sehingga penelitian deskriptif
ini disebut juga survey normative. Dalam metode deskriptif dapat diteliti
masalah normative bersama-sama dengan masalah setatus dan sekaligus membuat
perbandingan-perbandingan antar fenomena. Studi demikian dinamakan secara umum
sebagai studi atau penelitian deskriptif. Prespektif waktu yang dijangkau
dalam penelitian deskriptif , adalah waktu sekarang, atau sekurang-kurangnya
jangka waktu yang masih terjangkau dalam ingatan responden.
Ciri-ciri Metode Deskriptif
Secara harfiyah, metode deskriptif
adalah metode penelitian untuk membuat gambaran mengenai situasi atau kejadian,
sehingga metode ini berkehendak mengadakan akumulasi data dasar belaka. Namun,
dalam pengertian metode penelitian yang lebih luas, penelitian deskriptif
mencakup metode penelitian yang lebih luas di luar metode sejarah dan
eksperimental, dan secara lebih umum sering diberi nama, metode survei. Kerja
peneliti, bukan saja memberikan gambaran terhadap fenomena-fenomena, tetapi
juga menerangkan hubungan, menguji hipotesis-hipotesis, membut predeksi serta
mendapatkan makna dan implikasi dari suatu masalah yang ingin dipecahkan. Dalam
mengumpulkan data digunakan teknik wawancara, dengan mengunakan schedule
questionair ataupun interview guide.
Jenis-jenis Penelitian Deskriptif
Dtinjau dari jenis masalah yang
diselidiki, teknik dan alat yang digunakan dalam menliti, serta tempat dan
waktu penelitian dilakukan, penelitian desekriptif dapat dibagi atas bebeprapa
jenis yaitu:
- Metode survey,
- Metode deskriptif berkesinanbungan (Continuity deskrptive),
- Penelitian Studi kasus,
- Penelitian analisis pekerjaan dan aktivitas,
- Penelitian tindakan (action research),
- Penelitian perpustakaan dan documenter.
- Metode survey
Metode survei adalah penyelidikan
yang diadakan untuk memperoleh fakta-fakta dari gejala-gejala yang ada dan
mencari keterangan-keterangan secara factual, baik tentang institusi sosial,
ekonomi, atau politik dari suatu kelompok ataupun suatu daera. Metode survey
membedah dan menguliti serta mengenal masalah-masalah serta mendapatkan
pembenaran terhadap keadaan dan praktik-praktik yang sedang berlangsung. Dalam
metode survei juga dikerjakan evaluasi serta perbandingan-perbandingan terhadap
hal-hal yang telah dikerjakan orang dalam menangani situasi atau masalah yang
serupa dan hasilnya dapat digunakan dalam pembuatan rencana dan pengambilan
keputusan di masa mendatang. Penyelidikan dilakukan dalam waktu yang bersamaan
terhadap sejumlah individu atanu unit, baik secara sensus atau dengan
mengunakan sample. Unit yang digunakan dalam metode survei cukup besar.
Misalnya, Kinsey, et al., (1948) dalam penelitian meraka mengenao tinggah laku
seksual di Amerika Seriakat telah menggunakan sample dengan 12 ribu
orang anggota sample. Banyak sekali masalah dap;t diteliti dengan
mengunakan metode survey, termasuk bidang produksi dan tata niaga (survey
produksi dan tata niaga ), usaha tani(surve usaha tani), masalah kemasyarakatan
(survey sosial), masalah komunikasi daan pendapat umum (survei pendat umum),
masalah politik (survey politik), masalah pendidikan (survey pendidikan dan
persekolahan), dan sebagainya.
- Metode deskritif berkesinambungan
Metode deskriptif berkesinambungan (continuity
descriptive research), adalah kerja meneliti secara deskriptif yang
dilakukan secara terus menerus atas suatu objek penelitian. Sering kali
dilakukan dalam meneliti masalah-masalah sosial.pengetahuan yang lebih
menyeluruh dari masalah serta fenomena dan ketentuan-ketentuan sosial dapat
diperoleh jika hubungan-hubungan fenomena dikaji dalam suatu interval
perkembangan dalam suatu periode yang lama. Dengan memperhatikan secara detail
perubahan-perubahan yang dinamis dalam suatu interval tertentu, maka
generalisasi suatu situasi atau fenomena secara dinamis dapat dibuat. Meneliti
yang berkehendak menjangkau informasi factual yang mendetail secara interval
dinamakan penelitian deskriptif berkesinambungan. Jika perhatian dipusatkan
kepada perubahan-perubahan prilaku atau pandangan, maka teknik dalam meneliti
dinamakan teknik panel. Teknik ini berupa wawancara dengan kelompok-kelompok
manusia yang sama pada situasi yang berbeda. Informasi yang diinginkan bisa
saja kuantitatif , seperti jumlah konsumsi, anggaran belanja keluarga, dan
sebagainya.
Penggunaan metode deskriptif
berkesinambungan lebih popular dalam mengkaji masalah sosial. Misalnya, Whitney
dan Milholland (1930) mempelajari status akademis dari mahasiswa tingkat
persiapan dari Colorado State Colege of Education pada tahun
1930. Penelitian dilakukan dalam waktu empat tahun, dengan menlurusi status
akademis sejak tingkat persiapan sampai dengan lulus sarjana muda.
- Penelitian Studi Kasus
Studi kasus, atau penelitian kasus (case
study), adalah penelitian tentang status subjek penelitian yang berkenan
dengan suatu fase spesifik atau khas dari keselurahan personalitas (Maxfield,
1930). Subjek penelitian dapat saja individu, kelompok, lembaga, maupun
masyarakat. Peneliti ingin mempelajari secara intensif latar belakang serta
interaksi lingkungan dari unit-unit sosial yang menjadi subjek. Tujuan studi
kasus adalah untuk memberikan gambaran secara mendetail latar belakang,
sifat-sifat serta karakter-karakter yang khas dari kasus, ataupun status dari
individu, yang kemudian dari sifat-sifat khas di atas akan jadikan suatu hal
yang bersfat umum. Pada mulanya, studi kasus ini banyak digunakan dalam penelitian
obat-obatan dengan tujuan diagnosis, tetapi kemudian penggunaan studi kasus
telah meluas sampai kebidang-bidang lain.
Hasil dari penelitian kasus
merupakan suatu generalisasi dari pola-pola kasus yang tipikal dari individu,
kelompok, lembaga, dan sebagainya. Tergantung dari tujuannya, ruang lingkup
dari studi dapat mencakup segmen atau bagian tertentu atau mencakup keseluruhan
siklus kehidupan dari individu, kelompok, dan sebagainya, baik dengan penekanan
terhadap factor-faktor kasus tertentu, atau meliputi keseluruhan factor-faktor
dan fenomena-fenomena. Stadi kasus lebih menekankan mengkaji vairabel yang
cukup banyak pada jumlah unit yang kecil. Ini berbeda dengan metode survei,
dimana peneliti cenderung mengevaluasi variabel yang lebih sedikit, tetapi
dengan unit sample yang relatif besar.
Studi kasus banyak dikerjakan untuk
meneliti desa, kota besar, sekelompok manusia drop out, tahanan-tahanan,
pimpinan-pimpinan, dan sebagainya. Jika stadi kasus ditujukan untuk menliti
kelompok, maka perlu dikisahkan atau diisolasikan kelompok-kelompok dalam
onggokan yang homogen.
Stadi kasus banyak kelemahan
disamping adanya keunggulan-keunggulan. Studi kasus mempunyai kelemahan karena
anggota sampel yang terlalu kecil, sehingga sulit dibuat inferensi kepada populsi.
Disamping itu, studi kasus sangat dipengaruhi oleh pandangan subjektif dalam
pilihan kasus karena adanya sifat khas yang dapat saja terlalu
dibesar-besarkan. Kurangnya objektifitas, dapat disebabkan karena kasus cocok
benar dengan konsep yang sebelumnya telah ada pada si peneliti, ataupun dalam
penetapan serta pengikutsertaan data dalam konteks yang bermakna yang menjurus
pada interprestsi subjektif.
Studi kasus mempunyai keunggulan
sebagai suatu studi untuk mendukung studi-studi yang besar di kemudian hari.
Studi kasus mendukung studi-studi yang besar di kemudian hari studi kasus dapat
memberikan hipotesis-hipotesis untuk penelitian lanjutan. Dari segi edukatif,
maka studi kasus dapat digunakan sebagai contoh ilustrasi baik dalam perumusan
masalah, penggunaan statistik dalam menganalisis data serta cara-cara perumusan
generalisasi dan kesimmpulan
Marilah kita lihat sebuah contoh
studi kasus tentang anak-anak yang tidak dapat menguasai teknik membaca karena
jenis-jenis sebab. Penelitian yang memakan waktu dua tahun, secara mendetail
telah mempelajari hal-hal berikut.
- Menentukan sejarah dari sekolah dan rumah tangga sang anak.
- Menentukan setatus sekarang dari anak.
- Mengadakan diagnosis terhadap kesukaran-kesukaran membaca sang anak
- Menentukan sebab musabab si anak mempunyai kekurangan-kekurangan dalam membaca.
- Mengukur dari hasil pengajaran.
Langkah-langakah pokok dalam
meneliti kasus adalah sebagai berikut.
1. Rumuskan tujuan penelitian.
2. Tentukan unit-unit studi,
sifat-sifat mana yang akan diteliti dan hubungkan apa yang akan dikaji serta
proses-proses apa yang akan menuntun penelitian.
3. tentukan rancangan serta
pendekatan dalam memilih unit-unit dan teknik pengumpulan data mana yang
digunakan. Sumber-sumber data apa yang tersedia
4. kumpulkan data.
5. Organisasikan informasi serta
data yang terkumpul dan analisis untuk membuat interpretasi seta generalisasi.
6. Susun laporan dengan memberikan
kesimpulan serta implikasi dari hasi penelitian.
Studi atau penelitian komperatif
Penelitian komperatif adalah sejenis
penelitian deskriptif yang ingin mencari jawab secara mendasar tentang
sebab-akibat, dengan menganalisis factor-faktor penyebab terjadinnya atau
munculnya suatu fenomena tertentu. Jangakauan waktu adalah masa sekarang,
karena jika jangkauan waktu terjadinya adalah masa lampau, maka penelitian
tersebut termasuk dalam metode sejarah. Dalam studi komperatif ini, memeng
sulit untuk mengetahui factor-faktor penyebab yang dijadikan dasar pembanding,
seperti penelitain komperatif tidak mempunyai control. Hal ini semakin
nyata kesulitannya jika kemungkinan-kemungkinan hubungan antar fenomena banyak
sekali jumlahnya
Studi komperatif banyak sekali
dilakukan jika metode eksperimental tidak dapat diperlukan. Bidang studi
mencakup penghiduupan kota dan desa, dengan membandingkan pengaruh sebab akibat
dari mekanan, rekreasi, waktu kerja, ketenangan kerja, dan sebagainnya.
Penelitian komperatif dapat dilakukan untuk mencari pola tingkahlaku serta
prestsi belajar dengan membedakan unsur waktu masuk sekolah, dan lain-lain.
Metode penelitian komperatif adalah
bersifat ex post facto. Artinya, data dikumpulkan setelah semua kejadian yang
dikumpulkan telah selesai berlangsung. Peneliti dapat melihat akibat dari suatu
fenomena dan menguji hubungan sebab akibat dari data-data yang tersedia.
Keunggulan metode ini adalah sebagai berikut.
- Metode komparatif dapat mensubtisusikan metode eksperimental karena beberapa alasan:
- Jika sukar diadakan kontrol terhadap salah satu faktor yang ingin diketahui atau diselidiki hubungan sebab-akibat.
- Apabila teknik untuk mengadakan vaiabel kontrol dapat menhalangi penampilan fenomena secara normal ataupun tidak memungkinkan adanhya interaksi secara normal.
- Penggunaan laboratoriuum untuk penelitian untuk dimungkinkan, baik karena kendala teknik, keungan, maupun etika, dan normal.
- Dengan adanya teknik yang lebih mutakhir serta alat setatistik yang lebih maju, membuat penelitian komparatif dapat mengadakn estimasi terhadap parameter-parameter hubungan kausal secara lebih efektif.
Disamping keunggulan-keunggulan,
penelitian komparatif mengandung kelemahan-kelemahan, antara lain sebagai
berikut.
- Karena penelitian komparatif sefatnya ex post facto, maka penelitain tersebut tidak mempunyai kontrol terthadap variabel bebas. Peneliti hanya berpegang pada penampilan variabel sebagaimana adanya, tanpa kesempatan mengatur kondisi ataupun mengadakan manipulasi terhadap bebrapa variabel. Karena itu, sipenelitia diharapkan mempunyai cukup banyak alas an dalam mempertahankan hasil hubungan-hubungan kasual yang ditemukan, dan dapat mengajukan hipotesis-hipotesis saingan untuk membuat jastifikasi terhadap kesimpulan-kesimpulan yang ditarik.
- Sukar memperoleh kepastian, apakah faktor-faktor suatu hubungan kausal yang diselidiki benar-benar relaevan.
- Karena faktor-faktor bukan bekerja secara merdeka tetapi saling berkaitan antara satu dengan lain, maka interaksi antar faktor-faktor tunggal sebagai penyebab atau akibat terjadinya suatu fenomena sukar diketahui. Bahkan akibat dari faktor ganda, bisa saja dikarenakan oleh faktor diluar cakupan penelitian yang bersangkutan.
- Adakalanya dua atau lebih faktor memperlihatkan adanya hubungan, tetapi belum tentu bahwa hubungan yang diperlihatkan adalah hubungan sebab-akibat. Mungkin saja hubungan variabel tersebut dikarenakan oleh adanya keterkaitan dengan faktor-faktor lain diluar itu. Dilain pihak, andai kata pun telah diketemukan bahwa hubungan antara faktor-faktor adalah hubungan sebab-akibat, tetapi masih sukar untuk dipisahkan faktor mana sebagai penyebab dan faktor mana yang merupakan akibat
- Mengkatagorisasikan subjek dalam dikotomi (misalnya, dalam katagori demokrasi dan otoriter, pandai bodoh, tua-muda, dan sebagainya) untuk tujuan perbandingan, dapat menjurus kepada pengambilan keputusan dan kesimpulan yang salah akibat katagori-katagori dikhotomi yang dibuat mempunyai sifat kabur, bervariasi, samar-samar, mengahendaki valuejudgement, dan tidak kokoh.
Langkah-langkah pokok dalam studi
komparatif adalah sebagai berikut,
- Rumuskan dan definisikan masalah.
- Jajki dan teliti literature yang ada.
- Rumuskan kerangka troritis dan hipotesis-hipotesis serta asumsi-asumsi yang dipakai.
- Buatlah rancangan penelitian:
- Pilih subjek yang digunakan dengan teknik pengumpulan data yang diinginkan;
- Kategorikan sifat-sifat atau atribut-atribut atau hal-hal lain yang sesuai dengan masalah-masalah yang ingin dipecahkan, untuk memudahkan analisis sebab-akibat.
- Uji hipotesis, buat interpretasi terhadap hubungan dengan teknik statistic yang tepat.
- Buat gegeralisasi, kesimpulan, serta implikasi kebijakan.
- Susun laporan dengan cara penulisan ilmiah.
Dalam penelitian komparatif, sering
digunakan teknik korelasi, Dalam penelitian komparatif, sering digunakan teknik
korelasi, yaitu meneliti derajat ketergantungan dalam hubungan-hubungan antarvariabel
dengan menggunakan koefisien korelasi. Namun, perlu dijelaskan bahwa penggunaan
koefisien korelasi hanya menyatakan tinggi rendahnya ketergantungan antar
variabel yang diuji, tetapi tidak menyatakan ada tidaknya hubungan yang
terjadi. Ini berbeda dengan penggunaan metode eksperimental. Pada metode
eksperimental, peneliti dapat menguji ada tidaknya efek tertentu. Dengan
demikian, penggunaaan teknik korelasi dalam penelitian komparatif mengandung
kelemahan-kelemahan, antara lain sebagai berikut.
- Menjurus pada keterbiasaan menggunakan teknik korelasi dengan memasang variabel apa saja tanpa pilih yang menjurus pula interpretasi yang salah.
- Tidaknya adanya kontrol terhadap variabel bebas, dan tidak dapat melihat ada tidaknya hubungan kausal antar variabel. Peneliti tidak dapat mengenai yang mana variabel bebas dan mana variabel dependen.
- Penelitian Analisis kerja dan aktivitas
Analisis Kerja dan Aktivitas (job
and activity analysis), merupakan penelitian dengan menggunakan metode
deskriptif. Penelitian itu ditujukan untuk menyelidiki secara terperinci
aktivitas dan pekerjaan manusia. Dan hasil penelitian tersebut dapat memberikan
rekomendasi-rekomendasi untuk keperluan masa yang akan datang. Penenlitian
perkejaan di bidang industri dinamakan job analysis (analisis
pekerjaan), sedangkan penelitian di bidang pertanian , disebut analysis
aktivitas (activity analysis). Analysis aktivitas juga mencakup analysis
pekerjaan dibidang jasa, seperti pendidikan, peleyanan kesehatan, dan
sebagainya.
Dalam penelitian ini, studi yang
mendalam dilakukan terhadap kelakuan-kelakuan pekerjaan, buruh, petani, guru,
dan lain-lain terhadap gerak-gerik mereka dalam melakukan tugas, penggunaan
waktu secara efisien dan efektif, dan sebagainya. Data mengenai hal-hal yang
ini diselidiki, kemudian dianalisis, diberikan interpretasi, dan diadakan
generalisasi dalam rangka menetapkan sifat-sifat dan keriteria-keriteria
pekerjaan yang baik, rencana upgrading, keseimbangan berusaha dan
bekerja serta aktivitas sangat berkembang pada masa sesudah Perang Dunia I,
dengan tujuan untuk mengadakan klsifikasi pekerjaan dan pekerjaan secara lebih
efektif.
Studi Waktu Gerakal.
Studi Waktu dan gerakan (time
and motion study) adalah penelitian dengan metode
deskriptif yang berusaha untuk menyelidiki efisien produksi dengan mengadakan
studi yang mendetail tentang penggunaan waktu serta perilaku pekerja dalam
proses produksi. Gerak-gerak utama dalam pekerjaan diamati, dicatat,
dilukiskan, serta dianalisis. Generalisasi dan interpretasi tentang waktu yang
digunakan serta gerak-gerak utama yang terjadi, sehingga suatu kesimpulan
tentang gerak-gerak yang diperlukan dalam pekerjaan, gerak-gerak yang tidak
diperlukan yang dapat menghambat pekerjaan serta saran-saran dalam rangka
memperbaiki pekerjaan dan menambah efisiensi kerja. Dalam rangka efisisensi,
juga perlu dikaji alat-alat produksi yang digunakan, serta bagaimana alat-alat
produksi tersebut diatur demi peningkatan efisisensi kerja.
Kriteria Pokok Metode Deskriptif
Metode deskriptif mempunyai beberapa
pokok, yang dapat dibagi atas kriteria umum dan kriteria khusus. kriteria
tersebut adalah sebagai berikut
Kriteria umum
Kriteria umum dari penelitian dengan
metode deskriptif adalah sebagai berikut.
- Masalah yang dirumuskan harus patut, ada nilai ilmiah serta tidak terlalu luas.
- Tujuan penelitian harus dinyatakan dengan tegas dan tidak terlalu umum.
- Data yang digunakan harus fakta-fakta yang terpercaya dan bukan merupakan opini.
- Standar yang digunakan untuk membuat perbandingan harus mempunyai validitas.
- Harus ada deskripsi yang terang tentang tempat serta waktu penelitian dilakukan.
- Hasil penelitian harus berisi secara detail yang digunakan, baik dalam mengumpulkan data maupun dalam menganalisis data serta studi kepustakaan yang dilakukan. Deduksi logis harus jelas hubungannya dengan kerangka teoritis yang digunakan jika kerangka teoritis untuk itu telah dikembangan.
Kriteria Khusus
Kriteria khusus dari metode
deskriptif adalah sebagai berikut.
- Prinsip-prinsip ataupun data yang digunakan dinyatakan dalam nilai (value).
- Fakta-fakta ataupun prinsip-prinsip yang digunakan adalah mengenai masalah status.
- Sifat penelitian adalah ex post facto, karena itu, tidak adalah kontrol terhadap variabel, dan peneliti tidak mengadakan pengaturan atau menipulasi terhadap variabel. Variabel dilihat sebagaimana adanya.
Langkah-langkah Umum dalam Metode
Deskriptif
Dalam melaksanakan penelitian
deskriptif, maka langkah-langkah umum yang sering diikuti adalah sebagai
berikut.
- Memilih dan merumuskan masalah yang menghendaki konsepsi ada kegunaan masalah tersebut serta dapat diselidiki dengan sumber yang ada.
- Menentuan tujuan dari penelitian yang akan dikerjakan. Tujuan dari penelitian harus konsisten dengan rumusan dan definisi dari masalah
- Memberikan limitasi dari area atau scope atau sejauh mana penelitian deskriptif tersebut akan dilaksanakan. Termasuk didalamnya daerah geografis dimana penelitian akan dilakukan, batasan-batasan kronologis ukuran tentang dalam dangkal, serta seberapa utuh daerah penelitian tersebut akan dijangkau.
- Pada bidang ilmu yang telah mempunyai teori-teori yang kuat, maka perlu dirumuskan kerangka teori atau kerangka konseptual yang kemudian diturunan dalam bentuk hipotesis-hipotesis untuk diverifikasikan. Bagi ilmu sosial yang telah berkembang baik, maka kerangkan analisis dapat dijabarkan dalam bentuk-bentuk model matematika.
- Menulusuri sumber-sumber kepustakaan yang ada hubungannya dengan masalah yang ingin dipecahkan.
- Merumuskan hipotesis-hipotesis yang diuji, baik secara emplisit maupun secara implicit.
- Melakukan kerja lapangan untuk megumpulkan data, gunakan teknik pengumpulan data yang cocok untuk penelitian.
- Membuat tabulasi serta analisis statistic dilakukan terhadap data yang telah dikumpulkan. Kurangi penggunaan statistic sampai kepad batas-batas yang dapat dikerjakan dengan unit-unit pengukuran yang sepadan.
- Memberikan interpretasi dari hasil dalam hubungannya dengan kondisi sosial yang ingin diselidiki serta dari data yang diperoleh serta refrensi khas terhadap masalah yang ingin dipecahkan.
10. Mengadakan generalisasi
serta deduksi dari penemuan serta hipotesis-hipotesis yang ingin diuji. Berikan
rekomendasi-rekomendasi untuk kebijakan-kebijakan yang dapat ditarik dari
penelitian.
(Nazir, moh. Metode penelitian.
Ghalia Indonesia. 2005,)
Dalam statistik dan matematika epidemiologi , risiko relatif (RR) adalah risiko dari suatu
peristiwa (atau mengembangkan penyakit) relatif terhadap paparan. Risiko
relatif adalah rasio dari probabilitas dari peristiwa yang terjadi pada kelompok terpapar versus
kelompok non-terpapar. [1]
|
Risiko
|
Status
penyakit
|
|
|
Hadir
|
Absen
|
|
|
Perokok
|
|
|
|
Orang
yg tdk merokok
|
|
|
Pertimbangkan contoh di mana kemungkinan terkena kanker paru-paru di kalangan perokok adalah 20% dan
di kalangan non-perokok 1%. Situasi ini dinyatakan dalam tabel 2 × 2 ke kanan.
Di sini, a = 20, b =
80, c = 1, dan d = 99. Kemudian risiko relatif kanker yang
berhubungan dengan merokok akan
Perokok akan menjadi dua puluh kali
lebih mungkin sebagai non-perokok untuk mengembangkan kanker paru-paru.
Istilah lain untuk risiko relatif
adalah rasio risiko karena rasio risiko dalam dibagi terpapar oleh
risiko dalam terekspos.
|
Isi
|
penggunaan
statistik dan makna
Risiko relatif sering digunakan
dalam analisis statistik dari hasil biner di mana hasil dari bunga memiliki
probabilitas relatif rendah. Hal demikian sering cocok untuk uji klinis data, di mana ia digunakan untuk membandingkan risiko
pengembangan penyakit, pada orang yang tidak menerima perawatan medis baru
(atau menerima plasebo) versus orang yang menerima pengobatan (standar
perawatan) didirikan . Atau, digunakan untuk membandingkan risiko mengembangkan
efek samping pada orang yang menerima obat dibandingkan dengan orang yang tidak
menerima pengobatan (atau menerima plasebo). Hal ini sangat menarik karena
dapat dihitung dengan tangan dalam kasus yang sederhana, tetapi juga setuju
untuk pemodelan regresi , biasanya dalam regresi Poisson kerangka.
Dalam perbandingan sederhana antara
kelompok eksperimen dan kelompok kontrol:
- Sebuah risiko relatif dari 1 berarti tidak ada perbedaan risiko antara kedua kelompok.
- Sebuah RR <1 berarti acara tersebut kurang mungkin terjadi pada kelompok perlakuan dibandingkan kelompok kontrol.
- Sebuah RR> 1 berarti acara ini lebih mungkin terjadi pada kelompok perlakuan dibandingkan kelompok kontrol.
Sebagai konsekuensi dari metode Delta , yang log dari risiko relatif memiliki distribusi sampling yang
kira-kira yang normal dengan varians yang dapat diperkirakan dengan formula yang
melibatkan jumlah subyek dalam masing-masing kelompok dan angka kejadian dalam
setiap kelompok (lihat metode Delta ). [2]
Hal ini memungkinkan pembangunan confidence interval (CI) yang simetris sekitar log (RR), yaitu,
dimana
adalah nilai standar untuk tingkat yang dipilih dari signifikansi dan SE standard
error . The antilog dapat diambil dari dua batas-batas log-CI, memberikan
batas-batas tinggi dan rendah untuk interval keyakinan asimetris sekitar risiko
relatif.
Dalam model regresi, pengobatan
biasanya dimasukkan sebagai variabel
dummy bersama dengan faktor-faktor lain
yang dapat mempengaruhi risiko. Risiko relatif biasanya dilaporkan sebagai
dihitung untuk rata-rata nilai sampel dari variabel penjelas.
Perbandingan
dengan rasio odds
Risiko relatif berbeda dari rasio odds , meskipun pendekatan asimtotik untuk probabilitas kecil.
Dalam contoh hubungan merokok dengan kanker paru-paru dipertimbangkan di atas, jika
secara substansial lebih kecil dari b, maka a / (a + b)
a / b.
Dan jika sama c jauh lebih kecil dari d, maka c / (c
+ d)
c / d.
Demikian
Ini adalah rasio odds.
Bahkan, rasio odds memiliki
penggunaan yang lebih luas dalam statistik, sejak regresi logistik , sering dikaitkan dengan uji klinis , bekerja dengan log dari rasio odds, bukan risiko relatif.
Karena log dari odds ratio diperkirakan sebagai fungsi linear dari variabel
penjelas, rasio odds estimasi 70-year-olds dan 60-year-olds terkait dengan
jenis pengobatan akan sama dalam model regresi logistik dimana hasil dikaitkan
dengan obat dan usia, meskipun risiko relatif mungkin berbeda secara
signifikan. Dalam kasus seperti ini, model statistik dari rasio odds sering
mencerminkan mekanisme yang mendasari lebih efektif.
Karena risiko relatif adalah ukuran
lebih intuitif efektivitas, perbedaan penting terutama dalam kasus menengah
sampai probabilitas tinggi. Jika tindakan A membawa risiko 99,9% dan B aksi
risiko 99,0% maka risiko relatif hanya lebih dari 1, sedangkan peluang terkait
dengan tindakan A lebih dari 10 kali lebih tinggi daripada bertentangan dengan
B.
Dalam penelitian medis, yang rasio odds umumnya digunakan untuk studi kasus kontrol , sebagai peluang, tapi tidak probabilitas, biasanya
diperkirakan. [3]
Risiko relatif digunakan dalam uji coba terkontrol secara acak dan studi kohort . [4]
Dalam pemodelan statistik,
pendekatan seperti regresi poisson (untuk jumlah kejadian per paparan unit) memiliki
interpretasi risiko relatif: efek perkiraan suatu variabel penjelas adalah
perkalian pada tingkat, dan dengan demikian menyebabkan rasio risiko atau
risiko relatif. regresi logistik (untuk biner hasil, atau jumlah keberhasilan dari sejumlah
percobaan) harus ditafsirkan odds ratio-istilah: efek dari variabel penjelas
adalah perkalian pada peluang dan dengan demikian mengarah ke rasio odds.
signifikansi
statistik (kepercayaan) dan risiko relatif
Apakah risiko relatif yang diberikan
dapat dianggap signifikan secara statistik tergantung pada perbedaan relatif antara kondisi
dibandingkan, jumlah pengukuran dan kebisingan yang terkait dengan pengukuran
(dari peristiwa dianggap). Dengan kata lain, satu kepercayaan memiliki, dalam
risiko relatif yang diberikan menjadi non-acak (yaitu itu bukan konsekuensi
dari kesempatan ), tergantung pada rasio signal-to-noise dan ukuran sampel.
Dinyatakan secara matematis,
keyakinan bahwa hasilnya tidak secara kebetulan acak diberikan oleh rumus
berikut Sackett [5]
:
Untuk kejelasan, rumus di atas
disajikan dalam bentuk tabel di bawah ini.
Ketergantungan kepercayaan dengan
ukuran noise, sinyal dan sampel (bentuk tabel)
|
Parameter
|
Parameter
meningkat
|
Parameter
menurun
|
|
Kebisingan
|
Keyakinan menurun
|
Keyakinan meningkat
|
|
Sinyal
|
Keyakinan meningkat
|
Keyakinan menurun
|
|
Ukuran sampel
|
Keyakinan meningkat
|
Keyakinan menurun
|
Dengan kata, kepercayaan yang lebih
tinggi jika kebisingan yang lebih rendah dan / atau ukuran sampel yang lebih
besar dan / atau efek ukuran (sinyal) meningkat. Kepercayaan dari nilai risiko
relatif (dan interval kepercayaan terkait) tidak tergantung pada efek
ukuran saja. Jika ukuran sampel besar dan kebisingan rendah ukuran efek yang
kecil dapat diukur dengan keyakinan besar. Apakah efek ukuran kecil dianggap
penting adalah tergantung pada konteks peristiwa dibandingkan.
Dalam pengobatan, efek ukuran kecil
(tercermin dari nilai risiko relatif kecil) biasanya dianggap relevan secara
klinis (jika ada keyakinan besar di dalamnya) dan sering digunakan untuk
memandu keputusan pengobatan. Sebuah risiko relatif dari 1,10 mungkin tampak
sangat kecil, tetapi lebih dari sejumlah besar pasien akan membuat perbedaan
nyata. Apakah pengobatan yang diberikan dianggap sebagai usaha yang layak tergantung
pada, manfaat risiko dan biaya.
Tes
SE (log (RR)) = sqrt ([1 / a + 1 /
c] - [1 / (a + b) + 1 / (c + d)])
Ini adalah pendekatan asimtotik.
Interval rasio resiko kepercayaan didasarkan pada distribusi sampling
Hal ini dianggap (sekitar) normal
dengan
dan
di mana m adalah mean dan s
2 adalah varians. Interval kepercayaan 95% (CI) untuk risiko
relatif adalah
Dalam aplikasi ini menggunakan
estimator ukuran sampel harus setidaknya 25.
Contoh
Bekerja
|
Contoh
1: pengurangan risiko
|
Contoh
2: meningkatkan risiko
|
|||||
|
Eksperimental
kelompok (E)
|
Kelompok kontrol (C)
|
Total
|
(E)
|
(C)
|
Total
|
|
|
Acara (E)
|
EE = 15
|
CE = 100
|
115
|
EE = 75
|
CE = 100
|
175
|
|
Non-peristiwa (N)
|
EN = 135
|
CN = 150
|
285
|
EN = 75
|
CN = 150
|
225
|
|
Jumlah subyek (S)
|
ES = EE + EN = 150
|
CS = CE + CN = 250
|
400
|
ES = 150
|
CS = 250
|
400
|
|
Acara tingkat (ER)
|
EER = EE / ES = 0,1, atau 10%
|
CER = CE / CS = 0,4, atau 40%
|
EER = 0,5 (50%)
|
CER = 0,4 (40%)
|
||
|
Persamaan
|
Variabel
|
Contoh
1
|
Contoh
2
|
|
|
CER - EER
|
ARR
|
(-) 0,3, atau (-) 30%
|
N
/ A
|
|
|
> 0: meningkatkan risiko
absolut
|
ISPA
|
N
/ A
|
0,1, atau 10%
|
|
|
(CER - EER) / CER
|
RRR
|
(-) 0,75, atau (-) 75%
|
N
/ A
|
|
|
> 0: peningkatan risiko relatif
|
RRI
|
N
/ A
|
0,25, atau 25%
|
|
|
1 / (CER - EER)
|
NNT
|
(-) 3,33
|
N
/ A
|
|
|
NNH
|
N
/ A
|
10
|
||
|
EER / CER
|
risiko relatif
|
RR
|
0.25
|
1.25
|
|
(EE / EN) / (CE / CN)
|
OR
|
0.167
|
1.5
|
|
|
EER - CER
|
AR
|
(-) 0,30, atau (-) 30%
|
0,1, atau 10%
|
|
|
(RR - 1) / RR
|
ARP
|
N
/ A
|
20%
|
|
|
1 - RR (atau 1 - OR)
|
PF
|
0,75, atau 75%
|
N
/ A
|
- Contoh 3: Rasio disajikan untuk masing-masing kelompok eksperimen dan kontrol Dalam risiko penyakit-2 × 2 tabel di atas, misalkan a + c = 1 dan b + d = 1 dan jumlah pasien dan orang sehat menjadi m dan n. , masing-masing. Kemudian rasio prevalensi menjadi p = m / (m + n). Kita dapat menempatkan q = m / n = p / (1 - p). Demikian
Jika p cukup kecil, maka q akan cukup kecil
dan salah satu dari (b / d) q dan (a / c) q akan
cukup kecil untuk dianggap sebagai 0 dibandingkan dengan 1. RR akan
dikurangi dengan rasio aneh seperti di atas.
Di antara Jepang, bukan sebagian kecil pasien penyakit
Behçet yang dianugerahkan dengan tipe HLA tertentu, yaitu HLA-B51 gen. [6]
Dalam sebuah survei, proporsinya 63% dari pasien dengan gen ini, sementara pada
orang sehat rasio adalah 21%. [6]
Jika angka-angka yang dianggap representatif untuk sebagian besar orang Jepang,
dengan menggunakan nilai-nilai dari 12.700 pasien di Jepang pada tahun 1984 dan
penduduk Jepang sekitar 120 juta pada tahun 1982, maka RR = 6.40.
Bandingkan dengan rasio aneh 6.41.
Lihat
pula
- Absolute pengurangan risiko
- (Populasi) yang timbul risiko
- Confidence interval
- Jumlah yang diperlukan untuk mengobati (NNT)
- Jumlah yang diperlukan untuk menyakiti (NNH)
- OpenEpi
- Epi Info
- Asumsi langka penyakit
rasio
statistik
Referensi
2.
^ Lihat
misalnya Stata FAQ pada CI untuk odds ratio rasio hazard,, IRR, dan RRRs di http://www.stata.com/support/faqs/stat/2deltameth.html
3.
^ Deeks J
(1998). "Ketika bisa odds ratio menyesatkan Odds rasio harus
digunakan hanya dalam studi kasus-kontrol dan analisis regresi logistik?" BMJ 317 (7166):. 1.155-6. PMC 1.114.127
. PMID 9.784.470
/ / Www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC1114127/.
4.
^ Medical
University of South Carolina. Odds rasio dibandingkan risiko relatif . Diakses pada tanggal: 8 September 2005.
5.
^ Sackett
DL. Mengapa uji coba terkontrol secara acak gagal tetapi tidak perlu: 2.
Kegagalan untuk mempekerjakan statistik fisiologis, atau rumus hanya
dokter-trialist yang pernah mungkin perlu (atau memahami!). CMAJ. 2.001 30
Oktober, 165 (9) :1226-37. PMID 11.706.914
. Full Text Gratis
.
6.
^ a
b
Ohno S, M Ohguchi, Hirose S, Matsuda H, Wakisaka A, Aizawa M (1982).
"Tutup asosiasi HLA-BW51, MT2 dan penyakit Behçet itu," Di
Inaba, G, ed. (1982) Behçet s Disease:. Pathogenetic Mekanisme dan Masa
Depan Klinis: Prosiding Konferensi Internasional tentang Penyakit Behçet itu,
diadakan 23-24 Oktober, 1981 hlm 73-79, Tokyo: Universitas Tokyo Press, ISBN 0-86008-322-5
.
2.
Langkah-langkah Studi Cross Sectional
Untuk melakukan penelitian dengan
pendekatan cross sectional dibutuhkan langkah-langkah sebagai berikut.
a.
Identifikasi dan perumusan masalah
Masalah yang akan diteliti harus
diidentifikasi dan dirumuskan dengan jelas agar dapat ditentukan tujuan penelitian
dengan jelas
Identifikasi masalah dapat dilakukan
dengan mengadakan penelaahan terhadap insidensi dan prevalensi berdasarkan
catatan yang lalu untuk mengetahui secara jelas bahwa masalah yang sedang
dihadapi merupakan masalah yang penting untuk diatasi melalui suatu penelitian.
Dari masalah tersebut dapat diketahui lokasi masalah tersebut berada.
b.
Menetukan tujuan penelitian
Tujuan penelitian harus dinyatakan
dengan jelas agar orang dapat mengetahui apa yang akan dicari, dimana akan
dicari, sasaran, berapa banyak dan kapan dilakukan serta siapa yang
melaksanakannya.
Sebelum tujuan dapat dinyatakan
dengan jelas, hendanya tidak melakukan tindakan lebih lanjut. Tujuan penelitian
merupakan hal yang sangat penting dalam suatu penelitian karena dari tujuan ini
dapat ditentukan metode yang akan digunakan.
c.
Menentukan lokasi dan populasi studi
Dari tujuan penelitian dapat
diketahui lokasi penelitian dan ditentukan pula populasi studinya. Biiasanya,
penelitian cross sectional tdak dilakukan terhadap semua subjek studi,
tetapi dilakukan kepada sebagian populasi dan hasilnya dapat diekstrapolasi
pada populasi studi tersebut.
Populasi studi dapat berupa populasi
umum dan dapat berupa kelompok populasi tertentu tergantung dari apa yang
diteliti dan di mana penelitian dilakukan
Agar tidak terjadi kesalahan dalam
pengumpulan data, sasaran yang dituju yang disebut subjek studi harus diberi
criteria yang jelas, misalnya jenis kelamin, umur, domisili, dan penyakit yang
diderita. Hal ini penting untuk mengadakan ekstrapolasi hasil penelitian yaitu
kepada siapa hasil penelitian ini dilakukan
d.
Menentukan cara dan besar sampel
Pada penelitian cross sectional
diperlukan perkiraan besarnya sampel dan cara pengambilan sampel. Perkiraan
besarnya sampel dapat dihitung dengan rumus Snedecor dan Cochran berikut.
1)
Untuk data deskrit
n= besar sampel
p= proporsi yang diinginkan
q= 1-p
Z= simpangan dari rata- rata
distribusi normal standard
L= besarnya selisih antara hasil
sampel dengan populasi yang masihh dapat diterima
2)
Untuk data kontinyu
S2= varian sampel
Cara pengambilan sampel sebaiknya
dilakukan acak dan disesuaikan dengan kondisi populasi studi, besarnya sampel,
dan tersediannya sampling frame yaitu daftar subjek studi pada populasi
studi.
e.
Memberikan definisi operasional
f.
Menentukan variable yang akan diukur
g.
Menyusun instrument pengumpulan data
Instrument yang akan digunakan dalam
penelitian harus disusun dan dilakukan uji coba. Instrument ini dimaksudkan
agar tidak terdapat variable yang terlewatt karena dalam instrument
tersebut berisi semua variable yang hendak diteliti
Instrument dapat berupa daftar
pertanyaan atau pemeriksaan fisik atau laboratorium atau radiologi dan lain-
lain disesuaikan dengan tujuan penelitian
h.
Rancangan analisis
Analisis data yang diperoleh harus
sudah dirrencanakan sebelum penelitian dilaksanakan agar diketahui perhitungan
yang akan digunakan. Rancangan analisis harus disesuaikan dengan tujuan
penelitian agar hasil penelitian dapat digunakan untuk menjawab tujuan
tersebut.
3.
Keuntungan dan Kekurangan Cross Sectional
Penelitian yang dilakukan dengan
pendekatan cross sectional mempunyai beberapa keuntungan dan kerugian
sebagai berikut.
Keuntungan dari cross sectional yaitu
:
- Mudah untuk dilaksanakan
- Hasil segera diperoleh
- Dapat menjelaskan hubungan antara fenomena kesehatan yang diteliti dengan faktor-faktor terkait (terutama karakteristik yang menetap)
- merupakan studi awal dari suatu rancangan studi kasus-kontrol maupun kohort
- Dalam penelitian epidemiologi, pendekatan cross sectional merupakan cara yang cepat dan murah untuk mendeteksi adanya kejadian luar biasa
- Penelitian cross sectional dapat menghasilkan hipotesis spesifik untuk penelitian analitis (baseline information).
- Pendekatan cross sectional dapat digunakan untuk mengetahui prevalensi penyakit tertentu dan masalah kesehatan yang terdapat dimasyarakat dan dengan demikian dapat digunakan untuk menyusun perencanaan pelayanan kesehatan
- Memudahkan pengumpulan data dalam waktu relative singkat
Disamping beberapa keuntungan yang
telah disebutkan di atas, penelitian dengan pendekatan cross sectional
tidak luput dari beberapa kerugian berikut
- Hanya kasus prevalens atau yang tidak terkena dampak tertentu yang diteliti
- Membutuhkan skema sampling yang terencana baik sehingga dapat memberikan kesempatan yang sama kepada setiap orang untuk terpilih
- Penelitian cross sectional tidak dapat digunakan untuk memantau perubahan yang terjadi dengan berjalannya waktu
Untuk mengatasi kelemahan ini dapat
dilakukan dengan mengadakan penelitian cross sectional berulang- ulang
agar dapat diketahui perubahan yang terjadi, misalnya perubahan prevalensi
penyakit TBC di suatu daerah, tetapi cara ini juga mempunyai kelemahan
yaitu pada penelitian berikutnya telah terjadi perubahan dalam distribusi
golongan umur dan orang- orang dengan golongan umur tertentu yang bukan berasal
dari kohort yang sama karena kemungkinan terjadi migrasi ke dalam atau ke
luar.
Contoh lain adalah survey untuk
memperoleh gambaran kesehatan masyarakat disekitar bendungan yang dilakukan
sebelum dan setelah dibangunnya bendungan PLTA Cirata, Jawa Barat (Eko
Budiarto, dkk., 1982). Penelitian ini menggunakan rancangan pre- intervensi dan
post intervensi tanpa kelompok kontrol
d.
Informasi yang diperoleh tidak mendalam sehingga sering kali masalah kesehatan
yang dicari tidak diperoleh.
- Sulit untuk perhitungan besarnya resiko secara akuran dan sulit menentukan besarnya insidensi penyakit
- Lebih membutuhkan subjek yang lebih besar terutama bila variable yang diteliti cukup banyak
- Tidak dapat digunakan untuk penelitian terhadap penyakit yang jarang dalam masyarakat
- 1. Cross-sectional
Study cross-sectional merupakan rancangan studi epidemiologi yang mempelajari
hubungan penyakit dan paparan (faktor penelitian) dengan cara mengamati status
paparan dan penyakit secara serentak pada individu-individu dari populasi
tunggal, pada satu saat atau periode ( misalnya satu tahun kalender
dilangsungkannya penelitian ). Dalam rancangan studi cross-sectional,
peneliti “memotret” frekuensi dan karakter penyakit serta paparan faktor
penelitian pada satu saat tertentu. Konsekuensinya, data yang dihasilkan adalah
prevalensi bukan insidensi.
- Kelebihan
Kelebihan dari studi ini adalah
kemudahannya untuk dilakukan dan lebih murah karena tidak memerlukan
follow-up. Jika tujuan penelitiannya hanya untuk untuk mendeskripsikan
distribusi penyakit dihubungkan dengan paparan faktor-Faktor penelitian maka
studi cross-sectional merupakan studi yang cocok, efisien dan cukup kuat
dari segi epidemiologik. Selain itu, studi ini tidak “memaksa” subjek untuk
mengalami faktor yang diperkirakan merugikan kesehatan (faktor resiko).
- Kekurangan
Tidak tepat bila digunakan untuk
menganalisis hubungan kausal paparan dan penyakit karena sulit memenuhi
hubungan kausal yang menuntut sekuensi waktu yang jelas antara paparan dan
penyakit.
Keterbatasan-keterbatasan yang
inheren pada studi cross-sectional merupakan alasan mengapa studi
rancangan studi ini lebih tepat dimanfaatkan untuk mendeskripsikan frekuensi
dan karakteristik populasi sasaran, yang diperlukan untuk mengevaluasi status
kesehatan dan kebutuhan pelayanan kesehatan masyarakat populasi sasaran.
Ada keadaan tertentu dimana rancangan studi cross-sectional dapat digunkan
untuk mempertimbangkan penelitian analitik yaiut apabila variabel hasil relatif
tidak berubah sepanjang masa. Contohnya warna mata dan golongan darah.
Sayangnya sebagian besar variabel hasil berubah dengan bergulirnya waktu
sehingga pada prinsipnya data studi ini lebih tepat digunakan untuk
menggambarkan karakteristik penyakit pada populasi dan merumuskan hipotesis
dari pada untuk mengujinya.
Contoh aplikasi study ini adalah
penelitian prevalensi asma pada anak sekolah di Semarang.
- 2. Study case control
Study case control adalah rancangan studi epidemiologi yang mempelajari
hubungan antara paparan (faktor penelitian) dan penyakit, dengan cara
membandingkan kelompok kasus dan kelompok kontrol berdasarkan status
paparannya. Ciri-ciri studi case control adalah pemilihan subjek
berdasarkan status penyakit, untuk kemudian dilakukan pengamatan apakah subjek
mempunyai riwayat terpapar faktor penelitian atau tidak. Subjek yang
didiagnosis menderita penyakit disebut kasus, berupa insidensi (kasus baru)
yang muncul dari suatu populasi. Sedangkan subjek yang tidak menderita penyakit
disebut kontrol yang diambil secara acak dari populasi yang berbeda dengan
populasi kasus. Tetapi untuk keperluan inferensi kausal, kedua populasi harus
setara.
Secara tradisional, studi case
control disebut juga studi retrospektif (Kleinbaum et al., 1982; Mausner
and Kramer, 1985; Sackett et al., 1991). Alasannya karena arah pengusutan
rancangan tersebut bergerak dari akibat (penyakit) ke sebab (paparan). Subjek
dipilih berdasarkan telah mempunyai kesudahan (outcome) tertentu, lalu dilihat
ke belakang tentang riwayat status paparan penelitian yang dialami
subjek.
Tetapi menurut Hennekens dan Buring
(1987), studi case contro dapat bersifat retrospektik maupun prospektif,
tergantung kepada kapan peneliti membuat klasifikasi status penyakit subjek
untuk dipilih dalam penelititan. Apabila klasifikasi status penyakit masih akan
dilakukan pada waktu yang akan datang, maka studi case control bersifak
prospektif begitu juga sebaliknya jika klasifikasi status penyakit telah atau
sedang dibuat pada saat penelitian dimulai maka studi case control bersifat
retrospektif.
- Kelebihan
Kelebihan dari studi case control
adalah pertama karena sifatnya yang relatif murah dan mudah dilakukan dari
pada rancangan studi analitik lainnya. Kedua, cocok untuk meneliti penyakit
dengan periode laten yang panjang. Peneliti tidak perlu mengikuti perkembangan
penyakit pada subjek selama bertahun-tahun melainkan cukup mengidentifikasi
subjek yang telah mengalami penyakit dan yang tidak mengalami penyakit lalu
mencatat riwayat paparan mereka. Ketiga, karena subjek penelitian dipilih
berdasarkan status penyakit, maka peneliti memiliki keleluasaan
menentukan rasio ukuran sampel kasus dan kontrol yang optimal, sehingga
rancangan ini tepat untuk sekali untuk meneliti penyakit langka. Keempat, dapat
meneliti pengaruh sejumlah paparan terhadap sebuah penyakit. Karakter ini
menyebabkan tidak hanya cocok untuk menguji hipotesa hubungan antara paparan
dan penyakit tetapi juga tepat untuk mengeksplorasi kemungkinan hubungan
sejumlah paparan dan penyakit yang masih belum jelas.
- Kelemahan
Kelemahan pertama studi ini adalah
alur metodologi inferensial kausalnya yang bertentangan dengan logika
eksperimen klasik (Schneiderman dan Levin, 1973). Lazimnya penelitian diawali
dengan identifikasi paparan (penyebab) kemudian diikuti selama periode waktu
tertentu untuk melihat perkembangan penyakit (akibat). Karena pemilihan subjek
dalam studi case control dilakukan setelah subjek terpapar atau sedang
terpapar maka studi ini rawan terhadap bias, baik bias seleksi maupun maupun
bias informasi.
Kedua, secara umum studi ini tidak
efisien untuk mempelajari paparan yang langka. Paparan yang langka dapat
diteliti dengan studi ini asalkan beda resiko antara populasi yang berpenyakit
dan yang tidak berpenyakit cukup tinggi. Untuk itu dibutuhkan ukuran sampel
sangat besar, disamping prevalensi paparan pada populasi penyakit cukup tinggi.
Ketiga, karena subjek dipilih
berdasarkan status penyakit maka dengan studi case control pada umumnya
peneliti tidak dapat menghitung laju insidensi (yaitu kecepatan kejadian
penyakit) baik pada populasi yang terpapar maupun yang tidak terpapar. Itulah
sebabnya untuk menghitung resiko relatif digunakan ukuran rasio odds (OR).
Keempat, pada beberapa situasi
tidak mudah untuk memastikan hubungan temporal antara paparan dan
penyakit. Oleh karena itu, dalam riset etiologi, untuk meyakinkan bahwa paparan
mendahului penyakit, maka peneliti dianjurkan menggunakan insidensi ketimbang
prevalensi (Blakley, 1990).
Kelima, kelompok kasus dan kelompok
kontrol dipilih dari dua populasi terpisah, sehingga sulit dipastikan apakah
kasus dan kontrol pada populasi studi benar-benar setara dalam hal
faktor-faktor luar dan sumber-sumber distorsi lainnya.
Sebagai aplikasi study diatas
misalnya dikumpulkan 50 bayi yang menunjukan manifestasi asma pada umur kurang
dari 1 tahun, kelompok tersebut adalah kelompok kasusyaitu yang mempunyai efek.
Sebagai kontrol dicari 50 bayi kuranng dai 1 tahun yang tidak menunjukan
manifestasi asma. Pada kedua kelompok ditelusuri secara retrospektif dengan
wawancara yang teliti apakah beri susu formula selama 1 bulan. Dengan demikian
dapat diketahui berapa proporsi subjek yang diberi susu formula sebelum erumur
1 bulan.
- 3. Study Cohort
Study cohort adalah rancangan studi
yang mempelajari hubungan antara paparan dan penyakit, dengan cara
membandingkan kelompok terpapar (faktor penelitian) dan kelompok tidak terpapar
berdasarkan status paparannya. Ciri-ciri studi cohort adalah pemilihan subjek
berdasarkan status paparannya, dan kemudian dilakukan pengamatan dan pencatatan
apakah subjek dalam perkembangannya mengalami penyakit atau tidak.
Pada saat mengidentifikasi status
paparan semua subjek harus bebas dari penyakit yang diteliti. Studi cohort
disebut juga studi follow-up (kleinbaum et al., 1982; Rothman, 1986), sebab
cohort diikuti dalam suatu periode untuk diamati perkembang penyakit yang
dialaminya.
- a. Keuntungan
- Kesesuaiannya dgn logika inferensi kausal yaitu penelitian dimulai dgn menentukan penyebab dan diikuti dengan akibat, pada saat penelitian dimulai seluruh subjek dalam kondisi tidak memiliki penyakit yang sedang diamati.
2. Memungkinkan peneliti untuk
menghitung laju insidensi, yang memberi gambaran lebih lengkap mengenai potensi
dan kecenderungan suatu papara.
3. Memungkinkan peneliti mempelajari
berbagai efek secara bersama yg ditimbulkan oleh sebuah paparan. Contoh
meskipun sebuah studi prospektif awalnya ditujukan untuk mengamati asosiasi
antara kebiasaan merokok ( merokok dan tidak merokok) dengan kanker paru.
4. Kemungkinan bias seleksi subjek
dlm studi prospektif ini kecil, krn penyakit yg diamati belum muncul, berbeda
dgn studi retrospektif ( case control atau retrospektif kohort)
b. Kelemahan
1. Memerlukan waktu penelitian
yang panjang bahkan kadang sangat panjang
2. Biaya yang sangat besar
3. Keberadaan subjek dan
peneliti sendiri ( mungkin justru meninggal krn factor lain atau tidak dapat
meneruskan dgn alas an lain)
Contoh penelitian kohort adalah
adakah pengaruh berenang dengan pengobatan asma.




Tidak ada komentar:
Posting Komentar