Pages

penyakit kekurangan energi protein



A.    Kekurangan energy Protein

Pengertian
Kurang Energi Protein (KEP) adalah seseorang yang kurang gizi yang disebabkan oleh rendahnya komsumsi energi dan protein dalam makanan sehari –hari atau gangguan penyakit – penyakit tertentu. Anak tersebut kurang energi protein(KEP) apabila berat badanya kurang dari 80 % indek berat badan/umur bakustandar,WHO –NCHS, (DEPKES RI,1997)

Jenis jenis
Untuk tingkat puskesmas penentuan KEP yang dilakukan dengan menimbang berat
badan anak dibanding dengan umur dan menggunakan KMS dan tabel BB/U Baku
Median WHO – NCHS.
·         KEP ringan bila hasil penimbangan berat badan pada KMS terletak pada pita kuning
·         KEP sedang bila hasil penimbangan berat badan pada KMS terletak di Bawah Garis Merah ( BGM ).
·         KEP berat/gizi buruk bila hasil penimbangan BB/U < 60 % baku median WHO-NCHS. Pada KMS tidak ada garis pemisah KEP berat/gizi buruk dan KEP sedang, sehingga untuk menentukan KEP berat/gizi buruk digunakan taqbel BB?U Baku median WHO-NCHS.

Penyebab :
o   Pendapatan Keluarga Perkapita
Komsumsi makanan yang berkurang sering dialami oleh penduduk yang berpendapatan rendah.Hal ini disebabkan oleh daya beli keluarga yang rendah. Pendapatan keluarga akan mempengaruhi pola pengeluaran komsumsi keluarga. Tingkat pendapatan yang nyata dari keluarga menentukan jumlah dan kualitas makanan yang diperoleh. (Suhardjo,1989)
Masalah komsumsi pangan, rata- rata komsumsi energi dan protein secara nasional meningkat dengan tajam. Pada tahun 1984 rata – rata komsumsi energy perkapita 1798 kalori,meningkat menjadi 1905 kalori pada tahun 1990 dan menjadi 1962 kalori pada tahun 1995. Sedangkan dalam kurun waktu yang sama rata – rata komsumsi protein meningkat menjadi dari 43,3 gram,45,4 dan 49,2 perkapita/ hari. (SKPG. 1998)
o   Pendidikan
Pendidikan adalah usaha sadar dan sistematis yang berlangsung seumur hidup dalam rangka mengalihkan pengetahuan oleh seseorang kepada orang lain (Siagian,1991). Pendidikan terutama pendidikan ibu berpengaruh sangat kuat terhadap kelangsungan anak dan bayinya. Pada masyarakat dengan rata –rata pendidikan rendah menunjukan prevalensi gizi kurang yang tinggi dan sebaliknya pada masyarakat yang pendidikannya cukup tinggi prevalensi gizi kurangnya rendah( Abunain,1988) Ibu yang pendidikan tinggi akan memilih jenis dan jumlah makanan untuk keluarga dengan mempertimbangan syarat gizi disamping mempertimbangkan factor selera oleh karena itu ibu rumah tangga pada umumnya yang mengatur dan menentukan segala urusan makanan dan kebutuhan keluarga (Suhardjo,1986) Seseorang yang pendidikannya lebih tinggi mempunyai pengertian yang lebih baik akan kesehatan gizi dengan menangkap informasi dan menafsirkan informasi tersebut guna kelansungan hidupnya lebih – lebih pada jaman kemajuan ilmu tehnologi.Dengan berbekal pendidikan yang cukup seseorang ibu akan lebih banyak memperoleh informasi serta lebih tanggap terhadap permasalahan yang dihadapi.Dengan demikian mereka dapat memilih serta menentukan aternatif lebih baik untuk kepentingan rumah tangganya termasuk dalam menentukan pemberian makanan bagi balita yang ada dirumah tangga tersebut (Biro Pusat Statistik,1993)
o   Pekerjaan
Anak nelayan tradisional mempunyai resiko menjadi kurang gizi tiga kali lebih besar dibanding pada anak peternak, petani pemilik lahan, ataupun tenaga kerja terlatih. Hal penelitian ini juga menunjukan bahwa pengelompokan pekerjaan yang terlalu umum misalnya nelayan saja bisa mengatur pertumbuhan peranan factor pekerjaan orang tua terhadap resiko anak mereka untuk menderita kurang gizi, resiko kurang gizi pada anak nelayan tradisional tiga kali lebih besar dibanding anak nelayan yang punya perahu bermotor. Efek ganda ( interaksi ) dari berbagai faktor sosial ekonomi dalam menyebabkan jatuhnya seorang anak pada keadaan kurang gizi perlu diperhitungkan. (Mc Lean, W.1984).
o   Keadaan Sanitasi Lingkungan
Faktor utama yang mempengaruhi kesehatan anak dan juga kesehatan orang dewasa adalah tersedianya air bersih dan sanitasi yang aman. Semua ini bukan saja penting untuk kesehatan dan kesejahteraan manusia,tetapi juga sangat membantu bagi emansipasi kaum wanita dari beban kerja berat yang mempunyai dampak yang merusak terhadap anak – anak, terutama anak- anak perempuan. Kemajuan dalam kesehatan anak tidak mungkin dipertahankan jika sepertiga dari anak- anak didunia ketiga tetap tidak menikmati sarana sanitasi yang layak. Berdasarkan pengalaman pada dasa warsa yang lalu,termasuk inovasi yang banyak jumlahnya dalam tehnik dan tekhnologi-tekhnologi yang sederhana dan murah untuk menyediakan air bersih dan sarana sanitasi yang aman didaerah pedesaan dan perkampungan kumuh dikota,kini patut dan layak melalui tindakan nasional bersama dan kerjasama internasional untuk menyediakan air minum yang amam dan sarana pembuangan kotoran manusia yang aman untuk semua (DEPKESRI,1990)

Gejala klinis
Untuk KEP ringan dan sedang, gejala klinis yang ditemukan hanya anak tampak kurus. Gejala klinis KEP berat/gizi buruk secara garis besar dapat dibedakan sebagai marasmus, kwashiorkor atau marasmickwashiokor.Tanpa mengukur/melihat BB bila disertai oudema yang bukan karena penyakit lain adalah KEP berat/gizi buruk tipe kwashiorkor.
o   Kwashiokor
ü  Oudema,umumnya seluruh tubuh,terutama pada pada punggung kaki (dorsum pedis )
ü  Wajah membulat dan sembab
ü  Pandangan mata sayu
ü  Rambut tipis, kemerahan seperti warna rambut jagung, mudah dicabut tanpa rasa sakit,rontok
ü   Perubahan status mental, apatis dan rewel
ü  Pembesaran hati
ü  Otot mengecil(hipotrofi), lebih nyata bila diperiksa pada posisi berdiri atau duduk
ü  Kelainan kulit berupa bercak merah muda yang meluas dan berubah warna menjadi coklat kehitaman dan terkelupas
ü   Sering disertai penyakit infeksi, umumnya akut,anemia dan diare.
o   Marasmus
ü  Tampak sangat kurus,tinggal tulang terbungkus kulit
ü  Wajah seperti orang tua
ü  Cengeng rewel
ü  Kulit keriput,jaringan lemak subkutis sangat sedikit sampai tidak ada (pakai celana longgar )
ü  Perut cekung
ü  Iga gambang
ü  Sering disertai , penyakit infeksi( umumnya kronis berulang), diare kronis atau konstipasi/susah buang air.
o   Marasmik- kwashiorkor
Gambaran klinik merupakan campuran dari beberapa gejala klinik kwashiorkor dan marasmus, dengan BB/U< 60 % baku median WHO-NCHS disertai oedema yang tidak mencolok.(DEPKES RI. 1999)

Penanggulangan
Kegiatan penanggulangani KEP meliputi:
·         Pemantapan UPGK dengan: meningkatkan upaya pemantauan pertumbuhan dan perkembangan balita melalui kelompok dan dasa wisma.
·         Penanganan khusus KEP berat secara lintas program dan lintas sektoral.
·         Pengembangan sistem rujukan pelayanan gizi di Posyandu dalam rehabilitasi gizi terutama di daerah miskin.
·         Peningkatan gerakan sadar pangan dan gizi melalui KIE yang berkesinambungan.
·         Peningkatan pemberian ASI secara eksklusif.
·         Penanggulangan KEK (Kurang Energi Kronik) pada ibu hamil didasarkan hasil penilaian dengan alat ukur LILA (Lingkar Lengan Atas).
Program yang dilaksanakan adalah secara multisektoral dengan kerjasama pihak lain seperti Depkes, Deptan Perguruan Tinggi, dll.

B.     Gangguan bicara dan gangguan pendengaran

Gangguan bicara

Pengertian
Gangguan bicara merujuk pada beberapa kondisi di mana seseorang mengalami kesulitan berkomunikasi melalui mulut. Berbicara adalah salah satu cara kita berkomunikasi dengan orang-orang di sekitar kita. Berbicara juga salah cara yang efektif untuk memantau pertumbuhan normal dan pengembangan serta untuk mengidentifikasi potensi masalah pada anak.

Jenis
Gangguan bicara itu antara lain gagap atau pengucapan (artikulasi) yang tidak pas. Bisa juga berupa gangguan suara di mana ada kelainan pada kualitas dan kenyaringan dari suara.

Penyebab
Ada banyak potensi penyebab gangguan bicara. Penyebab paling umum adalah keterbelakangan mental. Sedangkan penyebab lain meliputi:
·         Attention deficit disorder (ADD)
·          Autis
·          Cerebral palsy
·          Bibir sumbing
·          Gangguan pada langit-langit mulut
·          Gangguan pendengaran
·          Skizofrenia
·          Cedera pita suara
Perkembangan bicara yang tertunda adalah salah satu gejala umum dari perkembangan anak-anak yang mengalami penundaan. Sekitar 5-10% dari semua anak mengalami penundaan gangguan berbicara. Anak laki-laki lebih cenderung berpotensi mengalami gangguan ini.

Gejala
·         Pengulangan suara, kata, atau frasa setelah usia 4
·         Frustrasi ketika berkomunikasi
·         Menyentak kepala sambil berbicara
·         Mata berkedip sambil berbicara
·         Malu berbicara

Penaggulangan
Pengobatan terbaik adalah pencegahan dan intervensi dini. Namun jika sudah terlanjur dapat dirawat dengan terapi berbicara yang membutuhkan waktu relatif lama dan dengan perawatan yang konsisten.

Gangguan Pendengaran

Pengertian
Gangguan pendengaran merupakan ketidakmampuan secara parsial atau total untuk mendengarkan suara pada salah satu atau kedua telinga.



Jenis
Empat tipe gangguan pendengaran, yakni:
·         Gangguan pendengaran sensorineural merupakan jenis gangguan pendengaran yang disebabkan oleh hilangnya atau rusaknya sel saraf (sel rambut) di dalam koklea atau rumah siput dan biasanya bersifat permanen. Gangguan pendengaran sensorineural disebut juga tuli saraf. Untuk gangguan pendengaran ringan hingga berat dapat diatasi dengan alat bantu dengar atau implan telinga tengah. Sedangkan, untuk gangguan pendengaran berat atau parah sering dapat diatasi dengan implan rumah siput.
·          Gangguan pendengaran konduktif, yang menunjukkan adanya masalah di telinga luar atau tengah yang menyebabkan tidak terhantarnya bunyi dengan tepat ke telinga dalam. Dalam beberapa kejadian, gangguan pendengaran jenis ini biasanya bersifat sementara. Pengobatan atau bedah, alat bantu dengar maupun implan telinga tengah dapat membantu mengatasi gangguan pendengaran jenis ini tergantung pada penyebab khusus masalah pendengaran tersebut.
·          Gangguan pendengaran campuran, yang merupakan gabungan pendengaran sensorineural dan konduktif. Pilihan penanganan untuk mengatasi gangguan pendengaran jenis ini dapat dengan melakukan pengobatan, bedah, alat bantu dengar atau implan pendengaran telinga tengah.
·         Gangguan pendengaran saraf merupakan gangguan pendengaran yang diakibatkan tidak adanya atau rusaknya saraf pendengaran. Hal tersebut dapat terjadi jika saraf auditori tidak dapat mengirim sinyal ke otak. Gangguan pendengaran jenis ini biasanya parah dan permanen. Dalam banyak kejadian, implan Batang Otak Auditory (ABI) dapat menjadi pilihan.
Penyebab
·         Faktor genetik
·         Faktor didapat, misalnya akibat terjadi infeksi, neonatal hiperbilirubinemia (terjadi pada bayi yang baru lahir), masalah perinatal (prematuritas, anoksia berat), konsumsi obat ototoksik (beberapa golongan antibiotika), terjadi trauma (fraktur tulang temporal, pendarahan pada telinga tengah atau koklea, dislokasi osikular, dan trauma suara), dan neoplasma (misalnya, tumor pada telinga tengah).
Gejala
·         Gejala gangguan pendengaran bawaan
Gangguan pendengaran mungkin hadir dalam beberapa kondisi sejak lahir. Gejala kondisi ini meliputi:
o   bayi tidak kaget dengan suara keras
o   tidak mengubah nya kepala ke sumber suara sementara di bawah empat bulan
o   tidak mengatakan setiap kata bahkan pada usia satu
o   melihat ibu tetapi tidak menanggapi dia menelepon dia.
o   tampaknya untuk mendengar beberapa suara tapi tidak semua suara
Secara umum, anak-anak dengan keterlambatan dalam belajar untuk berbicara, jelas pidato, berbicara keras atau meminta speaker untuk mengulang sendiri dan menyalakan volume TV sehingga hal ini sangat keras menunjukkan bahwa mungkin ada gangguan pendengaran.
Keluhan umum meliputi:
o   kesulitan dalam mendengar dan pemahaman percakapan
o   kesulitan dalam percakapan berikut melalui telepon
o   mendengarkan musik atau televisi pada volume yang lebih tinggi daripada orang lain
o   bel pintu hilang atau telepon bordering
o   kesulitan menempatkan arah suara melaju
·         Gejala gangguan pendengaran ringan
Ini berarti bahwa pasien dapat mendengar suara paling tenang antara 25-39dB. Jenis gangguan pendengaran berarti kesulitan dalam memahami pidato whispered.


·         Gejala gangguan pendengaran moderat
Orang-orang ini dapat mendengar suara paling tenang antara 40 untuk 69dB. Percakapan normal menjadi sulit bagi orang-orang ini untuk mengikuti.
·         Gejala gangguan pendengaran parah
Suara paling tenang bahwa pasien tersebut dapat mendengar adalah antara 70 untuk 89dB. Pasien ini tidak dapat mendengar kata-kata berteriak dan mungkin memerlukan bahasa isyarat untuk komunikasi.
·         Gejala gangguan pendengaran mendalam
Pasien ini tidak dapat mendengar suara sangat keras yang biasanya menyakiti telinga mendengar normal.
·         Gejala lain pendengaran
o   pelepasan cairan jelas atau nanah dari telinga
o   rasa sakit di telinga yang terpengaruh
o   pusing
o   tinnitus atau dering telinga
o   perasaan kenyang telinga terpengaruh
Penanggulangan
Gangguan pendengaran sendiri dapat diwaspadai dengan melakukan skrining. Skrining bertujuan menemukan kasus gangguan pendengaran sedini mungkin. Pada pemeriksaan lebih lanjut, biasanya anak akan menjalani pemeriksaan audiometri sesuai umur, diantaranya tes OAE (Oto Acoustic Emission) atau BERA (Brainstem Evoked Response Auditory). Cara kerjanya dengan menggunakan komputer serta dibantu sejumlah elektroda yang ditempelkan di permukaan  kulit kepala bayi. Pemeriksaan tersebut bertujuan  untuk memastikan  apakah  memang benar terjadi gangguan pendengaran, jenis gangguan pendengaran  serta letak kelainan yang menimbulkan gangguan pendengaran. Metode OAE atau Oto Acoustic Emission adalah sebuah teknik pemeriksaan kohlea berdasarkan prinsip elektrofisiologik. Dengan OAE bisa diketahui apakah kohlea bisa berfungsi normal sebagai reseptor pendengaran. Cara kerja dari OAE adalah menggunakan komputer serta dibantu sejumlah elektroda yang ditempelkan di permukaan kulit bayi.
C.    Gerak motorik/ lambat jalan

Pengertian                                      
Kelainan alat gerak adalah kelainan komponen alat gerak yang terdiri dari otot ,tulang, syaraf, serta pembuluh darah dan kelainan pola gerak akibat kelainan dari komponen tersebut yang dapat terjadi secara bawaan dan akibat sakit atau traumaru d paksa.(AhmadTohaMuslim,1997).

Jenis dan penanggulangan
Untuk menangani anak dengan gangguan gerak adalah sesuai dengan jenis kelainannya.
·         Intervensi pada anak Polio myelitis
Polio myelitis adalah suatu kelainan pada anggota gerak karena infeksi oleh virus Polio yang masuk ke dalam tubuh melalui makanan dan akan menyerang sumsum tulang belakang pusat sel-sel motorik, sehingga anggota gerak yang disyarafinya akan layuh dan nyeri serta mengecil(atrophy).
Penanganannya berdasarkan stadiumnya,yaitu pada:
ü  Stadium preparalysis dengan cara memberikan : bedrest , isolasi, dan vitamin-vitamin,serta gentlemassa gedengan gosokan ringan.
ü  Stadium paralysis dengan cara memberikan latihan gerak pasif atau aktif yang gentle, mencegah kontraktur, pemakaian splint(spalk) ,pengaturan posisi untuk mengurangi nyeri,dan massage.
ü  Stadium recovery (penyembuhan) dengan cara: mencegah kontraktur ,mengulur otot yang memendek, latihan gerak dengan beban, latihan pola gerak normal, menggunakan brace dan kruk,latihan gerak aktif secara gentle.

·         Intervensi pada anak Muscle Dystrophy
MuscleDystrophy adalah suatu kondisi pada anak yang ditandai dengan pengecilan otot-otot yang progresif.
Penanganannya dengan memberikan: latihan gerakpasif ,mengulur otot yang memendek (stretching), backsplint, kruk, dan walker.
Kontraindikasinya adalah latihan penguatan otot dengan beban karena tidak akan meningkatkan kekuatan otot degeneratif, perlu energy yang besar, mudah lelah, dan mempercepat kemunduran kemampuan fungsional. Istirahat dalam posisi fleksi akan mempercepat kontraktur.
·         Intervensi pada anak Cerebral Palsy
Cerebral Palsy adalah gangguan atau kelainan anggota gerak karenaa danya kerusakan otak. Kadang kerusakannya mempengaruhi bagian lain dari otak sehingga menyebabkan kesulitan dalam penglihatan, pendengaran, komunikasi, dan belajar.
Penanganannya dengan cara mengendurkan otot-otot yang kaku, menggerakkan  berlawanan dengan arah spastiknya, mencegah salah bentuk, memantapkan gerakan yang tidak terkontrol, menguatkan otot yang lemas (floppy), latihan keseimbangan dalam berlutut, berdiri , dan berjalan, control gerakan-gerakan agar tidak gemetar
·         Intervensi pada anak Spina Bifida
Spina Bifida adalah suatu kelainan bawaan dimana terjadi gangguan pertumbuhan vertebra sehingga arcus vertebra tidak menutup sempurna.
Penanganannya  dengan memberikan latihan-latihan gerak yang bersifat gentle, yaitu gerak pasif dangerakassisted.Kontrain dikasinya adalah latihan-latihan yang progresif.
·         Intervensi pada  Plaat Foot
PlaatFoot adalah suatu keadaan dimana arcus medialis plantar pedisakan hilang, sehingga telapak kakirata dengan lantai.
Penanganannya mengulur(Stretching) struktur dorsumpedis dilakukan selama 5 menit, mobilisasi aktif dengan mengaktifkan otot cuff dan tibialis posterior dengan tujuan untuk merangsang gerakan kearah plantar fleksi dan inversi, dan pemakaian sepatu orthopaedi yang dibagian medial diberi support agar terbentuk arcus.


Penyebab tersering anak terlambat berjalan
·         Ketidakmatangan Persyarafan . Kemampuan anak melakukan gerakan motorik sangat ditentukan oleh kematangan syaraf yang mengatur gerakan tersebut. Pada waktu anak dilahirkan, syaraf-syaraf yang ada di pusat susunan syarat belum berkembang dan berfungsi sesuai dengan fungsinya, yaitu mengontrol gerakan-gerakan motorik. Pada usia ± 5 tahun, syaraf-syaraf ini sudah mencapai kematangan, dan menstimulasi berbagai kegiatan motorik. Otot-otot besar yang mengontrol gerakan motorik kasar, seperti berjalan,berlari, melompat dan berlutut, berkembang lebih cepat bila dibandingkan dengan otot-otot halus yang mengontrol kegiatan motorik halus, seperti menggunakan jari-jari tangan untuk menyusun puzzle , memegang pensil atau gunting membentuk dengan plastisin atau tanah liat, dan sebagainya.
·         Gangguan vestibularis atau keseimbangan. Pada anak yang mengalami dysfunction of sensory integration (DSI) sering mengalami gangguan keseimbangan. Gangguan keseimbangan yang terjadi ini seringkali dianggap anak kurang percaya diri. Gangguan keseimbangan ini biasanya ditandai dengan anak takut saat berenang, menaiki mainan yang bergerak dan bergoyang seperti ayunan, mainan kuda-kudaan listrik dengan koin, naik lift atau eskalator. Anak tidak suka naik umumnya di dalam mobil. Anak mungkin tidak kooperatif sebagai upaya menghindari sensasi yang membuat anak terganggu. Anak yang underreactive untuk input vestibular tampaknya tidak pusing bahkan setelah berputar untuk waktu yang lama, dan tampaknya menikmati gerakan cepat seperti berayun. Bila berjalan terburu-buru, gerakannya canggung, mudah tersandung atau jatuh. Dia mungkin tidak membuat upaya untuk menangkap dirinya sendiri ketika dia jatuh. Anak tampak kesulitan memegang kepalanya sambil duduk. Anak tidak cenderung untuk melakukannya dengan baik dalam olahraga. Dia mungkin memiliki gaya canggung, atau gerakan yang tidak biasa ketika bergerak lengan atau kepala. Biasanya juga disertai keterlambatan membaca, menulis, berbicara, dan persepsi visual-spasial yang khas.
·         Keterlambatan ringan perkembangan motorik kasar. Seorang anak yang terlambat berjalan, kemungkinan juga terlambat dalam duduk dan merangkak. Namun sayangnya, keterlambatan ini bukanlah hal pertama yang mungkin disadari oleh para orangtua. Jika ini penyebabnya, maka dokter akan melihat jalan anak dalam konteks yang berbeda dan mencari tahu berada dimana ia dalam rangkaian perkembangan motoriknya. Biasanya juga disertai keterlambatan membaca, menulis, berbicara, dan persepsi visual-spasial yang khas.
·         Gangguan sensoris. Pada kasus tertentu, anak sering mengalami sensitif pada telapak tangan dan kaki. Sehingga hal ini mengakibatkan anak sering jinjit. Selama ini, jalan jinjit atau Tip Toe masih belum diketahui penyebabnya. Meskipun bukan karena kelainan anatomis. Selama ini, orangtua menganggap hal itu adalah memang perilaku anak. Pada anak dengan gangguan sensoris raba biasanya disetai gangguan sensoris suara dan cahaya. Gangguan sensoris suara biasanya anak takut dan tidak nyaman ketika mendengar suara dengan frekuensi tertentu seperti suara blender, suara bayi menangis, suara gergaji listrik. Gangguan sensoris cahaya biasanya anak sangat sensitif terhadap cahaya terang dan sinar matahari.
·         Faktor Predisposisi. Keterlambatan berjalan biasanya sering terjadi pada kelompok anak tertentu seperti : Bayi prematur, obesitas atau kegemukan, bayi lahir dengan berat bada rendah atau kurang dari 2.500 gram, anak dengan gangguan hipersensitif saluraan cerna seperti gastropoesepageal refluks, sering muntah, mual atau sering sulit buang air besar. Keadaan ini sering terjadi pada anak alergi atau hipersensitif saluran cerna.  Sangat jarang pada anak menderita tumor otak, retardasi mental dan cerebral palsy.
Gejala
·         Bayi terlalu kaku atau terlalu lemah. Perhatikanlah apabila si kecil terus berbaring tanpa melakukan gerakan apapun serta kepalanya tidak dapat diangkat saat digendong. Ini menunjukkan motorik aksar si kecil terlalu lemah.
·         Gerak anak kurang aktif. Perhatikan bila gerak anak kurang aktif jika dibandingkan dengan anak sebayanya. Misalnya pada usia 6 bulan belum dapat tengkurap.
Penanggulangan                                                                   
Jika memang ditemukan adanya keterlambatan dalam perkembangan motor kasar si kecil, harus segera ditelusuri penyebabnya sebelum menentukan apa yg harus dilakukan. Bila penyebabnya karena masalah perbedaan pola asuh (terhadap jenis kelamina anak) atau orangtua yg terlalu protekftif, maka pertama-tama yg harus diubah adalah sikap orang tua. Orang tua harus membiarkan anak bergerak bebas sebatas tidak membahayakan si kecil. Dengan upaya ini si kecil semakin terpicu untuk melatih semua tahap perkembangan motor kasarnya.
Tetapi kalau penyebab keterlambatan tersebut karena kelainan tubuh tertentu maka harus dikonsultasikan dengan dokter anak. Berbagai kelainan tersebut misalnya otot yg tidak berkembang secara optimal atau karena adanya gangguan saraf tepi, kelainan sumsum tulang belakang, kurangnya tenaga untuk beraktivitas, ukuran kepala bayi yg abnormal serta kerusakan susunan saraf pusat. Melalui berbagai pemeriksaan dokter dapt mendiagnosa penyebabnya dan mengatasi gangguannya.
D.    Autism

Pengertian
Autistic Spectrum Disorder (ASD) atau yang lebih dikenal dengan autisme adalah suatu gangguan perkembangan neurobiologis yang muncul pada usia awal perkembangan anak sebelum mencapai usia 3 tahun. Gangguan ini mempengaruhi kemampuan seorang anak untuk berinteraksi dan berkomunikasi dengan lingkungan sekitarnya, seolah-olah ia hidup di dunianya sendiri.


jenis
Ada dua jenis autis yaitu Autis Infantil dan autis Schizophrenia.
o   Autis Infantil biasanya terjadi pada anak-anak. Pada penyandang Autis Infantil terdapat kegagalan perkembangan. Gejala Autis Infantil timbul sebelum anak mencapai usia 3 tahun. Pada sebagian anak, gejala-gejala itu sudah ada sejak lahir. Seorang ibu yang sangat cermat memantau perkembangan anaknya sudah akan melihat beberapa keganjilan sebelum anaknya mencapai usia 1 tahun. Yang sangat menonjol adalah tidak adanya atau sangat kurangnya tatap mata.
o   Autis Schizophrenia juga merupakan gangguan yang membuat seseorang menarik diri dari dunia luar dan menciptakan dunia fantasinya sendiri: berbicara, tertawa, menangis, dan marah-marah sendiri. Schizophrenia disebabkan oleh proses regresi karena penyakit jiwa
Penyebab                                             
Autisme tidak memiliki penyebab tunggal dan dapat disebabkan oleh beberapa faktor, termasuk genetik dan lingkungan.
gejala
·         Tidak berbicara, menunjuk sesuatu atau membuat gesture yang bermakna hingga usia 1 tahun
·         Tidak berbicara sepatah kata pun hingga usia 16 bulan
·         Tidak dapat merangkai 2 kata hingga usia 2 tahun
·         Tidak menunjukkan respon ketika dipanggil namanya
·         Mengalami gangguan dalam berbahasa atau kemampuan bersosialisasi
·         Mengalami gangguan dalam kontak mata
·         Terpaku hanya pada 1 mainan atau objek
·         Tidak dapat tersenyum atau berinteraksi dengan baik
·         Terlihat seperti mengalami gangguan pendengaran
·         Menolak memeluk dan memegang
·         Gangguan emosi (bisa menangis atau tertawa sendiri tanpa sebab yang jelas)
·         Suka mengulang-ulang kata yang ia dengar
·         Gangguan dalam tingkah laku seperti gerakan repetitive (pengulangan)
            Penanggulangan
Beberapa pilihan terapi yang biasanya dianjurkan dokter, antara lain:
·         Terapi Biomedik, dikembangkan oleh kelompok dokter yang tergabung dalam Defeat Autism Now (DAN) yang merupakan terapi dari luar dan dalam tubuh sendiri.
·         Applied Behaviorial Analysis (ABA), banyak dipakai di Indonesia dan biasanya dilakukan pada penderita autisme yang memiliki karakter mudah marah serta hiperaktif. Terapi ini dilakukan dengan memberikan hadiah atau pujian (positive reinforcement) pada anak.
·         Terapi Bicara, paling banyak digunakan untuk membantu anak autisme karena pada umumnya anak autisme mengalami kesulitan berbicara, atau tidak mampu menggunakan kemampuan bicaranya untuk berkomunikasi dengan orang lain.
·         Terapi Okupasi, hampir semua anak autisme mengalami keterlambatan dalam perkembangan motorik halus yang menyebabkan gerakannya menjadi kaku dan kasar. Terapi ini membantu pengembangan motorik halus tersebut untuk memegang pensil, sendok, ataupun menyuap makanan ke mulutnya dengan benar.
·         Terapi Fisik, dilakukan untuk mengatasi gangguan perkembangan pervasif (menerapkan kemampuan baru), karena banyak penderita autisme yang memiliki gangguan perkembangan motorik kasarnya, sehingga terkadang kondisi ototnya lembek. Hal ini menyebabkan keseimbangan tubuh yang kurnag bagus karena keadaan otot yang kurang kuat. Dengan demikian terapi ini dapat membantu untuk memperkuat keadaan otot-otot tersebut, serta memperbaiki keseimbangan tubuhnya.
·         Terapi Sosial
·         Terapi Bermain, berfungsi untuk membantu untuk belajar berbicara, komunikasi, dan interaksi sosial.
·         Terapi Perilaku
·         Terapi Perkembangan
·         Terapi perkembangan mengajarkan keterampilan yang lebih spesifik.
·         Terapi Visual
Hiperaktif
Pengertian
ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder) yang juga dikenal sebagai hiperaktivitas atau attention deficit disorder (ADD), adalah suatu kondisi yang mempengaruhi anak-anak, remaja, dan orang dewasa . Anak-anak dengan ADHD memiliki masalah dalam hal memperhatikan dan pemusatan perhatian (konsentrasi). Mereka sulit berkonsentrasi dan mudah bosan atau mudah frustasi dengan tugas-tugas yang diberikan. Mereka juga cenderung tidak bisa diam dan impulsif, serta tidak berhenti untuk berpikir sebelum mereka bertindak. 

Jenis-Jenis Hiperaktif

Menurut para ahli, setidaknya ada tiga jenis hiperaktif yang dapat dipelajari dalam berbagai kasus. Jenis-jenis hiperaktif tersebut adalah :
·         Tipe Yang Susah Berkonsentrasi (Inatensi). Biasanya, hal ini terjadi pada anak perempuan dengan ditandai kondisi melamun atau tidak fokus pada hal-hal disekitarnya.
·         Tipe hiperaktif dan impulsive. Tipe ini paling sering diperlihatkan dengan ciri anak yang tidak bisa diam dan selalu melakukan aktivitas seolah tidak pernah lelah, Ciri lain adalah, dalam bertindak, penderita gejala hiperaktif tipe ini cenderung tidak berfikir konsekuensinya. Misalnya, kita akan bisa melihat ada anak kecil yang berlari berputar-putar tanpa berfikir bahwa disekitarnya adalah lalu lintas yang ramai. Anak hiperaktif tipe ini juga cenderung tidak dapat berkonsentrasi dan lebih suka bermain sendiri serta selalu melontarkan banyak pertanyaan tanpa mau disela.
·         Tipe gabungan. Tipe ini adalah gabungan dari tipe inatensi dan hiperaktfi – impulsif.

Penyebab Anak Hiperaktif

Penyebab hiperaktif terutama adalah penyimpangan DNA. Penyimpangan DNA ini menurut pendapat banyak pihak, bukan disebabkan konsumsi asupan sewaktu anak sudah lahir, namun lebih kepada asupan ketika anak masih dalam kandungan. Konsumsi makanan instan secara berlebihan dipercaya ikut menjadi penyebab anak menjadi hiperaktif.
Beberapa hal yang dapat menyebabkan perilaku hiperaktif ialah :
·         Kondisi saat hamil & persalinan. Misalnya keracunan pada akhir kehamilan (ditandai dengan tingginya tekanan darah, pembengkakan kaki & ekskresi protein melalui urin), cedera pada otak akibat komplikasi persalinan.
·         Cedera otak sesudah lahir,yang disebabkan oleh benturan kuat pada kepala anak.
·         Tingkat keracunan timbal yang parah dapat mengakibatkan kerusakan otak. Hal ini ditandai dengan kesulitan konsentrasi, belajar dan perilaku hiperaktif. Polusi timbal berasal dari industri peleburan baterai, mobil bekas, asap kendaraan atau cat rumah yang tua. Obat untuk mengeluarkan timbal dari dalam tubuh hanya diberikan dibawah pengawasan dokter bagi anak kadar timbalnya sudah sangat tinggi, karena obat tersebut mempunyai efek samping.
·         Lemah pendengaran, yang disebabkan infeksi telinga sehingga anak tidak dapat mereproduksi bunyi yang didengarnya. Akibatnya, tingkah laku menjadi tidak terkendali & perkembangan bahasanya yang lamban. Segeralah hubungi dokter THT jika anak menunjukkan ciri berikut : perkembangan bahasa yang lambat, lebih banyak memperhatikan mimik lawan bicara & lebih banyak berreaksi terhadap perubahan mimik & isyarat.
·         Faktor psikis, yang lebih banyak dipengaruhi oleh hubungan anak dengan dunia luar. Meskipun jarang, hubungan dengan anggota keluarga dapat pula menjadi penyebab hiperaktivitas. Contoh kasus, orang tua yang bersikap sangat tegas menyuruh anak berdiri 15 menit di pojok ruangan untuk mengatasi ketidakdisiplinannya. Tapi setelah 15 menit berlalu, maka anak malah mempunyai energi berlebih yang siap meledak dengan akibat lebih negatif dibanding kesalahan sebelumnya.
Penanggulangan                                           
penaggualangan anak ADHD / Anak Hiperaktif meliputi; Pemberian obat (medication), Konseling (psychotherapy), Pendidikan atau Pelatihan (education or training) atau kombinasi dari treatment tersebut. Banyak terapi atau cara dalam penanganannya sesuai dengan landasan teori penyebabnya.
Beberapa terapi untuk anak hiperaktif :
·         Applied Behavioral Analysis (ABA). ABA adalah jenis terapi yang telah lama dipakai, telah dilakukan penelitian dan didisain khusus untuk anak dengan autisme. Sistem yang dipakai adalah memberi pelatihan khusus pada anak dengan memberikan positive reinforcement (hadiah/pujian). Jenis terapi ini bias diukur kemajuannya. Saat ini terapi inilah yang paling banyak dipakai di Indonesia.
·         Terapi Wicara. Hampir semua anak dengan autisme mempunyai kesulitan dalam bicara dan berbahasa. Biasanya hal inilah yang paling menonjol, banyak pula individu autistic yang non-verbal atau kemampuan bicaranya sangat kurang. Kadang-kadang bicaranya cukup berkembang, namun mereka tidak mampu untuk memakai bicaranya untuk berkomunikasi/berinteraksi dengan orang lain. Dalam hal ini terapi wicara dan berbahasa akan sangat menolong.
·         Terapi Okupasi. Hampir semua anak autistik mempunyai keterlambatan dalam perkembangan motorik halus. Gerak-geriknya kaku dan kasar, mereka kesulitan untuk memegang pinsil dengan cara yang benar, kesulitan untuk memegang sendok dan menyuap makanan kemulutnya, dan lain sebagainya. Dalam hal ini terapi okupasi sangat penting untuk melatih mempergunakan otot -otot halusnya dengan benar.
·         Terapi Fisik. Autisme adalah suatu gangguan perkembangan pervasif. Banyak diantara individu autistik mempunyai gangguan perkembangan dalam motorik kasarnya. Kadang-kadang tonus ototnya lembek sehingga jalannya kurang kuat. Keseimbangan tubuhnya kurang bagus. Fisioterapi dan terapi integrasi sensoris akan sangat banyak menolong untuk menguatkan otot-ototnya dan memperbaiki keseimbangan tubuhnya.
·         Terapi Sosial. Kekurangan yang paling mendasar bagi individu autisme adalah dalam bidang komunikasi dan interaksi. Banyak anak-anak ini membutuhkan pertolongan dalam ketrampilan berkomunikasi 2 arah, membuat teman dan main bersama ditempat bermain. Seorang terapis sosial membantu dengan memberikan fasilitas pada mereka untuk bergaul dengan teman-teman sebaya dan mengajari cara-caranya.
·         Terapi Bermain. Terapi bermain sangat penting untuk mengembangkan ketrampilan, kemampuan gerak, minat dan terbiasa dalam suasana kompetitif dan kooperatif dalam melakukan kegiatan kelompok. Bermain juga dapat dipakai untuk sarana persiapan untuk beraktifitas dan bekerja saat usia dewasa. Terapi bermain digunakan sebagai sarana pengobatan atau terapitik dimana sarana tersebut dipakai untuk mencapai aktifitas baru dan ketrampilan sesuai dengan kebutuhan terapi.
·         Terapi Perilaku. Anak autistik seringkali merasa frustrasi. Teman-temannya seringkali tidak memahami mereka, mereka merasa sulit mengekspresikan kebutuhannya, Mereka banyak yang hipersensitif terhadap suara, cahaya dan sentuhan. Tak heran bila mereka sering mengamuk. Seorang terapis perilaku terlatih untuk mencari latar belakang dari perilaku negatif tersebut dan mencari solusinya dengan merekomendasikan perubahan lingkungan dan rutin anak tersebut untuk memperbaiki perilakunya,
·         Terapi Perkembangan. Floortime, Son-rise dan RDI (Relationship Developmental Intervention) dianggap sebagai terapi perkembangan. Artinya anak dipelajari minatnya, kekuatannya dan tingkat perkembangannya, kemudian ditingkatkan kemampuan sosial, emosional dan Intelektualnya. Terapi perkembangan berbeda dengan terapi perilaku seperti ABA yang lebih mengajarkan ketrampilan yang lebih spesifik.
·         Terapi Visual. Individu autistik lebih mudah belajar dengan melihat (visual learners/visual thinkers). Hal inilah yang kemudian dipakai untuk mengembangkan metode belajar komunikasi melalui gambar-gambar, misalnya dengan PECS (Picture Exchange Communication System). Beberapa video games bisa juga dipakai untuk mengembangkan ketrampilan komunikasi.
·          Terapi Biomedik. Terapi biomedik dikembangkan oleh kelompok dokter yang tergabung dalam DAN (Defeat Autism Now). Banyak dari para perintisnya mempunyai anak autistik.Mereka sangat gigih melakukan riset dan menemukan bahwa gejala-gejala anak ini diperparah oleh adanya gangguan metabolisme yang akan berdampak pada gangguan fungsi otak. Oleh karena itu anak-anak ini diperiksa secara intensif, pemeriksaan, darah, urin, feses, dan rambut. Semua hal abnormal yang ditemukan dibereskan, sehingga otak menjadi bersih dari gangguan. Terrnyata lebih banyak anak mengalami kemajuan bila mendapatkan terapi yang komprehensif, yaitu terapi dari luar dan dari dalam tubuh sendiri (biomedis).
Selain itu beberapa cara yang bisa dilakukan oleh orang tua untuk mendidik dan membimbing anak-anak mereka yang tergolong hiperaktif :
·         Orang tua perlu menambah pengetahuan tentang gangguan hiperaktifitas
·         Kenali kelebihan dan bakat anak
·         Membantu anak dalam bersosialisasi
·         Menggunakan teknik-teknik pengelolaan perilaku, seperti menggunakan penguat positif (misalnya memberikan pujian bila anak makan dengan tertib), memberikan disiplin yang konsisten, dan selalu memonitor perilaku anak
·         Memberikan ruang gerak yang cukup bagi aktivitas anak untuk menyalurkan kelebihan energinya
·         Menerima keterbatasan anak
·         Membangkitkan rasa percaya diri anak






Daftar pustaka

http://www.indomedika.com/tag/hiperaktif-adalah
http://www.posyandu.org/pertumbuhan/34-perkembangan-bayi/280-perkembangan-gerakmotorik-bayi-lambat-.html



yayan nurlian

Phasellus facilisis convallis metus, ut imperdiet augue auctor nec. Duis at velit id augue lobortis porta. Sed varius, enim accumsan aliquam tincidunt, tortor urna vulputate quam, eget finibus urna est in augue.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar