A.
Kekurangan
energy Protein
Pengertian
Kurang Energi Protein (KEP) adalah
seseorang yang kurang gizi yang disebabkan oleh rendahnya komsumsi energi dan
protein dalam makanan sehari –hari atau gangguan penyakit – penyakit tertentu.
Anak tersebut kurang energi protein(KEP) apabila berat badanya kurang dari 80 %
indek berat badan/umur bakustandar,WHO –NCHS, (DEPKES RI,1997)
Jenis
jenis
Untuk tingkat puskesmas penentuan KEP yang dilakukan
dengan menimbang berat
badan anak dibanding dengan umur dan menggunakan KMS
dan tabel BB/U Baku
Median WHO – NCHS.
·
KEP ringan bila hasil penimbangan berat
badan pada KMS terletak pada pita kuning
·
KEP sedang bila hasil penimbangan berat
badan pada KMS terletak di Bawah Garis Merah ( BGM ).
·
KEP berat/gizi buruk bila hasil
penimbangan BB/U < 60 % baku median WHO-NCHS. Pada KMS tidak ada garis
pemisah KEP berat/gizi buruk dan KEP sedang, sehingga untuk menentukan KEP
berat/gizi buruk digunakan taqbel BB?U Baku median WHO-NCHS.
Penyebab :
o Pendapatan Keluarga Perkapita
Komsumsi
makanan yang berkurang sering dialami oleh penduduk yang berpendapatan
rendah.Hal ini disebabkan oleh daya beli keluarga yang rendah. Pendapatan
keluarga akan mempengaruhi pola pengeluaran komsumsi keluarga. Tingkat
pendapatan yang nyata dari keluarga menentukan jumlah dan kualitas makanan yang
diperoleh. (Suhardjo,1989)
Masalah
komsumsi pangan, rata- rata komsumsi energi dan protein secara nasional
meningkat dengan tajam. Pada tahun 1984 rata – rata komsumsi energy perkapita
1798 kalori,meningkat menjadi 1905 kalori pada tahun 1990 dan menjadi 1962
kalori pada tahun 1995. Sedangkan dalam kurun waktu yang sama rata – rata komsumsi
protein meningkat menjadi dari 43,3 gram,45,4 dan 49,2 perkapita/ hari. (SKPG.
1998)
o Pendidikan
Pendidikan
adalah usaha sadar dan sistematis yang berlangsung seumur hidup dalam rangka
mengalihkan pengetahuan oleh seseorang kepada orang lain (Siagian,1991).
Pendidikan terutama pendidikan ibu berpengaruh sangat kuat terhadap
kelangsungan anak dan bayinya. Pada masyarakat dengan rata –rata pendidikan
rendah menunjukan prevalensi gizi kurang yang tinggi dan sebaliknya pada
masyarakat yang pendidikannya cukup tinggi prevalensi gizi kurangnya rendah(
Abunain,1988) Ibu yang pendidikan tinggi akan memilih jenis dan jumlah makanan
untuk keluarga dengan mempertimbangan syarat gizi disamping mempertimbangkan factor
selera oleh karena itu ibu rumah tangga pada umumnya yang mengatur dan menentukan
segala urusan makanan dan kebutuhan keluarga (Suhardjo,1986) Seseorang yang
pendidikannya lebih tinggi mempunyai pengertian yang lebih baik akan kesehatan
gizi dengan menangkap informasi dan menafsirkan informasi tersebut guna
kelansungan hidupnya lebih – lebih pada jaman kemajuan ilmu tehnologi.Dengan
berbekal pendidikan yang cukup seseorang ibu akan lebih banyak memperoleh
informasi serta lebih tanggap terhadap permasalahan yang dihadapi.Dengan
demikian mereka dapat memilih serta menentukan aternatif lebih baik untuk
kepentingan rumah tangganya termasuk dalam menentukan pemberian makanan bagi
balita yang ada dirumah tangga tersebut (Biro Pusat Statistik,1993)
o Pekerjaan
Anak
nelayan tradisional mempunyai resiko menjadi kurang gizi tiga kali lebih besar
dibanding pada anak peternak, petani pemilik lahan, ataupun tenaga kerja terlatih.
Hal penelitian ini juga menunjukan bahwa pengelompokan pekerjaan yang terlalu
umum misalnya nelayan saja bisa mengatur pertumbuhan peranan factor pekerjaan
orang tua terhadap resiko anak mereka untuk menderita kurang gizi, resiko kurang
gizi pada anak nelayan tradisional tiga kali lebih besar dibanding anak nelayan
yang punya perahu bermotor. Efek ganda ( interaksi ) dari berbagai faktor
sosial ekonomi dalam menyebabkan jatuhnya seorang anak pada keadaan kurang gizi
perlu diperhitungkan. (Mc Lean, W.1984).
o Keadaan
Sanitasi Lingkungan
Faktor utama yang
mempengaruhi kesehatan anak dan juga kesehatan orang dewasa adalah tersedianya
air bersih dan sanitasi yang aman. Semua ini bukan saja penting untuk kesehatan
dan kesejahteraan manusia,tetapi juga sangat membantu bagi emansipasi kaum
wanita dari beban kerja berat yang mempunyai dampak yang merusak terhadap anak
– anak, terutama anak- anak perempuan. Kemajuan dalam kesehatan anak tidak
mungkin dipertahankan jika sepertiga dari anak- anak didunia ketiga tetap tidak
menikmati sarana sanitasi yang layak. Berdasarkan pengalaman pada dasa warsa
yang lalu,termasuk inovasi yang banyak jumlahnya dalam tehnik dan
tekhnologi-tekhnologi yang sederhana dan murah untuk menyediakan air bersih dan
sarana sanitasi yang aman didaerah pedesaan dan perkampungan kumuh dikota,kini
patut dan layak melalui tindakan nasional bersama dan kerjasama internasional
untuk menyediakan air minum yang amam dan sarana pembuangan kotoran manusia
yang aman untuk semua (DEPKESRI,1990)
Gejala
klinis
Untuk KEP ringan dan
sedang, gejala klinis yang ditemukan hanya anak tampak kurus. Gejala klinis KEP
berat/gizi buruk secara garis besar dapat dibedakan sebagai marasmus,
kwashiorkor atau marasmickwashiokor.Tanpa mengukur/melihat BB bila disertai
oudema yang bukan karena penyakit lain adalah KEP berat/gizi buruk tipe kwashiorkor.
o
Kwashiokor
ü Oudema,umumnya
seluruh tubuh,terutama pada pada punggung kaki (dorsum pedis )
ü Wajah
membulat dan sembab
ü Pandangan
mata sayu
ü Rambut
tipis, kemerahan seperti warna rambut jagung, mudah dicabut tanpa rasa
sakit,rontok
ü Perubahan status
mental, apatis dan rewel
ü Pembesaran
hati
ü Otot
mengecil(hipotrofi), lebih nyata bila diperiksa pada posisi berdiri atau duduk
ü Kelainan
kulit berupa bercak merah muda yang meluas dan berubah warna menjadi coklat
kehitaman dan terkelupas
ü Sering disertai
penyakit infeksi, umumnya akut,anemia dan diare.
o
Marasmus
ü Tampak
sangat kurus,tinggal tulang terbungkus kulit
ü Wajah
seperti orang tua
ü Cengeng
rewel
ü Kulit
keriput,jaringan lemak subkutis sangat sedikit sampai tidak ada (pakai celana
longgar )
ü Perut
cekung
ü Iga
gambang
ü Sering
disertai , penyakit infeksi( umumnya kronis berulang), diare kronis atau
konstipasi/susah buang air.
o
Marasmik- kwashiorkor
Gambaran klinik
merupakan campuran dari beberapa gejala klinik kwashiorkor dan marasmus, dengan
BB/U< 60 % baku median WHO-NCHS disertai oedema yang tidak mencolok.(DEPKES
RI. 1999)
Penanggulangan
Kegiatan penanggulangani KEP meliputi:
·
Pemantapan UPGK dengan: meningkatkan
upaya pemantauan pertumbuhan dan perkembangan balita melalui kelompok dan dasa
wisma.
·
Penanganan khusus KEP berat secara
lintas program dan lintas sektoral.
·
Pengembangan sistem rujukan pelayanan
gizi di Posyandu dalam rehabilitasi gizi terutama di daerah miskin.
·
Peningkatan gerakan sadar pangan dan
gizi melalui KIE yang berkesinambungan.
·
Peningkatan pemberian ASI secara
eksklusif.
·
Penanggulangan KEK (Kurang Energi
Kronik) pada ibu hamil didasarkan hasil penilaian dengan alat ukur LILA
(Lingkar Lengan Atas).
Program
yang dilaksanakan adalah secara multisektoral dengan kerjasama pihak lain
seperti Depkes, Deptan Perguruan Tinggi, dll.
B.
Gangguan bicara dan gangguan pendengaran
Gangguan bicara
Pengertian
Gangguan bicara merujuk
pada beberapa kondisi di mana seseorang mengalami kesulitan berkomunikasi
melalui mulut. Berbicara adalah salah satu cara kita berkomunikasi dengan
orang-orang di sekitar kita. Berbicara juga salah cara yang efektif untuk
memantau pertumbuhan normal dan pengembangan serta untuk mengidentifikasi
potensi masalah pada anak.
Jenis
Gangguan bicara itu
antara lain gagap atau pengucapan (artikulasi) yang tidak pas. Bisa juga berupa
gangguan suara di mana ada kelainan pada kualitas dan kenyaringan dari suara.
Penyebab
Ada banyak potensi
penyebab gangguan bicara. Penyebab paling umum adalah keterbelakangan mental. Sedangkan
penyebab lain meliputi:
·
Attention deficit disorder (ADD)
·
Autis
·
Cerebral palsy
·
Bibir sumbing
·
Gangguan pada langit-langit mulut
·
Gangguan pendengaran
·
Skizofrenia
·
Cedera pita suara
Perkembangan bicara
yang tertunda adalah salah satu gejala umum dari perkembangan anak-anak yang
mengalami penundaan. Sekitar 5-10% dari semua anak mengalami penundaan gangguan
berbicara. Anak laki-laki lebih cenderung berpotensi mengalami gangguan ini.
Gejala
·
Pengulangan suara, kata, atau frasa
setelah usia 4
·
Frustrasi ketika berkomunikasi
·
Menyentak kepala sambil berbicara
·
Mata berkedip sambil berbicara
·
Malu berbicara
Penaggulangan
Pengobatan terbaik adalah pencegahan dan intervensi dini. Namun jika sudah terlanjur dapat dirawat dengan terapi berbicara yang membutuhkan waktu relatif lama dan dengan perawatan yang konsisten.
Pengobatan terbaik adalah pencegahan dan intervensi dini. Namun jika sudah terlanjur dapat dirawat dengan terapi berbicara yang membutuhkan waktu relatif lama dan dengan perawatan yang konsisten.
Gangguan Pendengaran
Pengertian
Gangguan pendengaran merupakan ketidakmampuan secara
parsial atau total untuk mendengarkan suara pada salah satu atau kedua telinga.
Jenis
Empat tipe gangguan pendengaran, yakni:
·
Gangguan
pendengaran sensorineural merupakan jenis gangguan pendengaran yang disebabkan
oleh hilangnya atau rusaknya sel saraf (sel rambut) di dalam koklea atau rumah
siput dan biasanya bersifat permanen. Gangguan pendengaran sensorineural
disebut juga tuli saraf. Untuk gangguan pendengaran ringan hingga berat dapat
diatasi dengan alat bantu dengar atau implan telinga tengah. Sedangkan, untuk
gangguan pendengaran berat atau parah sering dapat diatasi dengan implan rumah
siput.
·
Gangguan pendengaran konduktif, yang menunjukkan adanya
masalah di telinga luar atau tengah yang menyebabkan tidak terhantarnya bunyi dengan
tepat ke telinga dalam. Dalam beberapa kejadian, gangguan pendengaran jenis ini
biasanya bersifat sementara. Pengobatan atau bedah, alat bantu dengar maupun
implan telinga tengah dapat membantu mengatasi gangguan pendengaran jenis ini
tergantung pada penyebab khusus masalah pendengaran tersebut.
·
Gangguan pendengaran campuran, yang merupakan gabungan
pendengaran sensorineural dan konduktif. Pilihan penanganan untuk mengatasi
gangguan pendengaran jenis ini dapat dengan melakukan pengobatan, bedah, alat
bantu dengar atau implan pendengaran telinga tengah.
·
Gangguan
pendengaran saraf merupakan gangguan pendengaran yang diakibatkan tidak adanya
atau rusaknya saraf pendengaran. Hal tersebut dapat terjadi jika saraf auditori
tidak dapat mengirim sinyal ke otak. Gangguan pendengaran jenis ini biasanya
parah dan permanen. Dalam banyak kejadian, implan Batang Otak Auditory (ABI)
dapat menjadi pilihan.
Penyebab
·
Faktor
genetik
·
Faktor
didapat, misalnya akibat terjadi infeksi, neonatal hiperbilirubinemia (terjadi
pada bayi yang baru lahir), masalah perinatal (prematuritas, anoksia berat),
konsumsi obat ototoksik (beberapa golongan antibiotika), terjadi trauma
(fraktur tulang temporal, pendarahan pada telinga tengah atau koklea, dislokasi
osikular, dan trauma suara), dan neoplasma (misalnya, tumor pada telinga
tengah).
Gejala
·
Gejala
gangguan pendengaran bawaan
Gangguan pendengaran mungkin hadir
dalam beberapa kondisi sejak lahir. Gejala kondisi ini meliputi:
o bayi tidak kaget dengan suara keras
o tidak mengubah nya kepala ke sumber
suara sementara di bawah empat bulan
o tidak mengatakan setiap kata bahkan
pada usia satu
o melihat ibu tetapi tidak menanggapi
dia menelepon dia.
o tampaknya untuk mendengar beberapa
suara tapi tidak semua suara
Secara umum, anak-anak dengan keterlambatan dalam belajar
untuk berbicara, jelas pidato, berbicara keras atau meminta speaker untuk
mengulang sendiri dan menyalakan volume TV sehingga hal ini sangat keras menunjukkan
bahwa mungkin ada gangguan pendengaran.
Keluhan
umum meliputi:
o
kesulitan
dalam mendengar dan pemahaman percakapan
o
kesulitan
dalam percakapan berikut melalui telepon
o
mendengarkan
musik atau televisi pada volume yang lebih tinggi daripada orang lain
o
bel
pintu hilang atau telepon bordering
o
kesulitan
menempatkan arah suara melaju
·
Gejala
gangguan pendengaran ringan
Ini berarti bahwa pasien dapat
mendengar suara paling tenang antara 25-39dB. Jenis gangguan pendengaran
berarti kesulitan dalam memahami pidato whispered.
·
Gejala
gangguan pendengaran moderat
Orang-orang ini dapat mendengar
suara paling tenang antara 40 untuk 69dB. Percakapan normal menjadi sulit bagi
orang-orang ini untuk mengikuti.
·
Gejala
gangguan pendengaran parah
Suara paling tenang bahwa pasien
tersebut dapat mendengar adalah antara 70 untuk 89dB. Pasien ini tidak dapat
mendengar kata-kata berteriak dan mungkin memerlukan bahasa isyarat untuk
komunikasi.
·
Gejala
gangguan pendengaran mendalam
Pasien ini tidak dapat mendengar
suara sangat keras yang biasanya menyakiti telinga mendengar normal.
·
Gejala
lain pendengaran
o pelepasan cairan jelas atau nanah
dari telinga
o rasa sakit di telinga yang
terpengaruh
o pusing
o tinnitus atau dering telinga
o perasaan kenyang telinga terpengaruh
Penanggulangan
Gangguan
pendengaran sendiri dapat diwaspadai dengan melakukan skrining. Skrining
bertujuan menemukan kasus gangguan pendengaran sedini mungkin. Pada pemeriksaan
lebih lanjut, biasanya anak akan menjalani pemeriksaan audiometri sesuai umur,
diantaranya tes OAE (Oto Acoustic Emission) atau BERA (Brainstem Evoked
Response Auditory). Cara kerjanya dengan menggunakan komputer serta dibantu
sejumlah elektroda yang ditempelkan di permukaan kulit kepala bayi.
Pemeriksaan tersebut bertujuan untuk memastikan apakah memang
benar terjadi gangguan pendengaran, jenis gangguan pendengaran serta
letak kelainan yang menimbulkan gangguan pendengaran. Metode OAE
atau Oto Acoustic Emission adalah sebuah teknik pemeriksaan kohlea berdasarkan
prinsip elektrofisiologik. Dengan OAE bisa diketahui apakah kohlea bisa
berfungsi normal sebagai reseptor pendengaran. Cara kerja dari OAE adalah
menggunakan komputer serta dibantu sejumlah elektroda yang ditempelkan di
permukaan kulit bayi.
C.
Gerak motorik/ lambat jalan
Pengertian
Kelainan alat
gerak adalah kelainan komponen alat gerak yang terdiri dari otot ,tulang, syaraf,
serta pembuluh darah dan kelainan pola gerak akibat kelainan dari komponen tersebut
yang dapat terjadi secara bawaan dan akibat sakit atau traumaru d paksa.(AhmadTohaMuslim,1997).
Jenis dan penanggulangan
Untuk menangani anak dengan gangguan gerak
adalah sesuai dengan jenis kelainannya.
·
Intervensi pada anak Polio
myelitis
Polio myelitis adalah suatu
kelainan pada anggota gerak karena infeksi oleh virus Polio yang masuk ke dalam
tubuh melalui makanan dan akan menyerang sumsum tulang belakang pusat sel-sel motorik,
sehingga anggota gerak yang disyarafinya akan layuh dan nyeri serta mengecil(atrophy).
Penanganannya berdasarkan stadiumnya,yaitu pada:
ü Stadium preparalysis dengan
cara memberikan : bedrest , isolasi, dan vitamin-vitamin,serta gentlemassa gedengan
gosokan ringan.
ü Stadium paralysis dengan cara
memberikan latihan gerak pasif atau aktif yang gentle, mencegah kontraktur, pemakaian
splint(spalk) ,pengaturan posisi untuk mengurangi nyeri,dan massage.
ü Stadium recovery (penyembuhan)
dengan cara: mencegah kontraktur ,mengulur otot yang memendek, latihan gerak dengan
beban, latihan pola gerak normal, menggunakan brace dan kruk,latihan gerak aktif
secara gentle.
·
Intervensi pada anak Muscle
Dystrophy
MuscleDystrophy adalah suatu
kondisi pada anak yang ditandai dengan pengecilan otot-otot yang progresif.
Penanganannya dengan memberikan: latihan gerakpasif ,mengulur otot
yang memendek (stretching), backsplint, kruk, dan walker.
Kontraindikasinya adalah latihan penguatan otot dengan beban karena
tidak akan meningkatkan kekuatan otot degeneratif, perlu energy yang besar, mudah
lelah, dan mempercepat kemunduran kemampuan fungsional. Istirahat dalam posisi fleksi
akan mempercepat kontraktur.
·
Intervensi pada anak Cerebral
Palsy
Cerebral Palsy adalah gangguan
atau kelainan anggota gerak karenaa danya kerusakan otak. Kadang kerusakannya mempengaruhi
bagian lain dari otak sehingga menyebabkan kesulitan dalam penglihatan, pendengaran,
komunikasi, dan belajar.
Penanganannya dengan cara mengendurkan otot-otot yang kaku, menggerakkan berlawanan dengan arah spastiknya, mencegah salah
bentuk, memantapkan gerakan yang tidak terkontrol, menguatkan otot yang lemas (floppy),
latihan keseimbangan dalam berlutut, berdiri , dan berjalan, control gerakan-gerakan
agar tidak gemetar
·
Intervensi pada anak Spina
Bifida
Spina Bifida adalah suatu kelainan bawaan
dimana terjadi gangguan pertumbuhan vertebra sehingga arcus vertebra tidak menutup
sempurna.
Penanganannya dengan memberikan
latihan-latihan gerak yang bersifat gentle, yaitu gerak pasif dangerakassisted.Kontrain
dikasinya adalah latihan-latihan yang progresif.
·
Intervensi pada Plaat Foot
PlaatFoot adalah suatu keadaan dimana
arcus medialis plantar pedisakan hilang, sehingga telapak kakirata dengan lantai.
Penanganannya mengulur(Stretching) struktur dorsumpedis dilakukan selama
5 menit, mobilisasi aktif dengan mengaktifkan otot cuff dan tibialis posterior dengan
tujuan untuk merangsang gerakan kearah plantar fleksi dan inversi, dan pemakaian
sepatu orthopaedi yang dibagian medial diberi support agar terbentuk arcus.
Penyebab
tersering anak terlambat berjalan
·
Ketidakmatangan Persyarafan . Kemampuan
anak melakukan gerakan motorik sangat ditentukan oleh kematangan syaraf yang
mengatur gerakan tersebut. Pada waktu anak dilahirkan, syaraf-syaraf yang ada
di pusat susunan syarat belum berkembang dan berfungsi sesuai dengan fungsinya,
yaitu mengontrol gerakan-gerakan motorik. Pada usia ± 5 tahun, syaraf-syaraf
ini sudah mencapai kematangan, dan menstimulasi berbagai kegiatan motorik.
Otot-otot besar yang mengontrol gerakan motorik kasar, seperti
berjalan,berlari, melompat dan berlutut, berkembang lebih cepat bila
dibandingkan dengan otot-otot halus yang mengontrol kegiatan motorik halus,
seperti menggunakan jari-jari tangan untuk menyusun puzzle , memegang pensil
atau gunting membentuk dengan plastisin atau tanah liat, dan sebagainya.
·
Gangguan vestibularis atau keseimbangan.
Pada anak yang mengalami dysfunction of sensory integration (DSI)
sering mengalami gangguan keseimbangan. Gangguan keseimbangan yang terjadi ini
seringkali dianggap anak kurang percaya diri. Gangguan keseimbangan ini
biasanya ditandai dengan anak takut saat berenang, menaiki mainan yang bergerak
dan bergoyang seperti ayunan, mainan kuda-kudaan listrik dengan koin, naik lift
atau eskalator. Anak tidak suka naik umumnya di dalam mobil. Anak mungkin tidak
kooperatif sebagai upaya menghindari sensasi yang membuat anak terganggu. Anak
yang underreactive untuk input vestibular tampaknya tidak pusing
bahkan setelah berputar untuk waktu yang lama, dan tampaknya menikmati gerakan
cepat seperti berayun. Bila berjalan terburu-buru, gerakannya canggung, mudah
tersandung atau jatuh. Dia mungkin tidak membuat upaya untuk menangkap dirinya
sendiri ketika dia jatuh. Anak tampak kesulitan memegang kepalanya sambil
duduk. Anak tidak cenderung untuk melakukannya dengan baik dalam olahraga. Dia
mungkin memiliki gaya canggung, atau gerakan yang tidak biasa ketika bergerak
lengan atau kepala. Biasanya juga disertai keterlambatan membaca, menulis,
berbicara, dan persepsi visual-spasial yang khas.
·
Keterlambatan ringan perkembangan
motorik kasar. Seorang anak yang terlambat berjalan, kemungkinan juga
terlambat dalam duduk dan merangkak. Namun sayangnya, keterlambatan ini
bukanlah hal pertama yang mungkin disadari oleh para orangtua. Jika ini
penyebabnya, maka dokter akan melihat jalan anak dalam konteks yang berbeda dan
mencari tahu berada dimana ia dalam rangkaian perkembangan motoriknya. Biasanya
juga disertai keterlambatan membaca, menulis, berbicara, dan persepsi
visual-spasial yang khas.
·
Gangguan sensoris. Pada kasus
tertentu, anak sering mengalami sensitif pada telapak tangan dan kaki. Sehingga
hal ini mengakibatkan anak sering jinjit. Selama ini, jalan jinjit atau Tip
Toe masih belum diketahui penyebabnya. Meskipun bukan karena kelainan
anatomis. Selama ini, orangtua menganggap hal itu adalah memang perilaku anak.
Pada anak dengan gangguan sensoris raba biasanya disetai gangguan sensoris
suara dan cahaya. Gangguan sensoris suara biasanya anak takut dan tidak nyaman
ketika mendengar suara dengan frekuensi tertentu seperti suara blender, suara
bayi menangis, suara gergaji listrik. Gangguan sensoris cahaya biasanya anak
sangat sensitif terhadap cahaya terang dan sinar matahari.
·
Faktor Predisposisi. Keterlambatan
berjalan biasanya sering terjadi pada kelompok anak tertentu seperti : Bayi
prematur, obesitas atau kegemukan, bayi lahir dengan berat bada rendah atau
kurang dari 2.500 gram, anak dengan gangguan hipersensitif saluraan cerna
seperti gastropoesepageal refluks, sering muntah, mual atau sering sulit buang air besar.
Keadaan ini sering terjadi pada anak alergi atau hipersensitif saluran
cerna. Sangat jarang pada anak menderita tumor otak, retardasi mental dan
cerebral palsy.
Gejala
·
Bayi
terlalu kaku atau terlalu lemah. Perhatikanlah apabila si kecil terus
berbaring tanpa melakukan gerakan apapun serta kepalanya tidak dapat diangkat
saat digendong. Ini menunjukkan motorik aksar si kecil terlalu lemah.
·
Gerak
anak kurang aktif. Perhatikan
bila gerak anak kurang aktif jika dibandingkan dengan anak sebayanya. Misalnya
pada usia 6 bulan belum dapat tengkurap.
Penanggulangan
Jika memang
ditemukan adanya keterlambatan dalam perkembangan motor kasar si kecil, harus
segera ditelusuri penyebabnya sebelum menentukan apa yg harus dilakukan. Bila
penyebabnya karena masalah perbedaan pola asuh (terhadap jenis kelamina anak)
atau orangtua yg terlalu protekftif, maka pertama-tama yg harus diubah adalah
sikap orang tua. Orang tua harus membiarkan anak bergerak bebas sebatas tidak
membahayakan si kecil. Dengan upaya ini si kecil semakin terpicu untuk melatih
semua tahap perkembangan motor kasarnya.
Tetapi kalau
penyebab keterlambatan tersebut karena kelainan tubuh tertentu maka harus
dikonsultasikan dengan dokter anak. Berbagai kelainan tersebut misalnya otot yg
tidak berkembang secara optimal atau karena adanya gangguan saraf tepi, kelainan
sumsum tulang belakang, kurangnya tenaga untuk beraktivitas, ukuran kepala bayi
yg abnormal serta kerusakan susunan saraf pusat. Melalui berbagai pemeriksaan
dokter dapt mendiagnosa penyebabnya dan mengatasi gangguannya.
D.
Autism
Pengertian
Autistic Spectrum Disorder (ASD) atau yang lebih dikenal
dengan autisme adalah suatu gangguan perkembangan neurobiologis yang muncul
pada usia awal perkembangan anak sebelum mencapai usia 3 tahun. Gangguan ini
mempengaruhi kemampuan seorang anak untuk berinteraksi dan berkomunikasi dengan
lingkungan sekitarnya, seolah-olah ia hidup di dunianya sendiri.
jenis
Ada dua jenis
autis yaitu Autis Infantil dan autis Schizophrenia.
o Autis
Infantil biasanya terjadi pada anak-anak. Pada penyandang Autis Infantil
terdapat kegagalan perkembangan. Gejala Autis Infantil timbul sebelum anak
mencapai usia 3 tahun. Pada sebagian anak, gejala-gejala itu sudah ada sejak
lahir. Seorang ibu yang sangat cermat memantau perkembangan anaknya sudah akan
melihat beberapa keganjilan sebelum anaknya mencapai usia 1 tahun. Yang sangat
menonjol adalah tidak adanya atau sangat kurangnya tatap mata.
o Autis
Schizophrenia juga merupakan gangguan yang membuat seseorang menarik diri dari
dunia luar dan menciptakan dunia fantasinya sendiri: berbicara, tertawa,
menangis, dan marah-marah sendiri. Schizophrenia disebabkan oleh proses regresi
karena penyakit jiwa
Penyebab
Autisme tidak memiliki penyebab tunggal dan dapat disebabkan
oleh beberapa faktor, termasuk genetik dan lingkungan.
gejala
·
Tidak
berbicara, menunjuk sesuatu atau membuat gesture yang bermakna hingga
usia 1 tahun
·
Tidak
berbicara sepatah kata pun hingga usia 16 bulan
·
Tidak
dapat merangkai 2 kata hingga usia 2 tahun
·
Tidak
menunjukkan respon ketika dipanggil namanya
·
Mengalami
gangguan dalam berbahasa atau kemampuan bersosialisasi
·
Mengalami
gangguan dalam kontak mata
·
Terpaku
hanya pada 1 mainan atau objek
·
Tidak
dapat tersenyum atau berinteraksi dengan baik
·
Terlihat
seperti mengalami gangguan pendengaran
·
Menolak
memeluk dan memegang
·
Gangguan
emosi (bisa menangis atau tertawa sendiri tanpa sebab yang jelas)
·
Suka
mengulang-ulang kata yang ia dengar
·
Gangguan
dalam tingkah laku seperti gerakan repetitive (pengulangan)
Penanggulangan
Beberapa pilihan terapi yang biasanya dianjurkan dokter,
antara lain:
·
Terapi
Biomedik, dikembangkan oleh kelompok dokter yang tergabung dalam Defeat
Autism Now (DAN) yang merupakan terapi dari luar dan dalam tubuh sendiri.
·
Applied
Behaviorial Analysis
(ABA), banyak dipakai di Indonesia dan biasanya dilakukan pada penderita
autisme yang memiliki karakter mudah marah serta hiperaktif. Terapi ini
dilakukan dengan memberikan hadiah atau pujian (positive reinforcement)
pada anak.
·
Terapi
Bicara, paling banyak digunakan untuk membantu anak autisme karena pada umumnya
anak autisme mengalami kesulitan berbicara, atau tidak mampu menggunakan
kemampuan bicaranya untuk berkomunikasi dengan orang lain.
·
Terapi
Okupasi, hampir semua anak autisme mengalami keterlambatan dalam perkembangan
motorik halus yang menyebabkan gerakannya menjadi kaku dan kasar. Terapi ini
membantu pengembangan motorik halus tersebut untuk memegang pensil, sendok,
ataupun menyuap makanan ke mulutnya dengan benar.
·
Terapi
Fisik, dilakukan untuk mengatasi gangguan perkembangan pervasif (menerapkan
kemampuan baru), karena banyak penderita autisme yang memiliki gangguan
perkembangan motorik kasarnya, sehingga terkadang kondisi ototnya lembek. Hal
ini menyebabkan keseimbangan tubuh yang kurnag bagus karena keadaan otot yang
kurang kuat. Dengan demikian terapi ini dapat membantu untuk memperkuat keadaan
otot-otot tersebut, serta memperbaiki keseimbangan tubuhnya.
·
Terapi
Sosial
·
Terapi
Bermain, berfungsi untuk membantu untuk belajar berbicara, komunikasi, dan
interaksi sosial.
·
Terapi
Perilaku
·
Terapi
Perkembangan
·
Terapi
perkembangan mengajarkan keterampilan yang lebih spesifik.
·
Terapi
Visual
Hiperaktif
Pengertian
ADHD
(Attention Deficit Hyperactivity Disorder) yang juga dikenal sebagai hiperaktivitas
atau attention deficit disorder (ADD), adalah suatu kondisi yang
mempengaruhi anak-anak, remaja, dan orang dewasa .
Anak-anak dengan ADHD memiliki masalah dalam
hal memperhatikan dan pemusatan perhatian (konsentrasi). Mereka
sulit berkonsentrasi dan mudah bosan atau mudah frustasi dengan tugas-tugas
yang diberikan. Mereka juga cenderung tidak bisa diam dan impulsif, serta tidak
berhenti untuk berpikir sebelum mereka bertindak.
Jenis-Jenis Hiperaktif
Menurut para
ahli, setidaknya ada tiga jenis hiperaktif yang dapat dipelajari dalam berbagai
kasus. Jenis-jenis hiperaktif tersebut adalah :
·
Tipe Yang Susah Berkonsentrasi (Inatensi).
Biasanya, hal ini terjadi pada anak perempuan dengan ditandai kondisi melamun
atau tidak fokus pada hal-hal disekitarnya.
·
Tipe hiperaktif dan impulsive.
Tipe ini paling sering diperlihatkan dengan ciri anak yang tidak bisa diam dan
selalu melakukan aktivitas seolah tidak pernah lelah, Ciri lain adalah, dalam
bertindak, penderita gejala hiperaktif tipe ini cenderung tidak berfikir
konsekuensinya. Misalnya, kita akan bisa melihat ada anak kecil yang berlari
berputar-putar tanpa berfikir bahwa disekitarnya adalah lalu lintas yang ramai.
Anak hiperaktif tipe ini juga cenderung tidak dapat berkonsentrasi dan lebih
suka bermain sendiri serta selalu melontarkan banyak pertanyaan tanpa mau
disela.
·
Tipe gabungan. Tipe ini adalah
gabungan dari tipe inatensi dan hiperaktfi – impulsif.
Penyebab Anak Hiperaktif
Penyebab
hiperaktif terutama adalah penyimpangan DNA. Penyimpangan DNA ini menurut
pendapat banyak pihak, bukan disebabkan konsumsi asupan sewaktu anak sudah
lahir, namun lebih kepada asupan ketika anak masih dalam kandungan. Konsumsi makanan
instan secara berlebihan dipercaya ikut menjadi penyebab anak menjadi hiperaktif.
Beberapa hal
yang dapat menyebabkan perilaku hiperaktif ialah :
·
Kondisi saat hamil & persalinan. Misalnya keracunan pada akhir kehamilan (ditandai dengan tingginya
tekanan darah, pembengkakan kaki & ekskresi protein melalui urin), cedera
pada otak akibat komplikasi persalinan.
·
Cedera otak sesudah lahir,yang
disebabkan oleh benturan kuat pada kepala anak.
·
Tingkat keracunan timbal yang parah dapat mengakibatkan kerusakan otak. Hal ini ditandai dengan kesulitan konsentrasi, belajar dan perilaku
hiperaktif. Polusi timbal berasal dari industri peleburan baterai, mobil bekas,
asap kendaraan atau cat rumah yang tua. Obat untuk mengeluarkan timbal dari
dalam tubuh hanya diberikan dibawah pengawasan dokter bagi anak kadar timbalnya
sudah sangat tinggi, karena obat tersebut mempunyai efek samping.
·
Lemah pendengaran, yang
disebabkan infeksi telinga sehingga anak tidak dapat mereproduksi bunyi yang
didengarnya. Akibatnya, tingkah laku menjadi tidak terkendali &
perkembangan bahasanya yang lamban. Segeralah hubungi dokter THT jika anak
menunjukkan ciri berikut : perkembangan bahasa yang lambat, lebih banyak
memperhatikan mimik lawan bicara & lebih banyak berreaksi terhadap
perubahan mimik & isyarat.
·
Faktor psikis, yang lebih banyak dipengaruhi
oleh hubungan anak dengan dunia luar. Meskipun jarang, hubungan dengan anggota
keluarga dapat pula menjadi penyebab hiperaktivitas. Contoh kasus, orang tua yang
bersikap sangat tegas menyuruh anak berdiri 15 menit di pojok ruangan untuk
mengatasi ketidakdisiplinannya. Tapi setelah 15 menit berlalu, maka anak malah
mempunyai energi berlebih yang siap meledak dengan akibat lebih negatif
dibanding kesalahan sebelumnya.
Penanggulangan
penaggualangan
anak ADHD / Anak Hiperaktif meliputi; Pemberian obat (medication),
Konseling (psychotherapy), Pendidikan atau Pelatihan (education or
training) atau kombinasi dari treatment tersebut. Banyak terapi atau cara
dalam penanganannya sesuai dengan landasan teori penyebabnya.
Beberapa
terapi untuk anak hiperaktif :
·
Applied Behavioral Analysis
(ABA). ABA adalah jenis terapi yang telah lama dipakai, telah dilakukan penelitian
dan didisain khusus untuk anak dengan autisme. Sistem yang dipakai adalah
memberi pelatihan khusus pada anak dengan memberikan positive reinforcement
(hadiah/pujian). Jenis terapi ini bias diukur kemajuannya. Saat ini terapi
inilah yang paling banyak dipakai di Indonesia.
·
Terapi Wicara. Hampir semua anak
dengan autisme mempunyai kesulitan dalam bicara dan berbahasa. Biasanya hal
inilah yang paling menonjol, banyak pula individu autistic yang non-verbal atau
kemampuan bicaranya sangat kurang. Kadang-kadang bicaranya cukup berkembang,
namun mereka tidak mampu untuk memakai bicaranya untuk
berkomunikasi/berinteraksi dengan orang lain. Dalam hal ini terapi wicara dan
berbahasa akan sangat menolong.
·
Terapi Okupasi. Hampir semua anak
autistik mempunyai keterlambatan dalam perkembangan motorik halus.
Gerak-geriknya kaku dan kasar, mereka kesulitan untuk memegang pinsil dengan
cara yang benar, kesulitan untuk memegang sendok dan menyuap makanan
kemulutnya, dan lain sebagainya. Dalam hal ini terapi okupasi sangat penting
untuk melatih mempergunakan otot -otot halusnya dengan benar.
·
Terapi Fisik. Autisme adalah suatu
gangguan perkembangan pervasif. Banyak diantara individu autistik mempunyai
gangguan perkembangan dalam motorik kasarnya. Kadang-kadang tonus ototnya
lembek sehingga jalannya kurang kuat. Keseimbangan tubuhnya kurang bagus.
Fisioterapi dan terapi integrasi sensoris akan sangat banyak menolong untuk
menguatkan otot-ototnya dan memperbaiki keseimbangan tubuhnya.
·
Terapi Sosial. Kekurangan yang paling
mendasar bagi individu autisme adalah dalam bidang komunikasi dan interaksi.
Banyak anak-anak ini membutuhkan pertolongan dalam ketrampilan berkomunikasi 2
arah, membuat teman dan main bersama ditempat bermain. Seorang terapis sosial
membantu dengan memberikan fasilitas pada mereka untuk bergaul dengan
teman-teman sebaya dan mengajari cara-caranya.
·
Terapi Bermain. Terapi bermain sangat
penting untuk mengembangkan ketrampilan, kemampuan gerak, minat dan terbiasa
dalam suasana kompetitif dan kooperatif dalam melakukan kegiatan kelompok.
Bermain juga dapat dipakai untuk sarana persiapan untuk beraktifitas dan
bekerja saat usia dewasa. Terapi bermain digunakan sebagai sarana pengobatan
atau terapitik dimana sarana tersebut dipakai untuk mencapai aktifitas baru dan
ketrampilan sesuai dengan kebutuhan terapi.
·
Terapi
Perilaku. Anak autistik
seringkali merasa frustrasi. Teman-temannya seringkali tidak memahami mereka,
mereka merasa sulit mengekspresikan kebutuhannya, Mereka banyak yang
hipersensitif terhadap suara, cahaya dan sentuhan. Tak heran bila mereka sering
mengamuk. Seorang terapis perilaku terlatih untuk mencari latar belakang dari
perilaku negatif tersebut dan mencari solusinya dengan merekomendasikan
perubahan lingkungan dan rutin anak tersebut untuk memperbaiki perilakunya,
·
Terapi
Perkembangan. Floortime,
Son-rise dan RDI (Relationship Developmental Intervention) dianggap sebagai
terapi perkembangan. Artinya anak dipelajari minatnya, kekuatannya dan
tingkat perkembangannya, kemudian ditingkatkan kemampuan sosial, emosional dan
Intelektualnya. Terapi perkembangan berbeda dengan terapi perilaku seperti ABA
yang lebih mengajarkan ketrampilan yang lebih spesifik.
·
Terapi Visual. Individu autistik lebih
mudah belajar dengan melihat (visual learners/visual thinkers). Hal inilah yang
kemudian dipakai untuk mengembangkan metode belajar komunikasi melalui
gambar-gambar, misalnya dengan PECS (Picture Exchange Communication System).
Beberapa video games bisa juga dipakai untuk mengembangkan ketrampilan
komunikasi.
·
Terapi
Biomedik. Terapi biomedik dikembangkan oleh kelompok dokter yang tergabung dalam
DAN (Defeat Autism Now). Banyak dari para perintisnya mempunyai anak autistik.Mereka
sangat gigih melakukan riset dan menemukan bahwa gejala-gejala anak ini
diperparah oleh adanya gangguan metabolisme yang akan berdampak pada gangguan
fungsi otak. Oleh karena itu anak-anak ini diperiksa secara intensif,
pemeriksaan, darah, urin, feses, dan rambut. Semua hal abnormal yang ditemukan
dibereskan, sehingga otak menjadi bersih dari gangguan. Terrnyata lebih banyak
anak mengalami kemajuan bila mendapatkan terapi yang komprehensif, yaitu terapi
dari luar dan dari dalam tubuh sendiri (biomedis).
Selain itu beberapa cara yang bisa dilakukan oleh orang tua untuk mendidik
dan membimbing anak-anak mereka yang tergolong hiperaktif :
·
Orang tua perlu
menambah pengetahuan tentang gangguan hiperaktifitas
·
Kenali
kelebihan dan bakat anak
·
Membantu anak
dalam bersosialisasi
·
Menggunakan
teknik-teknik pengelolaan perilaku, seperti menggunakan penguat positif
(misalnya memberikan pujian bila anak makan dengan tertib), memberikan disiplin
yang konsisten, dan selalu memonitor perilaku anak
·
Memberikan
ruang gerak yang cukup bagi aktivitas anak untuk menyalurkan kelebihan
energinya
·
Menerima
keterbatasan anak
·
Membangkitkan rasa
percaya diri anak
Daftar pustaka
http://www.indomedika.com/tag/hiperaktif-adalah
http://www.posyandu.org/pertumbuhan/34-perkembangan-bayi/280-perkembangan-gerakmotorik-bayi-lambat-.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar