KATA PENGANTAR
Alhamdulillahi Rabbil Alamin. Segala
puji dan syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT Sang Penguasa sekalian alam
yang maha pengasih dan maha penyayang. Shalawat serta salam senantasa terarah
kepada Nabi Muhammad SAW. Pemimpin para Nabi saya serta umat-umat, keluarga
serta sahabat sehingga penyusun dapat menyelesaikan makalah ini dengan
judul ” Higiene Industri ”.
Pembuatan makalah ini dimaksudkan untuk
memenuhi syarat dalam mata kuliah Dasar-Dasar K3. Dalam pembuatan makalah ini
terdapat kesulitan dan hambatan. Berkat bantuan, bimbingan, arahan dan dukungan
berbagai pihak, akhirnya makalah ini dapat diselesaikan dengan baik. Oleh
karena itu, kami mengucapkan banyak terima kasih.
Kami menyadari bahwa makalah ini masih
jauh dari kesempurnaan, oleh karena itu kami mengharapkan kritik dan saran yang
sifatnya membangun ke arah perbaikan dikemudian hari. Kami berharap semoga
makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca dan rekan-rekan semua. Akhir kata
semoga Allah SWT selalu memberikan yang terbaik bagi kita semua.
Makassar, 28 November 2010
Penyusun
DAFTAR
ISI
Kata Pengantar
………………………………………………………….. ii
Daftar isi
………………………………………………………………… iii
BAB I
PENDAHULUAN ……………………………………………. 1
A.
Latar
Belakang ……………………………………………. 1
B.
Rumusan
Masalah …………………………………………….
1
C.
Tujuan
…………………………………………………... 2
BAB II
PEMBAHASAN ……………………………………………. 3
1.
Defenisi Higiene
Industri
……………………………… 3
2.
Higiene Industri dalam
K3 ……………………………… 3
3.
Ruang Lingkup hygiene
Industri ……………………….. 4
4.
Potensi Bahaya Pada Lingkungan
Perusahaan / industry …… 7
5. Perbedaan Batasan Antara Higiene
Perusahaan dan Ilmu
Kesehatan
Kerja Dengan ilmu Kesmas ………………… 10
BAB III
PENUTUP …………………………………………………… 12
A.
Kesimpulan
…………………………………………………… 12
B.
Saran
…………………………………………………… 12
Daftar
Pustaka ………………………………………………………….. 13
BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Pembangunan industri dewasa ini
telah memberikan dampak positif bagi kekuatan ekonomi nasional yang ditandai
dengan terus bertambahnya berbagai jenis industridengan berbagai macam
produksinya. Kondisi ini secara otomatis membuka lapangan pekerjaan yang lebih
luas, yang pada akhirnya dapat meningkatkan kesejahteraan bagi para tenaga kerja
dan keluarganya.
Sampai saat ini, jumlah angkatan
kerja yang bekerjapada sektor-sektor industri baik industri pemerintah maupun
swasta, sektor formal maupun informal, semakin bertambah seiring dengan
perkembangan proses industrialisasi.
Akibat perkembangan industrialisasi,
maka diperkirakan kedepan akan terdapat dua wilayah pola penyakit di Indonesia
yang dapat mengenai tenaga kerja, yaitu penyakit infeksi yang memang akan terus
ada dan penyakit non infeksiyang disebabkan oleh non-living organisme atau
non-living contaminants seperti zat-zat kimia, debu, panas,logam-logam berat,
tekanan mental, perilaku hidup tidak sehat, dan lain-lain.
Beberapa jenis penyakit non infeksi
sebagai salah satu dampak industrialisasi antara lain : pneumokoniosis, penyakit
kanker, penyakit kardiovaskuler, keracunan zat-zat kimia/logam berat, ketulian
akibat bising, kecelakaan akibat kerja dan lain-lain. Semua dampak tersebut di
atas dengan mudah dapat terjadi apabila upaya-upaya perlindungan terhadap
tenaga kerja dan pembinaan/pengawasan lingkungan kerja tidak mendapatperhatian.
B.
Rumusan Masalah
Adapun yang menjadi rumusan masalah
dalam makalah ini adalah :
1.
Apa yang dimaksud dengan hygiene
industry ?
2.
Bagaimana hygiene industry dalam K3
?
3.
Apa saja ruang lingkup higiene
industry ?
4.
Seperti apakah potensi bahaya di
lingkungan perusahaan/industry ?
C.
Tujuan
1.
Pengertian higienen industry
2.
Higiene industry dalam K3
3.
Ruang lingkup higiene industry
4.
Potensi bahaya di lingkungan
perusahaan/industri
BAB
II
PEMBAHASAN
1. Pengertian Higiene Industri
Higiene industri didefinisikan sebagai ilmu dan seni dalam
melakukan antisipasi, rekognisi, evaluasi, dan pengendalian terhadap
faktor-faktor lingkungan atau stresses, yang timbul di atau dari tempat kerja,
yang bisa menyebabkan sakit, gangguan kesehatan dan kesejahteraan atau
ketidaknyamanan yang berarti bagi pekerja maupun warga masyarakat
Higiene
industri adalah Ilmu dan seni yang mencurahkan perhatian pada pengenalan,
evaluasi dan kontrol faktor lingkungan dan stress yang muncul di tempat kerja
yang mungkin menyebabkan kesakitan, gangguan kesehatan dan kesejahteraan atau
menimbulkan ketidaknyamanan pada tenaga kerja maupun lingkungan
2. Higiene Industri Dalam K3
Kesehatan kerja adalah ilmu dan profesi yang mempelajari
keterkaitan antara kesehatan dan pekerjan. Kesehatan yang kurang baik akan
dapat mengganggu produktivitas pekerjaan, dan pekerjaan dapat pula menimbulkan
terganggunya kesehatan. Karena peliknya permasalahan bidang ini tidak dapat
ditangani oleh satu pihak saja, misalnya oleh dokter saja atau oleh insinyur
saja. Bidang ini harus ditangani oleh berbagai disiplin ilmu, seperti: higene
industri, kedokteran kerja, ergonomi, sosial, hukum, psikologi dan lain-lain.
Paling sedikit ada tiga bidang ilmu besar yang mencakup kesehatan kerja secara
keseluruhan, yaitu: keselamatan (safety), higene industri dan kedokteran kerja.
Higene industri dapat dikatakan sebagai juru bicara antara disiplin keselamatan
dan disiplin kedokteran.
Higene
industri dapat dikatakan sebagai juru bicara antara profesi keselamatan dan
kedokteran. Bahasa higene industri mencakup kedua disiplin itu. Masalah rekayasa
yang sukar dikuasai oleh para dokter dapat dikomunikasikan dengan higenis
industri yang banyak barasal dari insinyur. Intervensi teknis akan mudah
dikomunikasikan dan dilakukan oleh higenis industri. Risk assessment
umumnya dikerjakan oleh para higenis industri.
3. Ruang Lingkup Higiene Industri
Ruang lingkup hygiene industry
merupakan sekuen atau urutan langkah atau metode dalam implementasi HI,dimana
urutan tidak bisa dibolak balik dan merupakan suatu siklus yang tidak berakhir
(selama aktivitas industry berjalan).Ruang lingkup hygiene industry terdiri
dari :
1)
Antisipasi
Antisipasi merupakan
kegiatan untuk memprediksi potensi bahaya dan risiko di tempat kerja. Tahap
awal dalam melakukan atau penerapan higiene industri di tempat kerja. Adapun
tujuan dari anntisipasi adalah :
- Mengetahui potensi bahaya dan risiko lebih dini sebelum muncul menjadi bahaya dan risiko yang nyata
- Mempersiapkan tindakan yang perlu sebelum suatu proses dijalankan atau suatu area dimasuki
- Meminimalisasi kemungkinan risiko yang terjadi pada saat suatu proses dijalankan atau suatu area dimasuki
Langkah-langkah dalam antisipasi
yaitu :
- Pengumpulan Informasi
· Melalui studi literature
· Mempelajari hasil penelitian
· Dokumen-dokumen perusahaan
· Survey lapangan
- Analisis dan diskusi
· Diskusi dengan pihak terkait yang kompeten
- Pembuatan Hasil
Yang dihasilkan dari melakukan
antisipasi adalah daftar potensi bahaya dan risiko yang
dapat dikelompokkan:
– Berdasarkan lokasi atau unit
– Berdasarkan kelompok pekerja
– Berdasarkan jenis potensi bahaya
– Berdasarkan tahapan proses
produksi dll
2)
Rekognisi
Rekognisis
merupakan serangkaian kegiatan untuk mengenali suatu bahaya lebih detil dan
lebih komprehensif dengan menggunakan suatu metode yang sistematis sehingga
dihasilkan suatu hasil yang objektif dan bias dipertanggung jawabkan. Di mana
dalam rekognisi ini kita melakukan pengenalan dan pengukuran untuk mendapatkan
informasi tentang konsentrasi, dosis, ukuran (partikel), jenis, kandungan atau
struktur, sifat, dll .
Adapun tujuan dari rekognisi adalah
:
- Mengetahui karakteristik suatu bahaya secara detil (sifat, kandungan, efek, severity, pola pajanan, besaran)
- Mengetahui sumber bahaya dan area yang berisiko
- Mengetahui pekerja yang berisiko
3)
Evaluasi
Pada tahap penilaian/evaluasi lingkungan, dilakukan pengukuran, pengambilan sampel
dan analisis di laboratorium. Melalui penilaian lingkungan dapat ditentukan
kondisi lingkungan kerja secara kuantitatif dan terinci, serta membandingkan
hasil pengukuran dan standar yang berlaku, sehingga dapat ditentukan perlu atau
tidaknya teknologi pengendalian, ada atau tidaknya korelasi kasus kecelakaan
dan penyakit akibat kerja dengan lingkungannya , serta sekaligus merupakan
dokumen data di tempat kerja.
Tujuan pengukuran dalam evaluasi
yaitu :
- Untuk mengetahui tingkat risiko
- Untuk mengetahui pajanan pada pekerja
- Untuk memenuhi peraturan (legal aspek)
- Untuk mengevaluasi program pengendalian yang sudah dilaksanakan
- Untuk memastikan apakah suatu area aman untuk dimasuki pekerja
- Mengetahui jenis dan besaran hazard secara lebih spesifik
4)
Pengontrolan
Ada 6 tingkatan Pengontrolan di
Tempat Kerja yang dapat dilakukan:
· Eliminasi : merupakan upaya menghilangkan bahaya dari
sumbernya serta menghentikan semua kegiatan pekerja di daerah yang berpotensi
bahaya.
· Substitusi : Modifikasi proses untuk mengurangi penyebaran
debu atau asap, dan
mengurangi bahaya, Pengendalian bahaya kesehatan kerja dengan mengubah beberapa
peralatan proses untuk mengurangi bahaya, mengubah kondisi fisik bahan baku yang diterima untuk diproses lebih lanjut agar dapat menghilangkan potensi bahayanya.
mengurangi bahaya, Pengendalian bahaya kesehatan kerja dengan mengubah beberapa
peralatan proses untuk mengurangi bahaya, mengubah kondisi fisik bahan baku yang diterima untuk diproses lebih lanjut agar dapat menghilangkan potensi bahayanya.
· Isolasi : Menghapus sumber paparan bahaya dari lingkungan
pekerja dengan menempatkannya di tempat lain atau menjauhkan lokasi kerja yang berbahaya
dari pekerja lainnya, dan sentralisasi kontrol kamar,
· Engineering control : Pengendalian bahaya dengan melakukan
modifikasi pada faktor lingkungan kerja selain pekerja
- Menghilangkan semua bahaya-bahaya yang ditimbulkan.,
- Mengurangi sumber bahaya dengan mengganti dengan bahan yang kurang berbahaya,
- Proses kerja ditempatkan terpisah,
- Menempatan ventilasi local/umum.
· Administrasi control: Pengendalian bahaya dengan melakukan
modifikasi pada interaksi pekerja dengan lingkungan kerja
- Pengaturan schedule kerja atau meminimalkan kontak pekerja dengan sumber bahaya
· Alat Pelindung Diri (APD), Ini merupakan langkah terakhir
dari hirarki pengendalian.
Jenis-jenis alat pelindung diri
Alat pelindung diri diklasifikasikan berdasarkan target organ tubuh yang berpotensi terkena resiko dari bahaya.
Jenis-jenis alat pelindung diri
Alat pelindung diri diklasifikasikan berdasarkan target organ tubuh yang berpotensi terkena resiko dari bahaya.
v Mata
Sumber bahaya: cipratan bahan kimia atau logam cair, debu, katalis powder, proyektil, gas, uap dan radiasi. APD: safety spectacles, goggle, faceshield, welding shield.
v Telinga
Sumber bahaya: suara dengan tingkat kebisingan lebih dari 85 dB.
APD: ear plug, ear muff, canal caps.
v Kepala
Sumber bahaya: tertimpa benda jatuh, terbentur benda keras, rambut terlilit benda berputar. APD: helmet, bump caps.
v Pernapasan
Sumber bahaya: debu, uap, gas, kekurangan oksigen (oxygen defiency).
APD: respirator, breathing apparatus
v Tubuh
Sumber bahaya: temperatur ekstrim, cuaca buruk, cipratan bahan kimia atau logam cair, semburan dari tekanan yang bocor, penetrasi benda tajam, dust terkontaminasi.
APD: boiler suits, chemical suits, vest, apron, full body suit, jacket.
v Tangan dan Lengan
Sumber bahaya: temperatur ekstrim, benda tajam, tertimpa benda berat, sengatan listrik, bahan kimia, infeksi kulit. APD: sarung tangan (gloves), armlets, mitts.
v Kaki
Sumber bahaya: lantai licin, lantai basah, benda tajam, benda jatuh, cipratan bahan kimia dan logam cair, aberasi. APD: safety shoes, safety boots, legging, spat.
4. Potensi bahaya di lingkungan
perusahaan/Industri
Faktor lingkungan kerja yang dapat
menimbulkan bahaya di tempat kerja(occupational health hazards) adalah bahaya
faktor fisika, bahaya faktor kimia, bahaya faktor biologi,faktor ergonomi dan
psikologi.
1. Bahaya Fisik :
Ø Kebisingan
Kebisingan
mempengaruhi kesehatan antara lain dapat menyebabkan kerusakan pada indera
pendengaran sampai kepada ketulian. Dari hasil penelitian diperoleh bukti bahwa
in tensitas bunyi yang dikategorikan bising dan yang mempengaruhi kesehatan
(pendengaran) adalah diatas 60 dB. Oleh sebab itu para karyawan yang bekerja di
pabrik dengan intensitas bunyi mesin diatas 60 dB maka harus dilengkapi dengan
alat pelindung (penyumbat) telinga guna mencegah gangguan pendengaran.
Disamping itu kebisingan juga dapat mengganggu komunikasi.Sumber Suara Skala
intensitas(dB) :
ü Halilintar 120 Kantor gaduh 70,
ü Meriam 110 Radio 60
ü Mesin uap 100 Kantor pd umumnya 40
ü Jalan yg ramai 90 Rumah tenang 30
ü Pluit 80 Tetesan air 10
Ø Penerangan atau pencahayaan
Penerangan
yang kurang di lingkungan kerja bukan saja akan menambah beban kerja karena
mengganggu pelaksanaan pekerjaan tetapi juga menimbulkan kesan kotor. Oleh
karena itu penerangan dalam lingkungan kerja harus cukup untuk menimbulkan
kesan yang higienis. Disamping itu cahaya yang cukup akan memungkinkan
pekerja dapat melihat objek yang dikerjakan dengan jelas dan menghindarkan dari
kesalahan kerja. Akibat dari kurangnya penerangan di lingkungan kerja akan
menyebabkan kelelahan fisik dan mental bagi para karyawan atau pekerjanya.
Gejala kelelahan fisik dan mental ini antara lain sakit kepala (pusing-pusing),
menurunnya kemampuan intelektual, menurunnya konsentrasi dan kecepatan
berpikir. Disamping itu kurangnya penerangan memaksa pekerja untuk mendekatkan
matanya ke objek guna memperbesar ukuran benda.
Untuk
mengurangi kelelahan akibat dari penerangan yang tidak cukup dikaitkan dengan
objek dan umur pekerja ini dapat dilakukan hal-hal sebagai berikut :
a.
Perbaikan kontras dimana warna objek
yang dikerjakan kontras dengan latar
belakang objek tersebut. Misalnya cat tembok di sekeliling tempat kerja harus
berwarna kontras dengan warna objek yang dikerjakan.
belakang objek tersebut. Misalnya cat tembok di sekeliling tempat kerja harus
berwarna kontras dengan warna objek yang dikerjakan.
b. Meningkatkan penerangan, sebaiknya 2
kali dari penerangan diluar tempat kerja.
Disamping itu di bagian-bagian tempat kerja perlu ditambah dengan dengan lampu-lampu tersendiri.
Disamping itu di bagian-bagian tempat kerja perlu ditambah dengan dengan lampu-lampu tersendiri.
c. Pengaturan tenaga kerja dalam shift
sesuai dengan umur masing-masing tenaga
kerja. Misalnya tenaga kerja yang sudah berumur diatas 50 tahun tidak diberikan tugas di malam hari.
kerja. Misalnya tenaga kerja yang sudah berumur diatas 50 tahun tidak diberikan tugas di malam hari.
Ø Getaran
Getaran
mempunyai parameter yang hampir sama dengan bising seperti: frekuensi,
amplitudo, lama pajanan dan apakah sifat getaran terus menerus atau
intermitten.Metode kerja dan ketrampilan memegang peranan penting dalam memberikan
efek yang berbahaya. Pekerjaan manual menggunakan “powered tool” berasosiasi
dengan gejala gangguan peredaran darah yang dikenal sebagai ” Raynaud’s
phenomenon ” atau ” vibration-induced white fingers”(VWF).
Peralatan
yang menimbulkan getaran juga dapat memberi efek negatif pada sistem saraf dan
sistem musculo-skeletal dengan mengurangi kekuatan cengkram dan sakit tulang
belakang.
2. Bahaya Kimia
Ø Korosi
Bahan
kimia yang bersifat korosif menyebabkan kerusakan pada permukaan tempat dimana
terjadi kontak. Kulit, mata dan sistem pencernaan adalah bagain tubuh yang
paling umum terkena. Contoh : konsentrat asam dan basa , fosfor.
Ø Iritasi
Iritasi menyebabkan peradangan pada
permukaan di tempat kontak. Iritasi kulit bisa menyebabkan reaksi seperti eksim
atau dermatitis. Iritasi pada alat-alat pernapasan yang hebat dapat menyebabkan
sesak napas, peradangan dan oedema ( bengkak )Contoh :
Kulit ( asam, basa,pelarut, minyak), Pernapasan : aldehydes, alkaline dusts, amonia, nitrogen dioxide, phosgene, chlorine ,bromine, ozone.
Kulit ( asam, basa,pelarut, minyak), Pernapasan : aldehydes, alkaline dusts, amonia, nitrogen dioxide, phosgene, chlorine ,bromine, ozone.
Ø Racun Sistemik
Racun sistemik adalah agen-agen yang
menyebabkan luka pada organ atau sistem tubuh. Contoh :
-
Otak : pelarut, lead,mercury,
manganese
-
Sistem syaraf peripheral :
n-hexane,lead,arsenic,carbon disulphide
-
Sistem pembentukan darah :
benzene,ethylene glycol ethers
-
Ginjal :
cadmium,lead,mercury,chlorinated hydrocarbons
-
Paru-paru : silica,asbestos, debu
batubara ( pneumoconiosis )
3. Faktor Biologi
Ø Bakteri.
Bakteri mempunyai tiga bentuk dasar
yaitu bulat (kokus), lengkung dan batang (basil). Banyak bakteri penyebab
penyakit timbul akibat kesehatan dan sanitasi yang buruk, makanan yang tidak
dimasak dan dipersiapkan dengan baik dan kontak dengan hewan atau orang yang
terinfeksi. Contoh penyakit yang diakibatkan oleh bakteri : anthrax, tbc,
lepra, tetanus, thypoid, cholera, dan sebagainya.
Ø Virus.
Virus mempunyai ukuran yang sangat
kecil antara 16 – 300 nano meter. Virus tidak mampu bereplikasi, untuk itu
virus harus menginfeksi sel inangnya yang khas. Contoh penyakit yang
diakibatkan oleh virus : influenza, varicella, hepatitis, HIV, dan sebagainya.
Ø Jamur.
Jamur dapat berupa sel tunggal atau
koloni, tetapi berbentuk lebih komplek karena berupa multi sel. Mengambil
makanan dan nutrisi dari jaringan yang mati dan hidup dari organisme atau hewan
lain.
4. Ergonomi
Ergonomi berfungsi untuk
menyerasikan alat, cara, proses dan lingkungan kerja terhadap kemampuan, kebolehan
dan batasan manusia untuk terwujudnya kondisi dan lingkungan kerja yang sehat,
aman, nyaman dan tercapai efisiensi yang setinggi-tingginya. Pendekatan
ergonomi bersifat konseptual dan kuratif, secara populer kedua pendekatan
tersebut dikenal sebagai “to fit the Job to the Man and to fit the Man to the
Job”. Adapun beberapa posisi yang penting untuk penerapan ergonomi di tempat
kerja adalah sebagai berikut :
a. Posisi berdiri : Ukuran tubuh yang
penting adalah tinggi badan berdiri, tinggi bahu, tinggi siku, tinggi pinggul,
panjang lengan.
b. Posisi duduk : Ukuran tubuh yang
penting adalah tinggi duduk, panjang lengan atas, panjang lengan bawah dan
tangan, jarak lekuk lutut dan garis punggung, serta jarak lekuk lutut dan
telapak kaki.
5. Faktor Psikologi
Perasaan aman, nyaman dan sejahtera
dalam bekerja yang didapatkan oleh pekerja. Hal ini dapat terjadi karena
lingkungan kerja (cahaya, ventilasi, posisi kerja) yang tidak menimbulkan stres
pada pekerja.
5. Perbedaan Batasan Antara Higiene
Perusahaan dan Ilmu Kesehatan Kerja Dengan ilmu Kesmas
Higiene
perusahaan dan kesehatan kerja sebagai satu kesatuan spesialisasi dalam ilmu
kesehatan masyarakat. Ilmu kesehatan kerja merupakan ilmu yang sangat luas
sehingga berbagai keahlian dari berbagai aspek pengetahuan terlibat di
dalamnya.
Kerjasama
yang erat dalam berbagai disiplin tersebut merupakan hal yang penting. Namun
demikian perlu diketahui bahwa kesehatan kerja merupakan cabang dalam ilmu
kesehatan masyarakat yang diterapkan untuk masyarakat pekerja. Antara kesehatan
masyarakat dan kesehatan kerja terdapat kesamaan yaitu, keduanya mempelajari
masalah-masalah kesehatan yang berhubungan dengan manusia serta lingkungan
fisik, biologi, kimia dan sosial secara umum. Namun perbedaannya terletak pada
kesehatan kerja mempelajari manusia dalam hubungannya dengan pekerjaan dan
lingkungan kerjanya, baik fisik maupun mental, sedangkan kesehatan masyarakat
mempelajari manusia dalam hubungannya dengan lingkungannya di luar tempat
kerja, serta mempelajari semua faktor-faktor yang berhubungan dengan pekerjaan,
metode kerja, kondisi kerja dan lingkungan kerja, yang mungkin dapat
menyebabkan penyakit kecelakaan atau gangguan kesehatan lainnyan, misalnay
bahaya-bahaya kimia dan fisik seperti infeksi dari debu, uap asam, gas-gas yang
terhirup, penyakit-penyakit yang disebabkan oleh bahan-bahan perangsang,
kesakitan akibat bising, silikasi akibat terhirup dan tersiram bahaya debu
silika bebas (SiO2) dalam paru-paru, kecelakaan akibat kerja yang terlalu lama
dan lain-lain.
Secara garis besar perbedaan antara
ilmu higiene perusahaan dan kesehatan kerja dengan ilmu kesehatan masyarakat
adalah
- Kesehatan Masyarakat tenaga kerja merupakan tujuan utama
- Yang diurusi biasanya tenaga kerja yang mudah didekati
- Ditandai dengan sangat efektifnya pemeriksaan kesehatan (Pemeriksaan kesehatan awal, berkala, & khusus)
- Yang dihadapi adalah lingkungan kerja sebagi sumber bahaya
- Terutama berujuan peningkatan produktivitas
- Dibiayai oleh perusahaan atau masyarakat tenaga kerja
- Perkembangan sangat pesat sesudah revolusi industry
- Perundang-undangan berada dalam ruang lingkup ketenagakerjaan • Kesehatan Masyarakat sebagai sasaran utama
- Mengurusi masyarakat yang kurang mudah didekati
- Sulit melaksanakan pemeriksaan kesehatan
- Lingkungan umum merupaka suatu problema pokok
- Tujuan utamanya adalah kesehatan dan kesejahteraan masyarakat, sedangkan aspek produktivitas hanya menonjol apabila terjadi wabah
- Perkembangan sangat cepat setelah kemajuan di bidang ilmu jasad-jasad renik
BAB
III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Higiene industri didefinisikan sebagai ilmu dan seni dalam
melakukan antisipasi, rekognisi, evaluasi, dan pengendalian terhadap faktor-faktor
lingkungan atau stresses, yang timbul di atau dari tempat kerja, yang bisa
menyebabkan sakit, gangguan kesehatan dan kesejahteraan atau ketidaknyamanan
yang berarti bagi pekerja maupun warga masyarakat. Higene industri dapat dikatakan sebagai juru bicara antara
profesi keselamatan dan kedokteran.Adapu ruang lingkup hygiene industry terdiri
dari antisipasi, rekognisi, evaluasi dan pengontrolan.Potensi bahaya yang
terdapat di lingkungan industry yaitu bahaya fisik, bahaya kimia, factor
biologi, ergonomic dan factor psikologi.
B. Saran
DAFTAR
PUSTAKA
Hendra._.Higiene Industri. Diakses
pada tanggal 27 November 2010 : staff.ui.ac.id/internal/ 132255817/
material/Sesi2-3BasicprincipleHIGIENEINDUSTRI.pdf
Lucian,Yanha.2010.Higiene Industri.
Diakses pada tanggal 28 November 2010 : http://yanhaluciyan.blogspot.com/2010/06/higiene-perusahaan.html
Pithaloka,dyah. 2010. Higiene Industri
. Diakses pada tanggal 27 November 2010 : http://dyahpithaloka.wordpress.com/2010/11/22/higiene-industri/
Yuli.2008.Higiene Industri. Diakses
pada tanggal 21 November 2010 : http://yoeli1971.blogspot.com/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar