“Protozoa” berarti “first animal”, suatu bentuk sederhana
kehidupan hewan
Dapat hidup bebas di laut, air tawar, atau tanah, atau
bersimbiosis , atau hidup di dalam organisme lain
Hidup protozoa bergantung pada nutrisi, suhu, pH dan
beberapa protozoa bergantung pula kepada cahaya
} Karakeristik
Protozoa
} Eukariot
unisel : 1 – 150 μm
} Tidak
memiliki dinding sel
} Kebanyakan
motile, ada flagela atau cilia, atau amoeboid
} Chemoheterotrophs
} Mirip
sifat hewan, tetapi unisel
} Aktivitas
makan dilakukan dengan cara fagositosis (memakan partikel) dan pinositosis
(meminum cairan atau nutrisi terlarut)
Sebagian besar protozoa bersifat parasit dan memiliki dua
bentuk
Dalam keadaan yang sesuai bentuknya adalah Tropozoit, jika
dalam keadaan ekstrim berbentuk Kista (cyst)
Beberap
a protozoa dikelompokkan sama dengan algae, atau fungi.
Misalnya Euglena, slime molds
Klasifikasi lama adalah berdasarkan
alat gerak nya:
} Sarcodina
(bergerak secara amoeboid) : Entamoeba histolytica
} Mastigophora
(ada flagela) : Trypanosoma brucei var.gambiense, Trichomonas vaginalis
} Ciliata
(ada cilia) : Balantidium coli
} Sporozoa
(tidak ada bentuk dewasanya) : Plasmodium, Toxoplasma
Klasifikasi baru (sejak 1986) berdasarkan struktur sel di
bawah elektron mikroskop :
- Phylum : Sarcomastigophora : Trypanosoma
Ø Sub-phylum
Mastigophora
Ø Sub-pyhlum
Opalinata
Ø Sub-pyhlum
Sarcodina
- Phylum : Labyrinthomorpha : Labyrinthula
- Phylum : Apicomplexa: Toxoplasma
- Phylum : Myxozoa : Ceratomyxa
- Phylum : Microspora :Encephalitozoon
- Phylum : Ascetospora : Marteilia
- Phylum : Ciliophora : Balantidium
PROTOZOA
} jasad
renik (mikro organisme) hewani, satu sel, hidup sendiri/ dalam bentuk koloni
} satu
kesatuan yang lengkap yang sanggup melakukan semua fungsi kehidupan
KELOMPOK PROTOZOA
} RHIZOPODA: Entamoeba hystolitica
} CILIATA:
Balantidium coli
} MASTIGOPHORA/
FLAGELLATA: Giardia lamblia
} SPOROZOA:
COCCIDIA: Isospora, cyclospora,
cryptosporidium
Amoeba komensal
} Entamoeba
diaspar - usus besar
} Entamoeba
coli - usus besar
} Entamoeba
hartmanni - usus besar
} Entamoeba
gingivalis - rongga mulut
} Endolimax
nana - usus besar
} Iodamoeba
butschlii - usus besar
} Dientamoeba
fragilis - usus besar
Morfologi mirip amoeba patogen, sering ditemukan
dalam pemeriksaan tinja.
} PATOLOGI
& KLINIS
} Cara
infeksi : tertelan kista infektif (inti
4)
} Bentuk
histolitika à
mukosa usus besar à
ulkus spt. botol
} Penyebaran
: - perkontinuitatum (langsung)
- melalui aliran darah ke hati,
paru-paru,
dinding abdomen, otak
} Amoebiasis
intestinal
◦
Akut à
tinja disentri : berlendir dan darah
◦
Kronis à
diare
} Amoebiasis
ekstra intestinal:
- abses hati, paru
dan otak
}
Giardia lamblia
Potential
menyebabkan waterborne (>>) dan foodborne
disease
Penyakit:
giardiasis Mempunyai 2 stadium: Trofozoit dan Kista
Habitat :
◦
Rongga usus kecil (duodenum, jeyenum proksimal)
◦
Kadang-kadang saluran dan kandung empedu.
Cara
infeksi : tertelan kista infektif (10- 100 kista)
Fecal-
oral transmisi
} Patologi
dan gejala klinik
Iritasi
membran mukosa Usus
Diare
berlemak (steatorrhoe) , bila tidak diobati dpt menjadi kronis
Kronis
: ditandai dgn steatorrhoea disertai
sindrom malabsorbsi dgn kehilangan BB dan lemah
Bisa
asimtomatik carrier
Pada
penderita HIV/AIDS dan kondisi immunokompromis lain, anak-anak yg menderita malnutrisi: -----
gejala lebih berat.
Prevalensi
2-25 %
Anak-anak
lebih sering
Transmisi
: tertelan kista matang, kontak langsung dgn individu terinfeksi (hand to
mouth), autoinfeksi (fecal–oral route)
Orang
dewasa: traveller’s diarrhea
Penderita
AIDS,homoseksual
Pencegahan
: higiene perorangan dan kelompok
Tetap
infeksious dalam wkt lama lbh 77 hari pada suhu dingin dan lembab
Resisten
thd klorin
Obat
: Metronidazol
Parasit penyebab
malaria (Plasmodium) :
- Plasmodium falciparum (malaria tropika)
- Plasmodium vivax (malaria tertiana)
- Plasmodium malarie (malaria kuartana)
- Plasmodium ovale (jarang, Indonesia Timur, Afrika )
- Plasmodium knowlesi
} Cara
infeksi:
-
Melalui gigitan nyamuk vektor (Anopheles betina
yang mengandung sporozoit)
-
Infeksi intra uterin (malaria kongenital)
-
Tranfusi
-
Menggunakan jarum suntik yang terkontaminasi
dengan Plasmodium
} Siklus
hidup Plasmodium
Pada manusia, daur hidup terjadi 2 fase
1. Di hati (fase jaringan/eksoeritrositik):
(i)
Pre-eritrositik/ekso-eritrositik primer ( 4
Spesies)
(ii)
Skizogoni eksoeritrositik Sekunder
(P. vivax dan
P. ovale), karena adanya stadium hipnozoit / dormant
Siklus hepar
hanya 1 kali
2. Eritrosit :
(i) Skizogoni
eritrositik (Pembentukan skizon)
(ii) Gametogoni
(Pembentukan gametosit)
Siklus erirosit
berulang kali
} Patologi
dan gejala klinis
} Proses
patologi malaria terjadi akibat proses
yang terjadi pdsiklus eritrositik.
} Gejala
klinis
Demam
Splenomegali
Anemia.
} TOXOPLASMOSIS
CAUSA : TOXOPLASMA GONDII
I.S : MAMALIA,UNGGAS
KUCING (i.s. UTAMA)
CARA PENULARAN
1. PERORAL : OOKISTA berspora
DAGING/JARINGAN
(KISTA, TAKIZOIT)
2. TRANSPLASENTAL (kongenital)
3. TRANSFUSI DARAH
4. LUKA TAKIZOIT
5. DLL.
Protozoa Urogenital
Trichomonas vaginalis
Trichomonas vaginalis
} Trichomonas
vaginalis
} Hospes
: manusia
} Penyakit
:
◦
Trikomoniasis vagina dan
◦
Prostatitis pada pria
} Distribusi
Geografik : kosmopolit
u TREMATODA USUS
- Fasciolopsis buski
- ECHINOSTOMATIDAE
- HETEROPHYIDAE
- Fasciolopsis buski
- Hospes : Manusia dan babi, juga anjing serta kelinci.
- Penyakit : fasiolopsiasis
- Penyebaran Geografik : RRC, Taiwan, Thailand, Vietnam, India dan Indonesia.
- Cara infeksi : memakan tumbuhan air yg mengandung metaserkaria tanpa dimasak dgn sempurna.
- Metaserkaria tumbuh menjadi cacing dewasa dalam waktu 25-30 hari.
- Telur ditemukan dalam tinja setelah 3 bulan.
- Patologi & Gejala Klinis
- Cacing melekatkan diri ke mukosa usus halus (duodenum, yeyenum) melalui batil isap perut.
- Cacing memakan isi usus dan mungkin mukosa superfisial sehingga terjadi daerah-daerah peradangan, ulserasi dan abses.
- Cacing dlm jml besar (menyebabkan sumbatan sehingga terjd Illeus akut)
- Gejala nyeri epigastrium, nausea dan diare, terutama waktu pagi.
- Pada infeksi berat terjadi intoksikasi dan sensitisasi à edema pada muka (halzoun), dinding perut (asistes) dan tungkai bawah
- Kematian terjadi karena merana (exhaustion) atau intoksikasi.
- Gejala klinis dini pada akhir masa inkubasi : diare diselingi konstipasi dan nyeri ulu hati (epigastrium).
- Diare >>> awalnya diselingi konstipasi >>> persisten >>> warna tinja mjd hijau kuning (busuk, sisa makanan yg tdk dicerna))
Diagnosis
u Di
daerah endemik à gejala klinis
u Telur
dalam tinja (diagnosis pasti)
Pengobatan
u Diklorofen
u Niklosamid
u Praziquantel
TREMATODA DARAHSCHISTOSOMA
u Schistosoma
japonicum
u Schistosoma
mansoni
u Schistosoma
haematobium
u Schistosoma
intercalatum
u Schistosoma
mekongi
u Schistosoma
binatang
Schistosoma
Penyakit : skistosomiasis= bilharziasis
¨ Patologi
dan Gejala Klinis
¨ Perubahan
yang terjadi disebabkan oleh 3 stadium cacing yaitu serkaria, cacing dewasa dan
telur.
¨ Perubahan-perubahan
pada skistosomiasis dibagi dalam 3 stadium:
1. Masa
tunas biologik
–
Gejala kulit dan alergi : eritema, papula
disertai rasa gatal dan panas hilang dalam 2-3 hari.
Gejala paru : batuk, kadang-kadang pengeluaran dahak yang
produktif
Gejala toksemia : timbul minggu ke-2 sampai ke-8 setelah
infeksi. Berat gejala tergantung jumlah serkaria yang masuk
Gejala berupa : lemah, malaise, tidak nafsu makan, mual dan
muntah. Diare disebabkan hipersensitif terhadap cacing
Hati dan limpa membesar dan nyeri raba
Diagnosis :
Menemukan telur dalam tinja, urin atau jaringan biopsi
Reaksi serologi
u Schistosoma
japonicum
u Hospes
: Manusia, kucing, anjing,rusa, tikus sawah (rattus), sapi, babi rusa dll.
u Penyakit
: Oriental schistosomiasis, skistosomiasis japonika, penyakit Katayama atau
penyakit demam keong.
u Penyebaran
geografis :
–
Di Indonesia hanya di Sultengà daerah D. Lindu dan
lembah Napu.
Patologi dan Gejala Klinis
Satdium I :
Gatal-gatal (urtikaria)
Gejala intoksikasi : demam hepatomegali dan eosinofilia
tinggi
Stadium II :
Sindroma disentri
Stadium III :
Sirosis hepatis dan splenomegali serta emasiasis
u Diagnosis
u Menemukan
telur dalam tinja atau jaringan biopsi
u Reaksi
serologi :
–
COPT (circumoral precipitin test)
–
IHT (Indirect haemagglutinination test)
–
CFT (complement fixation test)
–
FAT (Fluorescense antibody test)
–
ELISA(Enzyme linked immunosorbent assay)
u Schistosoma
mansoni
u Hospes
: Manusia dan kera babon di Afrika sbg hospes reservoir.
u Penyakit
: skistomiasis usus
u Patologi
dan gejala Klinis :
–
Seperti pada S. japonicum, tetapi lebih
ringan.
–
Splenomegali dapat jadi berat sekali.
TREMATODA
Cacing daun adalah cacing yang termasuk kelas Trematoda
filum Platyhelmintes dan hidup sebagai parasit.
Pada umumnya cacing ini bersifat hermafrodit kecuali cacing
Schistosoma.
Spesies yang merupakan parasit pada manusia termasuk
subkelas Digenea, yang hidup sebagai endoparasit
} Pada
dasarnya daur hidup trematoda ini melampui beberapa beberapa fase kehidupan
dimana dalam fase tersebut memerlukan hospes intermedier untuk perkembangannya.
} Fase
daur hidup tersebut adalah sebagai berikut:
Telur---meracidium---sporocyst---redia---cercaria—metacercaria---cacing
dewasa.
- Schistosoma
- Paragonimus
- Clonorchis
- Echinostoma
Hospes
Berbagai macam hewan dapat berperan sebagai hospes
definitive cacing trematoda, antara lain: kucing, anjing, kambing, sapi, tikus,
burung, musang, harimau dan manusia.
Menurut lokasi berparasitnya cacing trematoda dikelompokkan
sbagai berikut:
Trematoda pembuluh darah: Schistosoma haematobium, S.
mansoni, S. japonicum
Trematoda paru: Paragonimus westermani
Trematoda usus: Fasciolopsis buski, Echinostoma revolutum,
E. ilocanum
Trematoda hati: Clonorchis sinensis, Fasciola hepatica, F.
gigantica.
} Fasciola
hepatica
} Hospes
dan Nama penyakit
ü Hospes
cacing ini adalah kambing dan sapi.
ü Kadang-kadang
parasit ini ditemukan pada manusia. Penyakit yang ditimbulkan disebut
fasioliasis.
ü Cacing
ini termasuk cacing daun yang besar dengan ukuran 30 mm panjang dan 13 mm
lebar.
ü Daur
hidup Cacing hati terdiri dari
1. Fase seksual : di inang utama (saat cacing hati dewasa)
2. Fase aseksual : di inang perantara ( tubuh siput) dengan membelah diri terjadi saat larva. Larvanya berubah 3 kali di tubuh siput Lymnea . Urutan cyclusnya agar mudah sbb
Cyclusnya : T-M-S-R - C- MC
Telur - Mirasidium - Sporosis - Redia - Cercaria - MetaCercaria
Metacercaria berekor berenang ke tanaman sekitar air – dimakan Inang utama - masuk jadi Cacing Dewasa .
1. Fase seksual : di inang utama (saat cacing hati dewasa)
2. Fase aseksual : di inang perantara ( tubuh siput) dengan membelah diri terjadi saat larva. Larvanya berubah 3 kali di tubuh siput Lymnea . Urutan cyclusnya agar mudah sbb
Cyclusnya : T-M-S-R - C- MC
Telur - Mirasidium - Sporosis - Redia - Cercaria - MetaCercaria
Metacercaria berekor berenang ke tanaman sekitar air – dimakan Inang utama - masuk jadi Cacing Dewasa .
Patologi dan Gejala Klinis
Migrasi cacing dewasa muda ke saluran empedu menimbulkan
kerusakan parenkim hati.
Selama migrasi (face akut) dapat tidak bergejala atau
menimbulkan gejala seperti demam, nyeri pada bagian kanan atas abdomen,
hepatomegali, malaise, urtikaria, eosinofilia.
Saluran empedu mengalami peradangan, penebalan dan sumbatan,
sehingga menimbulkan sirosis periportal.
Sekresi prolin oleh cacing dewasa diduga menjadi penyebab
penebalan dinding saluran empedu. Migrasi cacing dewasa muda dapat terjadi di
luar hati(ektopik) seperti pada mata, kulit, paru, otak. Gejala yang timbul
tergantung pada organ tempat migrasi larva.
} Diagnosis
ditegakan dengan menemukan telur yang terbentuk khas dalam tinja atau dalam
cairan duodenum atau cairan empedu.
} Reaksi
serologi (ELISA) sangat membantu untuk menegakkan diagnosis.
} Imunodiagnosis
yang lebih sensitif dan spesifik-spesifik telah dikembangkan untuk mendeteksi
antigen ekskretori-sekretori yang dikeluarkan parasit.
} Ultrasonogafi
digunakan untuk menegakkan diagnosis fasioliasis bilier
Trematoda Paru
Paragonimus westerm
Paragonimus westerm
Pertama ditemukan berparasit pada harimau Bengali di kebon
binatang di Eropa tahun 1878.
Pada ddua tahun kemudian infeksi cacing ini pada manusia
dilaporkan di Formosa.Ditemukan cacing pada organ paru-paru, otak dan viscera
pada orang di Jepang, Korea dan Filipina.
Sekarang parasit ini telah menyebar ke India Barat, New
Guenia,, Salomon, Samoa, Afrika Barat, Peru, Colombia dan Venezuela.
Paragonimiasis termasuk dalam penyakit zoonosis.
Cacing dewasa panjangnya 7,5-12 mm dan lebar 4-6 mm berwarna
merah kecoklatan.
} Hospes
Manusia dan binatang pemakan ketam/udang batu seperti
kucing, anjing, musang, harimau, serigala dan lain-lain merupakan hospes
parasit ini.
} Diagnosis
dibuat dengan menemukan telur dalam sputum atau cairan pleura. Kadang-kadang
telur juga ditemukan dalam tinja. Reaksi serologi sangat membantu untuk
menegakkan diagnosis.
} Pengobatan
Prazikuantel dan bitionol adalah obat pilihan.
Prazikuantel dan bitionol adalah obat pilihan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar